Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dugaan Pungli dan Pembakaran Jembatan Mengancam Akses Warga

Dugaan Pungli dan Pembakaran Jembatan Mengancam Akses Warga
Minat|Asia Tenggara

Jembatan adalah jalur hidup warga

Gangguan jembatan adalah kerusakan, hambatan, atau ancaman terhadap penghubung yang dipakai warga untuk bepergian dan menjalankan kegiatan sehari-hari, sehingga dampaknya melampaui kondisi fisik bangunan. Dua peristiwa di Tasikmalaya dan Kabupaten Bangka memperlihatkan betapa cepat akses warga desa terganggu ketika keamanan jembatan dipertanyakan atau jalurnya terputus. Di Jembatan Ciloa, dugaan pungli terhadap pengendara motor menjadi viral dan mendorong Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin meninjau jembatan yang menghubungkan Desa Cibatu dan Desa Gunungsari. Di Desa Mapur, jembatan kayu yang menjadi akses utama warga dilaporkan hangus terbakar pada Rabu, diduga dibakar orang tak dikenal. Kedua insiden berbeda sifatnya: satu menimbulkan kekhawatiran soal keamanan dan pengelolaan, sementara satu lagi memutus lintasan secara langsung. Namun, keduanya menegaskan bahwa respons pemerintah perlu melindungi fungsi jembatan, bukan berhenti pada pernyataan prihatin.

Ciloa: pengawasan setelah dugaan pungli viral

Di Jembatan Ciloa, perhatian publik bermula dari video viral mengenai dugaan pungutan liar terhadap pengendara motor. Warga setempat juga menyampaikan adanya vandalisme dan pencurian komponen, termasuk baut; kekhawatiran itu sampai mendorong warga berjaga secara swadaya di kedua sisi jembatan. Polisi menyatakan hasil penelusuran lapangan tidak menemukan aktivitas pungli yang masih berlangsung, tetapi kejadian viral tersebut tetap menunjukkan perlunya mekanisme pengawasan yang jelas. Cecep menyayangkan dugaan pungli dan mengimbau masyarakat menjaga jembatan, yang selesai dibangun pada 2025 sebagai program melalui Kementerian Pekerjaan Umum. Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya merencanakan pemasangan Penerangan Jalan Umum dan CCTV. Rencana itu masuk akal sebagai pencegahan, tetapi kamera saja tidak cukup: pemeliharaan, tindak lanjut laporan, dan perlindungan aset harus berjalan bersama agar warga tidak menanggung beban pengawasan sendiri.

Mapur: jembatan dibakar, lintasan warga terputus

Kondisi di Mapur lebih mendesak karena kerusakan telah membuat warga tidak dapat melintas dan mengganggu aktivitas harian. Jembatan kayu itu merupakan akses utama Desa Mapur, Kecamatan Riau Silip, Kabupaten Bangka. Bupati Bangka Fery Insani menyatakan prihatin dan kecewa, serta mengatakan pemerintah daerah telah melaporkan dugaan pembakaran tersebut kepada polisi sebagai perusakan aset dan fasilitas milik pemerintah daerah. Ia juga menyebut warga sebelumnya pernah menyampaikan aspirasi agar jembatan direnovasi menjadi jembatan permanen, tetapi rencana itu belum terwujud karena keterbatasan anggaran. Berbeda dengan Ciloa, yang mendapat rencana pemasangan fasilitas pengawasan, Mapur menghadapi hambatan pemulihan: rehabilitasi jembatan yang terbakar belum dapat dianggarkan pada 2027. Pelaporan kepada polisi penting untuk menyelidiki dugaan tindak pidana, tetapi tidak dengan sendirinya memulihkan akses. Tanpa jalur pengganti atau perbaikan, warga tetap menanggung dampak paling nyata.

Respons harus melindungi fungsi jembatan

Perbandingan kedua kasus memperlihatkan dua tugas pemerintah daerah yang saling melengkapi: mencegah gangguan dan memulihkan layanan. Di Tasikmalaya, pemerintah berencana memasang PJU dan CCTV, berkoordinasi dengan PLN serta Dinas Perhubungan agar jaringan listrik resmi mendukung operasi fasilitas selama 24 jam. Bupati juga menitipkan pengawasan dan perawatan harian kepada kepala desa serta pedagang di sekitar jembatan. Di Bangka, pemerintah telah melaporkan dugaan pembakaran kepada polisi, tetapi belum dapat menganggarkan rehabilitasi pada 2027 karena keterbatasan anggaran. Perbedaan ini penting: pengawasan dapat mengurangi risiko, sedangkan akses yang sudah terputus memerlukan rencana pemulihan yang terbuka dan realistis. Kedua pemerintah sebaiknya memastikan warga mengetahui siapa yang bertanggung jawab, bagaimana laporan ditindaklanjuti, dan apa langkah berikutnya. Jembatan adalah layanan publik; keamanan dan kelangsungan aksesnya harus diukur dari manfaat yang tetap diterima warga.

Kesimpulannya, dugaan pungli jembatan di Ciloa dan peristiwa jembatan dibakar di Mapur menyoroti sisi berbeda dari persoalan yang sama: kerentanan akses warga ketika infrastruktur tidak aman atau tidak dapat digunakan. Rencana CCTV dan penerangan di Tasikmalaya merupakan langkah pencegahan yang patut diuji melalui pelaksanaan dan pemeliharaan. Di Mapur, penyelidikan polisi perlu berjalan beriringan dengan penjelasan pemerintah mengenai pilihan pemulihan akses, meski rehabilitasi belum masuk anggaran 2027. Perlindungan aset penting, tetapi keberhasilan respons pada akhirnya ditentukan oleh kemampuan menjaga dan mengembalikan jalur yang dibutuhkan masyarakat setiap hari.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!