KuybeliKuybeli

Batik dan Ulos Menguasai Penutupan Fashion Week: Warisan Tekstil Naik Kelas Global

Batik dan Ulos Menguasai Penutupan Fashion Week: Warisan Tekstil Naik Kelas Global
Minat|Rilis Tren

Tekstil tradisional naik kelas: dari wastra lokal ke tren global

Indonesia Fashion Week adalah pergelaran pekan mode lima hari yang mempertemukan desainer tekstil lokal dan pelaku UMKM dalam sebuah panggung besar, menjadikan batik tradisional modern dan wastra seperti ulos bukan sekadar busana, melainkan medium bercerita tentang identitas, pemberdayaan, dan posisi baru warisan budaya fashion di kancah internasional. Pada edisi kali ini, pesannya jelas: tekstil tradisional bukan lagi aksesori eksotis yang ditempel demi unsur lokal, tetapi sumber ide utama yang mengarahkan estetika kontemporer. Ketika event resmi ditutup dengan tema Ulos Simetria, terasa bahwa panggung ini sengaja dikurasi untuk memposisikan wastra Nusantara sebagai tren, bukan tren ikut-ikutan. Itu sikap yang berani, karena menantang logika fashion global yang sering menggilas konteks budaya demi kecepatan pasar.

Batik dan Ulos Menguasai Penutupan Fashion Week: Warisan Tekstil Naik Kelas Global

Batik Marunda: Betawi, pemberdayaan perempuan, dan wajah baru urban chic

Koleksi Batik Marunda karya Irma Dharma Sinurat di hari kedua IFW di Plenary Hall Jakarta International Convention Center menunjukkan bagaimana batik tradisional modern bisa menyentuh isu sosial tanpa kehilangan daya jual estetis. Mengangkat tema "Sampir Jakarta", Irma memakai simbol kain yang disampirkan di bahu sebagai metafora keterbukaan kota yang memberi ruang setiap orang untuk datang dan tumbuh. Di balik motif flora, fauna, seni, dan landmark yang menggambarkan identitas Jakarta, ada keputusan politis: melibatkan perempuan penghuni Rusunawa Marunda yang sebelumnya mengikuti pelatihan membatik tulis dalam program pemberdayaan. Di sini fashion tidak sekadar pelestarian motif, tetapi alat redistribusi kesempatan. Batik Marunda membuktikan bahwa desainer tekstil lokal dapat menggabungkan budaya Betawi, potensi ekonomi, dan estetika urban yang relevan untuk panggung fashion week.

Batik dan Ulos Menguasai Penutupan Fashion Week: Warisan Tekstil Naik Kelas Global

Ulos Simetria: penutupan megah yang mengukuhkan identitas wastra

Menjadikan Ulos Simetria sebagai signature penutupan BTN Indonesia Fashion Week adalah pernyataan lantang bahwa ulos layak duduk di kelas adibusana global. Kreasi ulos di panggung ini merangkai tenun tradisional Sumatra Utara—songket, tenun ikat, dobel lungsi, sirat, hingga marsimata—ke dalam siluet dinamis dengan pewarnaan alami bernuansa pastel dan soft color. Hasilnya bukan kostum folklor, melainkan rancangan yang dekat dengan selera generasi muda tanpa memutus akar budaya. Lebih dari 200 desainer, 500 tenant jenama fesyen dan UMKM, 4.000 pekerja kreatif, serta 35.000 pengunjung dan transaksi lebih dari 10 miliar rupiah selama lima hari menunjukkan ekosistem yang serius. Kutipan yang layak dicatat: "Ulos sebagai inspirasi utama BTN Indonesia Fashion Week telah lama dikenal sebagai wastra ikonis Sumatra Utara", menegaskan bahwa identitas lokal menjadi pusat narasi, bukan dekorasi.

Riana Kesuma: haute couture yang menafsir ulang Jakarta melalui kembang sepatu

Di jalur batik adibusana, Riana Kesuma menghadirkan "Jakarta: Heritage in Bloom" sebagai tafsir puitis atas kota yang padat namun tetap berakar. Motif kembang sepatu dipilih bukan hanya karena indah, melainkan sebagai simbol ketangguhan dan harapan warga Jakarta yang tumbuh di sela beton. Riana memadukan filosofi bunga itu dengan ornamen Betawi seperti Pucuk Rebung atau Tumpal Pasung, yang diambil dari arsitektur Rumah Betawi dan melambangkan pertumbuhan, aturan, serta penghormatan pada sejarah. Elemen Monumen Nasional ikut disematkan sebagai tanda persatuan dan keteguhan bangsa. Semua itu dirajut dalam batik tradisional modern dengan permainan warna cerah, menjadikan haute couture bukan ruang abstrak, tetapi kanvas narasi kota. Koleksi ini membantah anggapan bahwa warisan budaya fashion tidak bisa berdialog dengan bentuk couture yang biasanya elit dan jauh dari akar komunitas.

Lima hari IFW: saat wastra tradisional diposisikan sebagai bahasa fashion global

Rentang 29 Juli hingga 2 Agustus digunakan BTN Indonesia Fashion Week sebagai laboratorium hidup tradisi dan inovasi, memperlihatkan bahwa batik dan ulos dapat memimpin, bukan mengekor tren dunia. Dengan agenda fashion show, pameran dagang, talkshow, forum kreatif, hiburan, dan kuliner, gelaran ini jelas tidak netral: ia memihak pada warisan budaya fashion sebagai aset masa depan, bukan beban masa lalu. Poppy Dharsono menegaskan lewat tema Ulos Simetria bahwa kemajuan harus berjalan bersama pelestarian nilai budaya; tradisi dan inovasi adalah dua kekuatan yang saling melengkapi. Ketika desainer tekstil lokal seperti Irma Dharma Sinurat dan Riana Kesuma mengusung cerita Betawi, sementara penutupan mengangkat ulos sebagai ikon wastra Sumatra Utara, kita melihat satu pola: fashion week dipakai untuk mendefinisikan ulang parameter "keren" di panggung internasional. Kesimpulannya, kalau dunia mode ingin masa depan yang berkarakter, rujukannya akan datang dari kain-kain yang sudah berumur ratusan tahun.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!