Drainase sebagai dasar pemulihan kawasan
Drainase Sagi Onom adalah proyek penanganan saluran air dan bagian turap sepanjang sekitar 80 meter di Kampung Mendale, Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah, untuk memulihkan akses sekaligus mengurangi risiko gangguan akibat aliran air. Pekerjaan ini telah mencapai sekitar 60 persen dan menjadi bagian dari rehabilitasi kawasan wisata Danau Lut Tawar. Proyek senilai Rp399,27 juta tersebut menanggapi dampak banjir dan longsor pada 26 November 2025, yang sempat mengganggu akses serta aktivitas masyarakat. Kemajuan ini patut disambut, tetapi angka 60 persen bukan alasan untuk menganggap pemulihan sudah tuntas. Nilai proyeknya baru terasa bagi warga bila saluran berfungsi saat hujan deras, akses tetap aman, dan pengunjung kembali mendatangkan pemasukan bagi usaha setempat.

Target Desember diuji oleh aliran air
Pekerjaan dimulai pada 10 September dan dijadwalkan berakhir pada 9 Desember 2026. Pelaksana menargetkan proyek rampung pada 8 Desember, sehingga masih ada tenggat yang jelas untuk menuntaskan sisa pekerjaan. Namun, kondisi lapangan menuntut lebih dari sekadar mengejar jadwal: aliran deras dari bagian atas kawasan ketika hujan turun mengganggu tahapan konstruksi, bahkan pengecoran harus diulang hingga empat kali pada bagian terdampak. Pengulangan itu menegaskan bahwa mutu pengerjaan harus tetap menjadi ukuran utama. Drainase yang selesai tepat waktu tetapi tidak sanggup mengendalikan limpasan akan meninggalkan risiko yang sama bagi jalan dan lingkungan. Karena itu, pengawasan terhadap pekerjaan dan kesesuaiannya dengan kondisi setempat sama pentingnya dengan penyelesaian pada Desember.
Pemulihan yang berarti bagi warga dan wisata
Saluran air yang berfungsi dapat membantu menjaga akses dan kelancaran kegiatan sehari-hari, terutama saat hujan lebat. Dampaknya juga menjangkau usaha kecil: Susanti, pedagang gorengan sekaligus pemilik warung makan di Sagi Onom, mengatakan wisatawan mulai berdatangan kembali setelah kawasan lebih ramai. Kembalinya pengunjung membuka peluang pemasukan bagi warung-warung, tetapi pemulihan ekonomi tidak otomatis terjadi hanya karena konstruksi berjalan. Jalan yang aman, lingkungan yang terjaga, dan pengalaman berkunjung yang nyaman perlu berjalan bersama. Bagi warga, rehabilitasi Aceh Tengah seharusnya dinilai dari manfaat yang bertahan setelah proyek selesai, bukan hanya dari progres pekerjaan. Drainase yang dirancang untuk menghadapi aliran air dapat menjadi bagian penting dari upaya mengembalikan kepercayaan wisatawan dan mendukung mata pencaharian masyarakat.
Bangun kembali dengan ketahanan sebagai ukuran
Arah rehabilitasi pascabencana yang lebih baik ialah memperbaiki kerusakan sekaligus mengurangi peluang kerusakan serupa terulang. Penanganan Sagi Onom sejalan dengan gagasan membangun kawasan yang lebih aman dan tangguh, bukan sekadar mengembalikan keadaan sebelum bencana. Muhammad Tito Karnavian menekankan perlunya menangani sedimen dan saluran air untuk mencegah banjir susulan, sementara rencana rehabilitasi dan rekonstruksi Sumatra mencakup periode 2026–2028. Itu berarti pekerjaan di Sagi Onom bukan ujung pemulihan, melainkan bagian dari tanggung jawab yang lebih panjang. Penyelesaian pada Desember perlu diikuti perhatian pada kinerja drainase ketika hujan datang. Kesimpulannya, proyek ini berpotensi membantu wisata Danau Lut Tawar bangkit, tetapi keberhasilannya ditentukan oleh ketahanan infrastruktur dan manfaat nyata yang dirasakan warga.






