Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kesehatan Mental Pemuda: Bekal Menghadapi Dunia Digital

Kesehatan Mental Pemuda: Bekal Menghadapi Dunia Digital
Minat|Kesehatan Mental

Kesehatan mental adalah bagian dari kesiapan hidup

Kesehatan mental pemuda adalah kondisi kesejahteraan psikologis yang membantu anak muda mengelola tekanan, mengembangkan potensi, menjalin hubungan, dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, persoalan ini tidak patut dipisahkan dari pendidikan, pekerjaan, maupun pembangunan.

Pada 29 Oktober 2026, Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menyoroti tantangan generasi muda dalam acara Indonesia Youth Summit di Jakarta Pusat. Ia menyebut kesempatan kerja, pendidikan, kesehatan mental, dan kualitas informasi sebagai persoalan yang membutuhkan perhatian serta kolaborasi. Erick juga menyampaikan bahwa satu dari lima anak muda di dunia tidak bersekolah, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan; sementara satu dari tujuh remaja di dunia hidup dengan gangguan kesehatan mental. Angka-angka itu mengingatkan bahwa tekanan psikologis bukan isu pinggiran. Respons yang hanya menuntut anak muda agar lebih kuat, tanpa membuka akses pendidikan, peluang, dan dukungan, tidak akan cukup.

Erick menekankan pentingnya mendengar suara anak muda. Itu seharusnya menjadi prinsip kerja, bukan sekadar seruan: kebijakan dan layanan akan lebih tepat bila pemuda ikut menjelaskan kebutuhan serta hambatan yang mereka hadapi.

Kesehatan Mental Pemuda: Bekal Menghadapi Dunia Digital

Tekanan digital terasa dalam kehidupan sehari-hari

Psikolog klinis RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado, Hanna Monareh, mengingatkan bahwa perkembangan teknologi dan perubahan sosial menghadirkan tantangan baru bagi kesehatan mental anak muda. Media sosial dapat mengubah perbandingan sosial menjadi kebiasaan: seseorang melihat pencapaian orang lain, lalu mengukur harga dirinya dengan potongan kehidupan yang tampil di layar. Dampaknya bisa berupa kecemasan, kelelahan mental, dan perasaan tidak layak, bahkan ketika ia sendiri telah meraih prestasi.

Tekanan itu tidak berhenti pada layar. Perubahan dunia kerja dan ketidakpastian karier menambah beban, sementara pendidikan dan pilihan masa depan kerap terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir. Inilah tantangan era digital yang perlu dihadapi dengan lebih dari sekadar imbauan untuk membatasi waktu daring. Anak muda perlu dukungan untuk mengenali tekanan, menilai informasi dengan kritis, dan menjaga relasi di luar media sosial. Keluarga, sekolah, dan komunitas juga perlu menciptakan ruang aman untuk berbicara tanpa menghakimi.

Kesadaran tentang kesehatan mental memang penting, tetapi kesadaran saja tidak otomatis memberi keterampilan menghadapi masalah. Jika tekanan mulai mengganggu kegiatan sehari-hari, mencari bantuan profesional adalah langkah yang tepat, bukan tanda kelemahan.

Regulasi emosi dan resiliensi perlu dilatih

Dukungan bagi pemuda sebaiknya memberi tempat utama bagi regulasi emosi pemuda dan resiliensi generasi muda. Regulasi emosi bukan berarti menekan perasaan atau berpura-pura baik-baik saja. Artinya, seseorang belajar mengenali apa yang dirasakan, memberi jeda sebelum bereaksi, lalu memilih tindakan yang tidak memperburuk keadaan. Keterampilan ini membantu pengambilan keputusan yang lebih sehat, terutama ketika kecemasan, konflik, atau kekecewaan sedang kuat.

Resiliensi berarti kemampuan untuk bangkit setelah kegagalan dan beradaptasi saat keadaan berubah, bukan kewajiban untuk menanggung semuanya sendiri. Hanna Monareh menilai kedua kemampuan ini penting agar pemuda dapat menghadapi tekanan, menerima kekurangan, dan membangun hubungan sosial yang lebih positif. Sekolah dan komunitas dapat mendukungnya melalui pendidikan keterampilan emosional, percakapan terbuka, dan akses konseling yang mudah dijangkau. Bantuan profesional juga penting ketika masalah psikologis mengganggu fungsi sehari-hari; diagnosis mandiri dari konten daring tidak dapat menggantikan penilaian yang tepat.

Kesehatan mental yang terjaga bukan hanya urusan individu. Jika pemuda diharapkan berkontribusi dan berinovasi, dukungan psikologis perlu menjadi bagian nyata dari ekosistem pendidikan dan kepemudaan.

Dari seruan menjadi komitmen bersama

Peringatan tentang kesehatan mental akan kehilangan makna jika berhenti pada kampanye sesaat. Semangat Sumpah Pemuda perlu diterjemahkan menjadi komitmen untuk saling menguatkan secara mental, sebagaimana diharapkan Hanna Monareh. Bagi keluarga, itu berarti mendengar tanpa buru-buru menghakimi. Bagi sekolah dan komunitas, itu berarti menyediakan ruang aman serta mengarahkan pemuda ke bantuan profesional ketika dibutuhkan. Bagi pembuat kebijakan, itu berarti melibatkan suara anak muda sekaligus memperhatikan keterkaitan antara pendidikan, kesempatan kerja, informasi, dan kesejahteraan psikologis.

Tidak semua tekanan dapat dihilangkan, tetapi pemuda tidak seharusnya menghadapinya sendirian. Regulasi emosi dan resiliensi layak menjadi fokus dukungan karena keduanya memberi bekal praktis untuk menghadapi perubahan tanpa kehilangan harapan. Pada akhirnya, generasi muda yang tangguh bukanlah generasi yang tidak pernah kesulitan, melainkan generasi yang mampu mencari bantuan, pulih dari kegagalan, dan tumbuh dengan dukungan yang memadai.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!