Pengawasan harus mengukur manfaat, bukan sekadar progres
Pengawasan TMMD adalah penilaian langsung terhadap pelaksanaan pembangunan fisik dan kegiatan sosial untuk memastikan sasaran, mutu pekerjaan, serta manfaat program sesuai kebutuhan warga. Pada akhir Oktober 2026, Tim Wasev TMMD meninjau kegiatan di Gayo Lues, Talawi, Nias, Bantul, dan Aceh Singkil. Rangkaian kunjungan ini penting, tetapi ukuran keberhasilannya tidak boleh berhenti pada pekerjaan yang tampak selesai. Jalan, talud, fasilitas dasar, dan penyuluhan baru bernilai jika menjawab masalah setempat dan tetap berguna setelah program berakhir. Di Nias, tim memeriksa perkembangan pekerjaan di sejumlah titik, memastikan kegiatan tetap sesuai rencana, sekaligus mencari hal yang perlu dioptimalkan. Pendekatan seperti ini semestinya menjadi inti evaluasi: bukan hanya menghitung keluaran, melainkan menguji apakah program TMMD benar-benar membuat kehidupan warga lebih mudah.

Dari talud hingga akses desa terdampak bencana
Pemeriksaan fisik menunjukkan bahwa mutu dan kecocokan lokasi sama-sama menentukan. Di Bantul, Brigjen TNI Budi Handoko meninjau pembangunan talud di Dusun Jaten, Sendangsari, termasuk kondisi pekerjaan dan material di sekitar saluran air. Sementara itu, di Gayo Lues, Desa Pepelah dipilih setelah pembahasan dengan pemerintah daerah karena terdampak bencana pada tahun sebelumnya dan berada di zona merah, sehingga warganya direlokasi. Pekerjaan di sana meliputi pembukaan jalan, rehabilitasi MCK dan lima rumah tidak layak huni, jaringan perpipaan, dua sumur bor, serta kandang ayam. Sasaran jalan diharapkan menghubungkan kebun warga, hunian sementara, dan jalan provinsi. Bupati Suhaidi menyebut 90 persen warga Gayo Lues bekerja di pertanian atau perkebunan; karena itu, akses yang nyaman bukan tambahan kosmetik, melainkan prasyarat kegiatan ekonomi dan akses ke layanan kesehatan serta pendidikan.
Kegiatan sosial melengkapi pembangunan desa
Di Talawi, evaluasi juga mencakup kegiatan nonfisik. Tim yang dipimpin Brigjen TNI Hendri Wijaya meninjau penyuluhan di Desa Batu Tanjung dan pembagian paket sembako kepada warga kurang mampu. Materinya mencakup wawasan kebangsaan, bela negara, kesehatan, dan keamanan serta ketertiban masyarakat. Bantuan tersebut dinilai membantu, terutama bagi lansia dan warga yang terdampak kondisi ekonomi. Di Gayo Lues, kegiatan nonfisik juga mencakup penyuluhan hukum, pertanian, dan kesehatan terkait stunting. Perpaduan ini masuk akal: infrastruktur membuka akses, sedangkan penyuluhan dan bantuan menyentuh kebutuhan warga yang tidak terselesaikan oleh pekerjaan konstruksi. Namun, manfaat sosial perlu dinilai dari relevansi dan tindak lanjutnya, bukan hanya dari terselenggaranya acara. Ukuran yang lebih berarti adalah apakah warga memperoleh pengetahuan, dukungan, dan akses yang bisa mereka gunakan setelah tim meninggalkan lokasi.

Sinergi daerah menentukan hasil akhir
Kunjungan Wasev juga memperlihatkan bahwa program ini tidak dikerjakan oleh satu pihak saja. Sebelum turun ke lapangan di Gayo Lues, tim bertemu dengan unsur Forkopimda, perangkat kabupaten, camat, dan kepala desa. Di Aceh Singkil, pemerintah kabupaten menyambut tim dan menegaskan dukungan terhadap TMMD sebagai upaya mempercepat pembangunan serta meningkatkan kesejahteraan. Keterlibatan pemerintah daerah penting karena merekalah yang memahami kebutuhan lokal dan dapat membantu memastikan hasil pembangunan dipelihara. Program TMMD ke-130 berlangsung dari 13 Oktober hingga 11 November 2026; hasil evaluasi semestinya menjadi bahan koreksi ketika pekerjaan belum sempurna dan panduan untuk program berikutnya. Kesimpulannya, pengawasan yang baik harus menghubungkan mutu pekerjaan dengan kebutuhan nyata, sementara sinergi TNI, pemerintah, dan warga menjaga agar pembangunan desa tidak berakhir sebagai proyek sesaat.






