Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Bali Fashion Week Perkuat Ekonomi Kreatif Tekstil Tradisional

Bali Fashion Week Perkuat Ekonomi Kreatif Tekstil Tradisional
Minat|Rilis Tren

Bali Fashion Week: Panggung Ekonomi Kreatif Berbasis Wastra

Bali Fashion Week adalah rangkaian kegiatan fesyen yang diinisiasi Dekranasda untuk mengangkat tekstil tradisional, desainer lokal, dan pelaku ekonomi kreatif melalui fashion show, pameran tematik, serta bazar produk lokal yang terintegrasi dalam satu ekosistem budaya dan bisnis yang saling menguatkan. Di balik gemerlap Bali Fashion Week 2025, pesan terpentingnya jelas: pemerintah daerah tidak lagi memandang fesyen sebagai hiburan semata, melainkan sebagai strategi ekonomi kreatif Bali yang serius. Pembukaan resmi Dekranasda Bali Fashion Week (DBFW) 2025 oleh Gubernur Wayan Koster dengan “antusias dan penuh apresiasi” menunjukkan bahwa wastra, kuliner, dan florikultura kini diposisikan sebagai mata rantai ekonomi rakyat, bukan sekadar pelengkap acara seremonial. Ini langkah politik kebudayaan yang patut dibaca sebagai keberpihakan nyata pada tekstil tradisional endek dan perajin lokal.

Bali Fashion Parade di Kertha Sabha: Endek Naik Kelas di Rumah Sendiri

Bali Fashion Parade 2025 di Gedung Kertha Sabha menjadi bukti bahwa kain tenun tradisional endek punya panggung terhormat di rumahnya sendiri. Melibatkan enam desainer Bali—Taksu, Basudewa, Lusi Damai, Kwace Bali, Ipong, serta Body & Mind—dan didukung 21 model lokal, parade ini bukan hanya ajang estetika, tetapi pernyataan politik ekonomi kreatif Bali: pasar utama mereka adalah masyarakat Bali, dengan produk yang berakar pada budaya lokal namun bermental modern. Menurut Gubernur Koster, kegiatan yang melibatkan desainer, model, dan kain lokal adalah “warna baru bagi upaya perputaran ekonomi yang lebih baik untuk Bali” dan wajib didorong agar lebih intens. Sikap ini penting: tanpa dukungan pemerintah, acara seperti ini mudah berhenti di level hobi komunitas, bukan menjadi motor ekonomi kreatif fesyen yang berkelanjutan.

Festival Terintegrasi: Fashion, Anggrek, dan Kuliner sebagai Strategi Holistik

Keunggulan Bali Fashion Week 2025 justru terletak pada cara pemerintah menggabungkan tiga unsur lokal dalam satu festival terintegrasi: DBFW 2025 Session 1, Festival Anggrek Kem-Bali 2025, dan Bazar Kuliner Khas Bali, selama tujuh hari di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali. Ini bukan sekadar penggabungan acara, melainkan strategi ekonomi kreatif holistik: wastra untuk memantik industri fashion, anggrek untuk florikultura dan estetika alam, kuliner untuk UMKM pangan. Gubernur Koster menegaskan bahwa tiga "ke-lokalan" ini adalah implementasi nyata ekonomi rakyat yang selaras dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Kolaborasi Dekranasda dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Pertanian dan Ketahanan Pangan, serta Koperasi dan UKM menunjukkan bahwa ekonomi kreatif Bali dipandang lintas sektor, bukan silo budaya yang bekerja sendiri-sendiri tanpa strategi.

Trilogi Endek Jembrana: Seni, Bisnis, dan Perlindungan Hukum

Di tengah sorotan panggung, isu paling krusial tetap berada di balik layar: masa depan penenun dan tekstil tradisional endek, terutama endek Jembrana. Ketua Dekranasda Bali, Putri Koster, secara terbuka menyebut industri tenun tradisional sedang menghadapi penurunan jumlah penenun tanpa regenerasi yang memadai, salah satunya karena karya dan harga yang belum seimbang. Di Radio Dirgantara Jembrana, ia menawarkan trilogi pengembangan fesyen: seni, bisnis, dan perlindungan hukum sebagai kunci agar endek naik kelas. Seni menjaga identitas dan estetika, bisnis menjamin nilai ekonomi yang layak, sementara perlindungan hukum melindungi motif dan hak cipta perajin. Tanpa tiga pilar ini, ekonomi kreatif Bali berisiko menjadi jargon kosong: kain indah di panggung, tetapi penenun di kampung tetap rapuh secara ekonomi dan mudah tersisih oleh produk massal tanpa identitas.

Siapa Harus Bergerak: Pemerintah, Desainer, dan Konsumen Lokal

Rangkaian Dekranasda Fashion—Fashion Day, Bali Fashion Week, hingga Fashion Road Show—menunjukkan bahwa pemerintah sudah mengambil peran sebagai penggerak kebijakan dan panggung promosi. Namun ekosistem ekonomi kreatif Bali tidak akan kokoh jika hanya ditopang pemerintah dan Dekranasda. Putri Koster mengingatkan bahwa masyarakat perlu menyerap produk perajin lokal, karena pelestarian tradisi harus sejalan dengan kehidupan layak bagi pembuatnya. Pernyataannya bahwa masyarakat “tidak perlu jauh-jauh membeli barang mewah dari luar karena di Bali sudah tersedia produk istimewa” berbahan endek dan songket adalah ajakan nyata untuk mengubah perilaku konsumsi. Desainer dan model pun didorong tampil di ajang nasional dan internasional untuk memperluas jaringan. Artinya, Bali Fashion Week hanya akan benar-benar memperkuat ekonomi kreatif jika semua mata rantai—kebijakan, produksi, desain, dan konsumsi—bergerak bersama, dengan kepercayaan pada kualitas karya lokal sebagai fondasi.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!