Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Geometri Presisi ke Harmoni Warna di Piring Asia Kontemporer

Dari Geometri Presisi ke Harmoni Warna di Piring Asia Kontemporer
Minat|Estetika Memasak

Piring Sebagai Kanvas: Definisi Baru Estetika Kuliner Asia

Estetika kuliner Asia kontemporer adalah pendekatan memasak yang memadukan filosofi tradisional, teknik modern, dan desain visual terukur sehingga piring tidak lagi sekadar wadah makanan, melainkan medium narasi rasa, memori, dan identitas yang dirancang dengan geometri presisi, harmoni warna, serta permainan tekstur yang sadar arah. Di Jakarta, pergeseran ini tampak jelas pada cara restoran East Asian mengolah tradisi China dan Korea menjadi pengalaman visual yang nyaris teatrikal, tanpa memutus akar budaya yang melahirkannya. Alih-alih menyalin bentuk klasik, para chef memilih membongkar ulang komposisi, memadatkan makna, lalu menyusunnya kembali dalam estetika piring modern yang menuntut perhatian detail: dari posisi saus, tinggi elemen, hingga ritme kosong-penuh di permukaan piring. Di sinilah plating Asian kontemporer berubah menjadi bahasa visual baru yang menuntut pembacaan, bukan sekadar tatapan singkat.

Dari Geometri Presisi ke Harmoni Warna di Piring Asia Kontemporer

Volume 6: Passage – Geometri Emosional di SU MA

Volume 6: Passage di SU MA Jakarta menegaskan bahwa estetika piring modern tidak bisa dipisahkan dari narasi dan emosi. Menggabungkan tradisi kuliner China dan Korea dengan sentuhan modern, rangkaian ini dirancang sebagai perjalanan rasa yang berkesinambungan, bukan sekadar deretan kursus yang cantik di foto. Di balik dapur, Executive Chef Brendon Chen dan Co-Executive Chef Ryan Kim membawa latar belakang berbeda yang saling mengunci: Brendon dengan akar keluarga China-Malaysia dan pendidikan Le Cordon Bleu London, Ryan dengan jejak kuliner dan pastry di Australia dan Korea Selatan. Hasilnya adalah culinary visual design yang disiplin namun hangat. Fermentasi, bahan musiman, dan teknik terukur bukan hanya soal rasa; mereka membentuk garis, volume, dan lapisan yang mengarahkan mata tamu dari satu elemen ke elemen lain, seolah mengikuti babak dalam sebuah cerita. Piring menjadi peta perjalanan, bukan katalog dekorasi.

Dari Geometri Presisi ke Harmoni Warna di Piring Asia Kontemporer

YOUNG x SU MA: Ketika Memori Rumah Diatur Ulang di Atas Piring

Kolaborasi YOUNG Restaurant dan SU MA dalam edisi In Good Company pada 14 Oktober 2026 menunjukkan bagaimana presentasi hidangan Korea dapat bergerak dari meja rumah ke panggung fine dining tanpa kehilangan keintiman. Bersama Chef Ryan Kim, jamuan satu malam ini berangkat dari hidangan Korea sehari-hari yang ia nikmati bersama keluarga dan teman, lalu mengemasnya ulang dalam format yang lebih terstruktur dan kontemplatif. Mandu berisi daging sapi, udang, dan soun hingga yukhoe bibimbap dengan tartare MB9, pir Korea, gochujang, dan sayuran menampilkan keragaman rasa yang akrab namun disusun dengan logika plating Asian kontemporer yang lebih grafis dan berlapis. Di sini, memori bukan dibiarkan liar; ia dipotong, disusun, dan diseimbangkan sehingga setiap piring menjadi fragmen cerita pribadi Ryan yang dapat “dibaca” lewat komposisi warna, tekstur, dan ritme porsinya.

Dari Geometri Presisi ke Harmoni Warna di Piring Asia Kontemporer

Gamja-jeon Bertopping Tiram: Tradisi Korea dalam Bahasa Visual Baru

Gamja-jeon dengan topping tiram dalam kolaborasi YOUNG x SU MA adalah contoh tajam bagaimana satu gestur kecil di piring dapat menggeser cara kita memandang tradisi. Panekuk kentang khas Korea yang biasanya tampil sederhana tiba-tiba memperoleh dimensi baru ketika dipertemukan dengan hasil laut sebagai elemen puncak. Secara visual, tiram menciptakan titik fokus, mengubah gamja-jeon dari latar menjadi panggung bagi satu objek utama. Secara rasa, ia mempertemukan bumi dan laut dalam satu gigitan. Pendekatan serupa tampak pada gogi gui dengan galbi Stone Axe Zabuton MB9, pajeori, dan ssam, serta mulhoe dengan shima aji, kuah chojang, mi somyeon, dan sayuran, yang menata ulang keseharian Korea dalam struktur piring yang lebih arsitektural. Kolaborasi ini menegaskan bahwa inovasi tidak harus memutus tradisi; cukup menggeser sudut pandang dan menata ulang hierarki elemen di piring.

Dari Geometri Presisi ke Harmoni Warna di Piring Asia Kontemporer

Menu Sebagai Narasi Visual: Ke Mana Arah Estetika Piring Asia?

Baik lewat Volume 6: Passage di SU MA maupun kolaborasi YOUNG x SU MA, satu pola terlihat jelas: piring Asia kontemporer bergerak dari sekadar “cantik” menuju “bermakna”. SU MA, yang selama tiga tahun membangun identitas dengan kualitas, ketekunan, dan perhatian terhadap detail, kini menerjemahkan filosofi kepedulian itu ke dalam rangkaian kuliner tentang perjalanan, transformasi, dan perkembangan. Sementara itu, YOUNG x SU MA membuktikan bahwa hidangan yang berangkat dari ingatan rumah dapat menjadi medium eksplorasi estetika tanpa kehilangan kehangatan. Estetika piring modern yang lahir dari konteks ini bukan tren sesaat, melainkan bahasa baru: geometri presisi yang tetap menyisakan ruang bagi emosi. Jika ada kesimpulan yang layak diambil, itu adalah ini: masa depan kuliner East Asian akan ditentukan bukan hanya oleh rasa, tetapi oleh seberapa jujur dan cerdas para chef menata cerita mereka di atas piring.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!