Sinyal kuat untuk menahan laju MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah agenda pemerintah yang menyediakan makanan bergizi sekaligus diproyeksikan memberi dorongan bagi pertumbuhan ekonomi, sehingga keberhasilannya bergantung pada pelaksanaan dan hasil yang terukur. Dalam Survei Ahli Ekonomi Semester II 2026, LPEM FEB UI mencatat bahwa 54 persen ekonom setuju MBG dihentikan jika kebutuhan anggarannya meningkat signifikan. Angka itu bukan dukungan untuk menghentikan program dalam semua keadaan, melainkan peringatan agar perluasan tidak otomatis mengalahkan pertimbangan fiskal. Dari 63 responden, 73 persen memilih memperlambat perluasan dan 71 persen mendukung pengurangan jumlah penerima manfaat. Hanya 3 persen yang mendukung pelebaran defisit fiskal untuk menopang program. Pesan survei ekonom MBG ini jelas: ketika biaya pelaksanaan membengkak, banyak ekonom lebih memilih skala program disesuaikan daripada tekanan fiskal ditambah.
“Dari 63 responden, 73 persen memilih memperlambat perluasan program, 71 persen mendukung pengurangan jumlah penerima manfaat, dan 54 persen menyetujui penghentian MBG jika kebutuhan anggarannya meningkat signifikan.”

Kekhawatiran berpusat pada janji hasil
Alasan untuk menahan ambisi MBG bukan semata soal anggaran. Sebanyak 54 dari 63 ekonom, atau 86 persen, menilai program ini berisiko tidak memenuhi ekspektasi, terutama dalam ambisinya menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi. Ini menunjukkan jarak antara tujuan besar dan keyakinan bahwa pelaksanaan mampu menghasilkan dampak yang dijanjikan. Program gizi dan mesin pertumbuhan adalah dua tuntutan berbeda; survei menegaskan bahwa ekonom meragukan kemampuan MBG memenuhi ekspektasi ekonomi, bukan menyatakan bahwa manfaat gizi telah terbukti gagal. Pemerintah perlu membedakan klaim, sasaran, dan hasil yang benar-benar dapat diukur. Tanpa evaluasi program MBG yang menilai capaian secara menyeluruh, perdebatan berisiko terjebak antara pembelaan atas niat baik dan kekhawatiran mengenai biaya.
MBG ikut diuji oleh target ekonomi 8 persen
Kritik terhadap MBG tidak berdiri sendiri. Survei yang sama menempatkan MBG, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, dan target ekonomi 8 persen sebagai tiga agenda yang paling dikhawatirkan tidak mencapai ekspektasi. Sebanyak 43 ekonom, atau 68 persen responden, menilai target pertumbuhan 8 persen berisiko tidak terpenuhi. Konteks ini penting: ketika pemerintah mengandalkan program prioritas sebagai pendorong pertumbuhan, ekonom menilai bukan hanya tujuan sosialnya, tetapi juga apakah janji efek berganda bisa diwujudkan. MBG seharusnya tidak dinilai dari besarnya ambisi, melainkan dari bukti bahwa pelaksanaannya efektif dan selaras dengan kapasitas fiskal. Kekhawatiran terhadap target pertumbuhan memperkuat alasan untuk menguji klaim tersebut, bukan menjadikan MBG jawaban otomatis bagi persoalan ekonomi.
“Sebanyak 43 responden atau 68 persen menilai target pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen berisiko tidak terpenuhi.”
Survei bukan vonis atas dampak program
Angka-angka ini perlu dibaca sebagai persepsi dan preferensi 63 ekonom terhadap risiko pelaksanaan, bukan evaluasi menyeluruh atas dampak MBG. Survei tersebut tidak membuktikan program pasti gagal, tidak pula menjadi keputusan resmi untuk menghentikannya. Namun, 86 persen kekhawatiran terhadap pemenuhan ekspektasi dan dukungan luas untuk memperlambat perluasan menunjukkan bahwa keyakinan pada rancangan serta pelaksanaan program belum kuat di kalangan responden. Pemerintah semestinya memperlakukan sinyal ini sebagai alasan untuk menguji hasil dan menjaga disiplin fiskal, bukan sebagai referendum final. Kesimpulannya, masa depan MBG sebaiknya ditentukan oleh capaian yang dapat dinilai dan kemampuan program memenuhi tujuannya, bukan oleh ambisi pertumbuhan semata. Survei memberi peringatan yang layak ditanggapi, tetapi bukan pengganti evaluasi dampak yang lengkap.






