Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mahasiswa Ciptakan Mesin Ecoprint Portable untuk Dongkrak Produksi UMKM

Mahasiswa Ciptakan Mesin Ecoprint Portable untuk Dongkrak Produksi UMKM
Minat|Industri Fashion

Mesin Ecoprint Portable: Definisi Singkat dan Dampak Langsung bagi UMKM

Mesin ecoprint portable adalah alat pengukus kain berukuran kompak yang dirancang khusus untuk memproses motif dan warna alami pada kain secara lebih cepat, merata, dan efisien, sehingga pelaku UMKM tekstil dapat meningkatkan kapasitas produksi tanpa harus berinvestasi dalam peralatan besar yang mahal dan sulit dipindahkan. Melalui Program Mahasiswa Membangun Mitra (3M), mahasiswa Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya menghadirkan mesin pengukus kain ecoprint portable sebagai teknologi tepat guna untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi produksi UMKM Chandini Collection di Kelurahan Kesatrian, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Berangkat dari persoalan kapasitas dandang konvensional yang minim, Kelompok 24 3M FTAB UB tidak sekadar datang dengan teori, tetapi menjawab kebutuhan nyata perajin lewat solusi konkret yang langsung dihibahkan kepada mitra.

Mengatasi Keterbatasan Dandang Konvensional: Efisiensi Waktu dan Kapasitas

Kendala klasik UMKM tekstil Malang, khususnya perajin kain ecoprint, bukan pada kreativitas, melainkan pada alat produksi yang tertinggal. UMKM Chandini Collection selama ini bergantung pada dandang konvensional berkapasitas terbatas, sehingga pengukusan harus dilakukan berulang kali, distribusi panas tidak merata, dan waktu produksi menjadi panjang. Dampaknya jelas: motif dan warna ecoprint yang seharusnya kuat menjadi tidak konsisten, sementara pesanan terus berdatangan. Di titik inilah inovasi produksi kain menjadi penentu daya saing. Mesin pengukus kain ecoprint portable berdimensi 100 cm x 40 cm x 45 cm memberikan ruang pengukusan lebih besar, mampu menampung gulungan kain dalam jumlah jauh lebih banyak dalam sekali proses. Proses yang sebelumnya memakan sekitar tiga jam kini turun menjadi kurang lebih dua jam, dengan kematangan warna daun yang lebih merata ke seluruh serat kain.

Desain Sederhana, Efek Besar: Bagaimana Mesin Ini Meningkatkan Efisiensi

Kekuatan mesin ecoprint portable ini bukan pada teknologi rumit, tetapi pada desain yang jeli membaca alur kerja perajin. Rancang bangun mesin disesuaikan dengan kebutuhan produksi Chandini Collection, mulai dari ruang pengukusan panjang untuk gulungan kain hingga batang besi yang berfungsi sebagai penggulung agar penataan kain lebih praktis. Termometer dipasang agar suhu bisa dipantau presisi, karena distribusi panas menentukan kualitas motif. Roda kastor membuat mesin mudah dipindahkan mengikuti area kerja, sedangkan keran membantu membuang air sisa uap tanpa merepotkan. Kombinasi fitur sederhana ini menghasilkan efisiensi kapasitas produksi yang nyata: lebih banyak kain diproses dalam satu kali pengukusan, waktu kerja lebih singkat, dan proses lebih terkendali. Di sini terlihat bahwa inovasi produksi kain tidak harus berarti otomatisasi mahal; kadang yang dibutuhkan hanyalah rekayasa fungsional yang dekat dengan keseharian pelaku usaha.

Dampak bagi UMKM Tekstil Malang dan Dukungan terhadap SDGs

Bagi Chandini Collection, mesin ecoprint portable bukan sekadar alat tambahan, melainkan pengubah ritme bisnis. Pemilik usaha, Sari Wulandari, menyebut kapasitas produksinya melonjak drastis sehingga mampu melayani permintaan pasar yang kian ramai. Efisiensi waktu memungkinkan lebih banyak kain diproses dalam satu kali produksi, pesanan pelanggan dapat dilayani lebih cepat dan tepat waktu, dan konsistensi kualitas ikut terjaga. Menariknya, perubahan ini terjadi tanpa keharusan investasi besar, karena mesin dirancang sebagai teknologi tepat guna dan dihibahkan melalui program 3M. Program yang berlangsung di Kelurahan Kesatrian ini sekaligus mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 8, 9, dan 12 terkait pekerjaan layak, pertumbuhan inovasi industri kecil, serta konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Program 3M: Model Kolaborasi Akademisi–UMKM yang Patut Ditiru

Pelajaran penting dari kasus mesin pengukus portable di Chandini Collection adalah bahwa universitas bisa menjadi mitra langsung UMKM tekstil, bukan hanya sumber penelitian. Selama dua minggu, mahasiswa FTAB UB berkolaborasi dengan perajin: mengidentifikasi kebutuhan, merancang dan membuat mesin, menguji, hingga menerapkannya dalam proses produksi harian. Pendampingan dalam pengoperasian dan perawatan membuat teknologi baru ini tidak berhenti sebagai prototipe, tetapi benar-benar menyatu dengan praktik usaha. Program Mahasiswa Membangun Mitra terbukti menghubungkan akademisi dengan pelaku usaha mikro untuk solusi praktis, sekaligus menjadi sarana hilirisasi ilmu terapan dan penciptaan lapangan kerja yang lebih layak. Jika pola kolaborasi semacam ini direplikasi ke UMKM lain, mesin ecoprint portable di Malang dapat menjadi contoh awal model pemberdayaan lokal yang berkelanjutan dan terjangkau, bukan inovasi yang hanya hidup di ruang seminar.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!