Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mental Block Bukanlah Kenyataan: Menantang Keyakinan Negatif Diri

Mental Block Bukanlah Kenyataan: Menantang Keyakinan Negatif Diri
Minat|Kesehatan Mental

Mental Block Negatif: Bukan Fakta, Melainkan Cerita yang Kita Percaya

Mental block negatif adalah kondisi ketika seseorang merasa terhambat mengambil keputusan atau bertindak karena keyakinan negatif diri yang dibentuk oleh pengalaman dan emosi, sehingga apa yang dirasakan tentang harga diri atau kemampuan tampak lebih kuat daripada fakta objektif yang sebenarnya mendukung bahwa dirinya berharga dan mampu. Benturan antara apa yang diketahui dan apa yang dirasakan tersebut kerap membuat seseorang terjebak dalam mental block. Di sinilah kesalahpahaman terbesar terjadi: kita mengira perasaan "tidak cukup" adalah kebenaran mutlak, padahal ia hanyalah kesimpulan emosional yang sering lahir dari masa lalu, bukan cermin akurat tentang diri hari ini. Jika pola ini tidak disadari, seseorang dapat mengetahui secara rasional bahwa dirinya berharga, tetapi pengalaman masa lalu dapat membentuk keyakinan yang justru membuatnya merasa sebaliknya.

Penjelasan Psikiater: Mengapa Kita Tetap Merasa "Tidak Cukup"

Psikiater dr. Jiemi Ardian menjelaskan bahwa manusia tidak sepenuhnya mengambil keputusan berdasarkan logika. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa manusia pada dasarnya lebih dulu digerakkan oleh emosi sebelum menggunakan pikirannya untuk mencari alasan. Artinya, ketika kita terjebak dalam mental block negatif, otak sedang bekerja dengan mode emosional sebagai pengemudi utama. Menurutnya, pengetahuan dan perasaan tidak selalu berjalan beriringan; seseorang dapat mengetahui secara rasional bahwa dirinya berharga, tetapi pengalaman masa lalu dapat membentuk keyakinan yang justru membuatnya merasa sebaliknya. Otak cenderung menghubungkan berbagai hal dan menambahkan makna emosional pada sebuah fakta. Misalnya, ketika seseorang merasa orang tuanya tidak menginginkannya, fakta tersebut dapat berkembang menjadi kesimpulan bahwa dirinya tidak berharga. Keyakinan yang terbentuk dari proses tersebut kemudian dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri maupun mengambil keputusan.

Topeng Emosi: Peran yang Adaptif vs Pelarian yang Merusak

Dalam kehidupan dewasa, kita sering memakai "topeng" agar mampu menjalankan peran sosial dan profesional. Menjadi dewasa tidak selalu berarti seseorang harus menunjukkan seluruh perasaannya dalam setiap situasi; ada kalanya seseorang perlu menyesuaikan diri dengan peran yang sedang dijalankan tanpa berarti menjadi pribadi yang palsu. Psikiater Dr. Andreas menegaskan bahwa topeng yang digunakan seseorang dalam kehidupan sosial tidak selalu berarti kepalsuan. Ini adalah bentuk peran adaptif: misalnya, seseorang yang sedang berduka tetapi tetap harus menjalankan tanggung jawab pekerjaan; perasaan sedih tetap valid, namun ia memilih hadir sebagai karyawan atau profesional. Di sisi lain, topeng menjadi merusak ketika dipakai terlalu tebal. Ia juga mengingatkan agar topeng yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari tidak terlalu tebal; semakin tipis topeng yang digunakan, seseorang cenderung merasa lebih aman dan nyaman ketika berinteraksi dengan orang lain. Di titik ini, kejujuran emosional dan kesadaran diri menjadi penentu apakah topeng adalah alat adaptasi, atau benteng yang menumpuk mental block negatif.

Refleksi Diri: Langkah Awal Membongkar Keyakinan Negatif Diri

Jika mental block negatif lahir dari keyakinan yang tidak diuji, maka pintu keluar pertamanya adalah refleksi yang jujur. Dr. Andreas menyarankan seseorang rutin melakukan check in terhadap dirinya sendiri untuk memahami apa yang sedang dipikirkan, dirasakan, dan ingin dilakukan. Refleksi tidak harus selalu menghasilkan pikiran positif; seseorang justru perlu melihat kembali kejadian yang dialami secara lebih netral agar dapat memahami sumber rasa kesal, kecewa, atau tidak nyaman yang muncul. Kebiasaan tersebut dapat membantu seseorang mengambil jarak dari emosinya sebelum menentukan respons. Dengan begitu, seseorang tidak hanya bereaksi terhadap keadaan, tetapi juga memahami alasan di balik respons tersebut. Dalam konteks keyakinan negatif diri, jarak ini penting untuk menyadari bahwa "saya tidak berharga" bukanlah fakta, melainkan kesimpulan yang boleh dipertanyakan, direvisi, dan diganti dengan cara pandang yang lebih selaras dengan kenyataan.

Menjadi Dewasa Secara Emosional: Mengakui Emosi, Menolak Dikuasai Mental Block

Menjadi dewasa adalah proses belajar mengakui emosi tanpa menjadikan emosi sebagai satu-satunya sumber kebenaran tentang diri. Dr. Andreas menilai menjadi dewasa merupakan proses yang membutuhkan latihan, karena sekolah tidak selalu mengajarkan keterampilan yang dibutuhkan seseorang ketika menghadapi tanggung jawab, relasi, komunikasi, dan empati dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, psikiater seperti dr. Jiemi Ardian mengingatkan bahwa kita adalah makhluk emosional yang berpikir, bukan makhluk rasional yang merasa. Mengambil pelajaran dari dua perspektif ini, menjadi dewasa secara emosional berarti: mengizinkan diri memakai topeng sebagai peran, sambil tetap sadar kapan harus melepasnya; mengakui luka masa lalu, sambil menolak menjadikannya definisi final tentang nilai diri. Mental block negatif pada akhirnya bukan vonis, melainkan ajakan untuk mengoreksi cerita yang terlalu lama kita percayai tentang diri kita sendiri.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!