Riset yang Berangkat dari Pengalaman Muslim
Kesehatan mental Islam adalah kajian tentang kesejahteraan psikologis umat Muslim yang mempertimbangkan pengalaman, kebutuhan, dan hubungan mereka dengan keyakinan serta spiritualitas. Perspektif ini penting karena bantuan profesional akan lebih bermakna ketika pasien merasa nilai hidupnya dipahami. Pada 26 Oktober 2026, Founder ParagonCorp memberikan dukungan pendanaan kepada Stanford University melalui Paragon-Wardah Research Fund untuk menunjang Stanford Muslim Mental Health & Islamic Psychology Lab di Stanford School of Medicine. Laboratorium tersebut dipimpin Dr. Rania Awaad, profesor klinis psikiatri dan ilmu perilaku di Stanford. Fokusnya mencakup kebutuhan pasien Muslim, stigma yang menghambat pencarian bantuan profesional, serta kaitan kesehatan mental dan spiritualitas. Menurut Deputy CEO dan Chief of Research and Development ParagonCorp, dr. Sari Chairunnisa, harapannya adalah agar umat Muslim di Indonesia dan negara lain memperoleh layanan yang selaras dengan keyakinan mereka. Dukungan ini patut dilihat bukan sebagai pengganti terapi klinis, melainkan sebagai dorongan agar riset memahami siapa yang dilayani.

Jarak antara Kebutuhan dan Akses
Alasan riset ini mendesak terlihat dari kesenjangan antara banyaknya anak yang mengalami masalah dan sedikitnya yang mencari pertolongan. Survei Kesehatan Mental Remaja Nasional Indonesia pada 2022 menemukan sekitar satu dari tiga anak dan remaja berusia 10–17 tahun—sekitar 15,5 juta orang—mengalami masalah kesehatan mental dalam setahun sebelumnya. Namun, hanya 2,6 persen yang mencari bantuan atau mengakses konseling. Angka itu tidak membuktikan bahwa agama menjadi satu-satunya penghalang. Namun, riset laboratorium secara khusus menelaah stigma yang membuat sebagian orang enggan mencari bantuan profesional. Di sinilah riset psikoterapi spiritual dapat memberi sumbangan: membantu tenaga kesehatan memahami bagaimana keyakinan dan konteks sosial membentuk pengalaman pasien, tanpa menganggap semua Muslim memiliki kebutuhan yang sama. Kajian laboratorium juga meliputi psikologi Islam, perilaku bunuh diri, penggunaan zat berbahaya, serta kesehatan mental migran dan mahasiswa. Cakupan ini menegaskan bahwa layanan mental sesuai nilai membutuhkan pemahaman yang teliti, bukan asumsi seragam.
Spiritualitas sebagai Bagian dari Pemulihan
Bagi sebagian pasien, agama dapat menjadi sumber kekuatan selama pemulihan, tetapi dimensi itu belum selalu hadir dalam layanan yang mereka terima. Dr. Awaad menyatakan bahwa dukungan ini membantu laboratorium meneruskan penelitian dan pelatihan untuk mendukung komunitas yang menghadapi stigma, termasuk di Indonesia. Ini alasan kuat untuk mengembangkan intervensi berbasis iman secara hati-hati: keyakinan pasien perlu dihormati, bukan dipaksakan atau dipakai sebagai pengganti perawatan profesional. Pendanaan melalui Paragon-Wardah Research Fund mendukung misi laboratorium secara keseluruhan, sementara prioritas penelitian ditetapkan oleh laboratorium itu sendiri. Pengetahuan yang dihasilkan diharapkan membantu tenaga kesehatan, pendidik, dan pemuka agama memahami cara mendampingi komunitas Muslim. Langkah berikutnya bukan menganggap satu pendekatan cocok bagi semua orang, melainkan memastikan kebutuhan pasien menjadi dasar pengembangan layanan. Kesimpulannya, riset kesehatan mental Islam layak didukung karena membuka ruang bagi pertolongan yang lebih peka terhadap nilai spiritual sekaligus tetap berakar pada pemahaman klinis.






