Hunian layak sebagai kebutuhan dasar
Bantuan rumah layak adalah dukungan terencana untuk memperbaiki atau menyediakan hunian yang aman dan memadai bagi keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan tempat tinggal. Di Desa Campurejo, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, pendekatan kolaboratif membuat bantuan itu dapat menjangkau warga lebih luas daripada yang sanggup ditanggung satu sumber anggaran.
Pemkab Gresik merancang program rumah layak huni selama empat tahun. Tahap pertama berfokus pada RW 09, tempat rumah yang terlalu padat dan keluarga yang tinggal di lahan milik desa menjadi persoalan utama. Pengerjaan 145 rumah ditargetkan selesai pada Mei 2026[.
Angka itu penting, tetapi kebutuhan di lapangan melampaui perbaikan bangunan. Kawasan kumuh telah teridentifikasi di RW 01, RW 03, RW 04, dan RW 09, dengan total 474 keluarga. Banyak rumah tangga juga menghadapi keterbatasan akses terhadap air bersih yang dikelola secara aman serta persoalan pengelolaan air limbah.
Kemitraan menutup celah pendanaan
Kolaborasi menjadi kekuatan utama program ini, bukan sekadar pelengkap. Dana Alokasi Khusus digunakan untuk penyediaan hunian, tetapi keterbatasan anggaran membuat 21 rumah membutuhkan dukungan tambahan. Pemkab Gresik menggandeng Habitat for Humanity Indonesia untuk membantu menjembatani kebutuhan tersebut.
Habitat kemudian berkolaborasi dengan sejumlah mitra, termasuk Trilliun Group. Perusahaan itu menyalurkan produk pipa, perlengkapan saluran air, dan sanitasi untuk mendukung hunian yang lebih layak. Pembagian peran seperti ini masuk akal: pemerintah mengatur program dan sasaran, sementara mitra membantu menutup kekurangan sumber daya serta memasok kebutuhan tertentu.
Kepala Desa Campurejo Amudi menyebut, “Ada banyak warga yang sebelumnya tinggal di area tanah milik desa hingga terlalu padat. Satu rumah bisa dihuni dua hingga tiga kepala keluarga di RT 31–32 RW 09”. Kondisi itu menunjukkan mengapa renovasi rumah warga perlu dirancang berdasarkan masalah setempat, bukan hanya jumlah unit yang selesai dibangun.
Hasil harus terasa dalam kehidupan sehari-hari
Pengerjaan 145 rumah yang direncanakan selesai pada Mei 2026 memberi ratusan warga Campurejo harapan untuk tinggal di hunian yang lebih layak. Namun ukuran keberhasilan seharusnya tidak berhenti pada bangunan yang rampung. Akses air bersih, sanitasi, dan pengelolaan air limbah juga menentukan apakah rumah baru benar-benar mendukung kesehatan dan kenyamanan keluarga.
Pengalaman dari program perumahan lain memperlihatkan nilai pendekatan yang menyatukan kebutuhan dasar. Di Desa Kendalrejo, Jawa Tengah, bantuan rehabilitasi membuat rumah Rusmiyati kembali layak ditempati setelah sebelumnya kerap kemasukan banjir hingga setinggi lutut; ia mengatakan keluarganya sangat terbantu. Contoh ini bukan hasil program Campurejo, tetapi mengingatkan bahwa perbaikan hunian dapat mengubah keseharian warga secara langsung.
Program Kendalrejo juga memadukan perbaikan rumah dengan sanitasi, listrik, dan penguatan ekonomi. Pemerintah provinsi memperbaiki 13 rumah dengan anggaran Rp260 juta, sedangkan Baznas merehabilitasi lima rumah senilai Rp100 juta. Pelajarannya jelas: bantuan rumah layak akan lebih bermakna bila pemerintah dan mitra memastikan dukungan sesuai kebutuhan, lalu menjaga tindak lanjutnya.

Kolaborasi perlu berlanjut setelah pembangunan
Program empat tahun Pemkab Gresik memberi ruang untuk memperluas penanganan secara bertahap, tetapi kesinambungan dan ketepatan sasaran akan menentukan dampak jangka panjangnya. Data tentang 474 keluarga di sejumlah kawasan kumuh menegaskan bahwa 145 rumah merupakan kemajuan penting, bukan alasan untuk menganggap seluruh kebutuhan sudah terpenuhi.
Pemerintah daerah perlu terus memantau kondisi rumah dan lingkungan, sementara mitra dapat membantu mengisi celah yang tidak tercakup anggaran. Warga pun perlu dilibatkan agar prioritas seperti air bersih dan sanitasi tidak tertinggal dari perbaikan fisik. Pola kerja bersama yang dibangun di Campurejo patut dipertahankan, dengan hasil yang diukur dari kualitas hidup keluarga, bukan hanya jumlah unit.
Kesimpulannya, kolaborasi Pemkab Gresik, Habitat Indonesia, Trilliun, dan pihak lain membuat program rumah layak huni lebih mampu menjangkau warga Campurejo. Keberhasilan akhirnya bergantung pada kesinambungan bantuan dan perhatian pada kebutuhan dasar di sekitar rumah. Hunian yang layak bukan sekadar atap baru, melainkan fondasi kehidupan yang lebih aman dan sehat.






