Evaluasi lapangan harus berpijak pada kebutuhan
Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) adalah upaya terpadu TNI dan pemerintah daerah untuk memperbaiki infrastruktur serta layanan masyarakat desa melalui pekerjaan fisik dan kegiatan nonfisik. Nilai program ini paling jelas terlihat ketika pembangunan menanggapi kebutuhan setempat, bukan hanya ketika pekerjaan tercatat selesai. Pada 28 Oktober 2026, Tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev) Mabes TNI meninjau pelaksanaan TMMD ke-130 di Desa Pepelah, Kecamatan Pining, Gayo Lues. Sehari kemudian, tim yang dipimpin Brigjen TNI M. Herry Subagyo memeriksa sasaran fisik di Desa Aek Batu, Labuhanbatu Selatan. Rangkaian kunjungan itu penting sebagai pemeriksaan kemajuan sekaligus kesempatan mengukur manfaatnya bagi warga. Program berlangsung dari 13 Oktober hingga 11 November 2026, sehingga evaluasi di tengah pelaksanaan dapat menjadi bahan koreksi sebelum kegiatan berakhir.

Infrastruktur dan hunian menjadi ukuran manfaat
Di Gayo Lues, Desa Pepelah dipilih setelah pembahasan dengan pemerintah daerah karena terdampak bencana alam pada tahun sebelumnya. Desa itu juga telah direlokasi karena berada di zona merah. Sasaran fisik TMMD mencakup pembukaan atau pembangunan jalan, rehabilitasi MCK, jaringan perpipaan, dua sumur bor, kandang ayam, serta perbaikan lima rumah tidak layak huni. Bantuan ayam dan bibit cabai bagi penerima bantuan rumah menambahkan unsur ketahanan pangan pada pekerjaan konstruksi. Di Labuhanbatu Selatan, tim meninjau pengerasan jalan sepanjang 1.700 meter, lima titik sumur bor, rehabilitasi rumah tidak layak huni, MCK umum, dan fasilitas KDKMP. Salah satu yang diperiksa ialah rumah Tukirin, 68 tahun, di Desa Aek Batu. Perbaikan hunian layak bukan pelengkap: rumah yang lebih aman dan nyaman menyentuh kebutuhan dasar yang paling dekat dengan kehidupan keluarga.

Aspirasi warga menguji hasil pekerjaan
Di Labuhanbatu Selatan, Tim Wasev tidak berhenti pada pemeriksaan fisik. Pada 29 Oktober, rombongan berdialog dengan penerima manfaat dan menanyakan bagaimana jalan, sumur bor, rumah yang direhabilitasi, serta MCK memengaruhi kehidupan mereka. Cara ini membuat evaluasi lebih bermakna: kondisi proyek dapat dilihat langsung, sementara warga dapat menjelaskan kebutuhan yang belum terjawab. Setelah berdialog, tim menyalurkan bantuan sembako serta karpet dan kitab suci untuk masjid dan gereja. Bantuan tersebut menunjukkan perhatian pada kebutuhan sosial dan keagamaan, tetapi tidak seharusnya menggantikan tindak lanjut atas aspirasi warga. Evaluasi yang baik perlu mencatat pengalaman penerima manfaat dan mengubah temuan lapangan menjadi perbaikan yang terukur. Dengan begitu, pembangunan desa tidak dinilai semata dari panjang jalan atau jumlah fasilitas, melainkan dari apakah semua itu benar-benar memudahkan aktivitas warga.

Keberlanjutan menentukan arti TMMD
Di Pepelah, manfaat yang dituju meliputi akses lebih mudah menuju kebun, hubungan jalan antara hunian sementara bagian atas dan bawah serta ke jalan provinsi, juga kelancaran kegiatan ekonomi dan pertanian. Akses yang membaik diharapkan turut memudahkan warga mencapai fasilitas kesehatan dan pendidikan. Penyuluhan wawasan kebangsaan, hukum, pertanian, dan kesehatan melengkapi sasaran fisik. Tim Wasev TNI meninjau proyek, rumah tidak layak huni, dan tanggapan masyarakat di dua kabupaten dengan konteks berbeda: pemulihan desa terdampak bencana di Gayo Lues serta pembangunan infrastruktur di Labuhanbatu Selatan. Ukuran keberhasilan akhirnya bukan sekadar pekerjaan rampung sebelum 11 November, melainkan fasilitas yang berfungsi dan dijaga, serta koreksi yang dilakukan ketika kebutuhan warga belum terpenuhi. TMMD akan lebih berarti jika evaluasi lapangan berujung pada manfaat yang bertahan setelah personel dan rombongan meninggalkan desa.







