Perundungan daring bukan sekadar candaan
Perundungan siber adalah tindakan menyakiti, merendahkan, mengucilkan, atau mempermalukan seseorang melalui media digital, termasuk unggahan, pesan, dan komentar di media sosial. Dampaknya tidak berhenti saat layar ditutup: rasa takut, malu, dan terasing dapat mengganggu kehidupan korban di sekolah maupun di rumah. Karena itu, anggapan bahwa tindakan tersebut hanya bercanda tidak layak dijadikan pembenaran. Kapolres Pekalongan AKBP Zamrul Aini menyampaikan pesan tentang masa depan, pergaulan, dan bahaya perundungan saat menjadi pembina upacara di SMP Negeri 1 Kajen pada 2 November 2026. Ia mengingatkan bahwa perundungan dapat berlangsung secara lisan, fisik, sosial, maupun melalui media sosial, dan semuanya patut ditanggapi serius.
Peringatan itu penting karena bullying media sosial bisa menyebar cepat dan membuat tekanan terhadap korban terasa terus-menerus. Siswa perlu memahami bahwa niat bercanda tidak menghapus dampak ketika teman merasa direndahkan atau disakiti. Batas yang sehat adalah menghentikan perilaku saat seseorang menunjukkan ketidaknyamanan, bukan menunggu masalah membesar.

Bijak bermedia sosial berarti berani menolak provokasi
Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol Herbin Garbawiyata Jaya mengingatkan siswa agar menggunakan media sosial dengan bijak dan tidak mudah terpengaruh berita bohong, perundungan siber, atau konten negatif yang dapat memicu perselisihan. Pesan ini sebaiknya dipahami sebagai keterampilan menjaga diri, bukan larangan untuk bergaul atau berekspresi. Sebelum membagikan unggahan atau ikut berkomentar, siswa perlu menimbang apakah informasi itu benar dan apakah tindakannya berpotensi mempermalukan orang lain.
Risiko daring juga dapat bersinggungan dengan tekanan kelompok di luar layar. Herbin mengingatkan siswa agar tidak terbawa ajakan yang mengarah pada tawuran dan menyebut keberanian menolak perbuatan melanggar hukum sebagai keberanian yang sesungguhnya. Sikap serupa diperlukan saat teman mendorong seseorang untuk ikut menyerang, menyebarkan hinaan, atau mengeroyok korban di ruang digital. Menolak ikut-ikutan bukan tanda lemah; itulah cara menghentikan konflik sebelum merugikan lebih banyak orang.
Kenali tanda dan respons dengan aman
Perundungan daring dapat terlihat dalam pesan yang berulang kali menghina, unggahan yang mempermalukan, pengucilan sengaja dari grup, atau ajakan orang lain untuk menyerang seseorang. Satu komentar mungkin tampak sepele, tetapi pola yang berulang dan membuat sasaran takut atau tertekan patut diperhatikan. Korban maupun saksi tidak perlu membalas dengan hinaan atau menyebarkan ulang konten tersebut; tindakan itu dapat memperluas paparan dan memicu perselisihan baru.
- Jangan ikut membalas atau meneruskan konten yang merendahkan. Simpan bukti yang relevan, seperti tangkapan layar dan waktu kejadian.
- Batasi kontak dengan pelaku melalui fitur blokir atau pelaporan pada platform, jika tersedia.
- Ceritakan kejadian kepada orang dewasa tepercaya, guru, atau pihak sekolah agar korban mendapat dukungan dan langkah berikutnya dapat dibahas.
- Jika ada ancaman keselamatan atau risiko konflik meluas, segera minta bantuan pihak sekolah atau kepolisian.
Langkah tersebut merupakan panduan kehati-hatian, bukan pengganti bantuan dari orang dewasa. Keamanan media sosial juga berarti menjaga privasi akun, memilih siapa yang dapat menghubungi kita, dan tidak membagikan informasi pribadi secara sembarangan. Korban tidak seharusnya dibebani untuk menyelesaikan perundungan sendirian.
Pencegahan perlu menjadi tanggung jawab bersama
Pencegahan perundungan tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan korban untuk bertahan. Siswa dapat membangun kebiasaan saling menghormati dan menjaga perasaan teman, sebagaimana pesan yang disampaikan AKBP Zamrul kepada para pelajar. Sekolah dan keluarga perlu menyediakan ruang aman agar siswa berani bercerita tanpa takut dipersalahkan. Teman sebaya pun bisa membantu dengan tidak memberi dukungan pada unggahan yang menyerang, serta mendampingi korban untuk mencari pertolongan.
Herbin menyatakan bahwa sinergi kepolisian, sekolah, guru, dan siswa diharapkan membantu mencegah tawuran, penyalahgunaan narkoba, serta perilaku lain yang dapat mengganggu masa depan generasi muda. Ia juga meminta siswa segera memberi tahu sekolah atau kepolisian bila mengetahui rencana tawuran agar dapat dicegah sejak dini. Prinsip yang sama berlaku untuk ancaman daring: sampaikan tanda bahaya kepada pihak tepercaya, jangan menunggu sampai konflik membesar. Media sosial akan lebih aman ketika pengguna berani menolak provokasi dan lingkungan sekolah menanggapi laporan dengan serius.






