Lima tahun menunggu akses yang terputus
Jembatan Termanu adalah akses penghubung penting di Amfoang Barat Daya, Kabupaten Kupang, yang pembangunannya kembali ditujukan untuk memulihkan perjalanan warga menuju layanan dan kegiatan sehari-hari. Jembatan ini ambruk pada 2021, dan kerusakannya menghambat mobilitas warga selama sekitar lima tahun, terutama saat menuju sekolah, pasar, serta fasilitas kesehatan. Karena itu, pembangunan kembali bukan sekadar pekerjaan konstruksi: ini soal mengurangi beban perjalanan bagi masyarakat yang selama ini kehilangan jalur penghubung. Pada 24 Oktober 2026, Kepala BNPPDT Jenderal TNI Maruli Simanjuntak meninjau langsung progres Jembatan Termanu dan Kapsali. Pemerintah menargetkan Termanu rampung sebelum pergantian tahun agar warga segera dapat memanfaatkannya. Harapan agar jembatan menjadi hadiah Natal dari Presiden memberi proyek ini bobot simbolis, tetapi ukuran keberhasilannya tetap sederhana: kapan warga benar-benar bisa melintas dengan aman.

Dua jembatan, satu pemulihan konektivitas
Fokus pada Termanu saja tidak cukup untuk memulihkan pergerakan di kawasan ini. Pekerjaan juga mencakup Jembatan Kapsali, dan pemerintah menyebut pembangunan kedua jembatan sebagai upaya memulihkan konektivitas serta mempermudah mobilitas masyarakat Amfoang. Inilah alasan pembangunan infrastruktur Amfoang perlu dinilai sebagai strategi regional, bukan proyek terpisah yang hanya mengatasi satu titik rusak. Ketika beberapa jalur penghubung diperbaiki, perjalanan menuju sekolah, pasar, dan layanan kesehatan berpeluang menjadi lebih mudah. Maruli mengatakan pembangunan ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden untuk membantu masyarakat Amfoang. “Presiden memerintahkan untuk saya mengerjakan jembatan ini,” ujarnya. Namun, arahan politik dan target waktu perlu diikuti penyelesaian pekerjaan yang nyata. Warga membutuhkan konektivitas jalan penghubung yang dapat digunakan, bukan hanya komitmen dan kunjungan.
Pengawasan harus berujung pada manfaat nyata
Peninjauan langsung oleh Kepala BNPPDT menunjukkan bahwa percepatan proyek menjadi perhatian pemerintah. Untuk mendukung pekerjaan, personel dan peralatan dikirim dari Jakarta melalui kapal; Maruli juga menyatakan dukungan tambahan dapat dikerahkan untuk menyelesaikan sejumlah jembatan. Langkah ini penting di wilayah yang membutuhkan logistik besar, tetapi pengawasan sebaiknya tidak berhenti pada pemantauan progres. Publik perlu melihat hasil akhirnya: jembatan selesai, bisa digunakan, dan benar-benar memangkas hambatan perjalanan. Proyek BNPPDT Nusa Tenggara juga beririsan dengan kebutuhan dasar lain. Pemerintah menyatakan akan mengupayakan dukungan, termasuk penyediaan air bersih bagi masyarakat. Itu pengingat bahwa akses jalan dan layanan dasar saling melengkapi. Kesimpulannya, pembangunan Termanu dan Kapsali menjanjikan pemulihan yang berarti setelah masa terputus panjang, tetapi janji hadiah Natal baru bernilai ketika warga memperoleh akses yang aman dan berfungsi.






