Deklarasi Jakarta: Dari Sampah Organik ke Agenda Iklim Regional
Deklarasi Jakarta tentang pengelolaan sampah organik dan percepatan zero waste Asia Pasifik adalah sebuah komitmen politik dan sosial lintas negara yang merumuskan delapan langkah konkret untuk mencegah sampah pangan, mengeluarkan sampah organik dari TPA, mengurangi metana, melindungi pekerja sampah, serta memperluas praktik zero waste yang sudah terbukti ke dalam sistem pengelolaan kota yang terukur dan berkeadilan sosial.
Inti pesannya tegas: tanpa transformasi pengelolaan sampah organik, bicara transisi zero waste Asia Pasifik hanyalah slogan. Deklarasi ini lahir pada penutupan Kongres Regional Kedua tentang Organik dan Perubahan Iklim di Jakarta, 23–24 September 2026, yang pada hari kedua fokus pada tantangan memperluas praktik komunitas menjadi sistem pengelolaan sampah kota yang berkelanjutan. Deklarasi Jakarta sampah mengikat pemerintah, organisasi masyarakat sipil, pekerja sampah, peneliti, praktisi, dan komunitas dalam satu agenda percepatan, bukan sekadar pertukaran wacana.

Delapan Langkah Konkrit: Peta Jalan Zero Waste Asia Pasifik
Kekuatan Deklarasi Jakarta terletak pada kejelasan delapan langkahnya. Pertama, mencegah kehilangan dan sampah pangan dari sumber, dengan memasukkannya ke dalam kebijakan pangan, iklim, dan NDC. Kedua, mengeluarkan sampah organik dari TPA dan pembuangan terbuka lewat pemilahan dari sumber dan pengolahan biologis terdesentralisasi—inti dari pengelolaan sampah organik yang serius, bukan kosmetik.
Ketiga, memasukkan pengurangan metana dan kualitas udara ke kebijakan zero waste melalui target emisi yang terukur dan penguatan inventarisasi metana. Keempat, menghentikan pembakaran terbuka. Kelima, memastikan transisi yang adil bagi pekerja sampah dan komunitas, agar tidak dikorbankan atas nama teknologi baru. Keenam, mengarahkan pembiayaan iklim ke solusi zero waste dan menghindari penguncian pada model pembuangan dan pembakaran. Ketujuh, melibatkan penghasil sampah pangan skala besar seperti ritel, hotel, restoran, institusi, dan fasilitas kesehatan. Kedelapan, memperluas solusi yang telah terbukti melalui kerja sama antarkota, pertukaran pengetahuan, transparansi, pengukuran metana, dan advokasi regional.

Dari Praktik Lokal ke Sistem Pengelolaan Kota
Kongres regional ini menunjukkan dengan gamblang: kita sudah punya praktik, yang belum ada adalah sistem. Berbagai inisiatif pengelolaan sampah organik berbasis komunitas di Asia Pasifik membuktikan kemampuan sumber daya manusia, teknologi, dan model pengelolaan yang dapat dikembangkan, tetapi masih berjalan terfragmentasi. Di Side Event “Forward Linking Municipal Organic Waste”, para pelaku menegaskan kebutuhan pertukaran pengetahuan, peningkatan kapasitas, kemitraan strategis, dan pendanaan jangka panjang agar praktik tidak terhenti di pilot project.
Pengalaman Siquijor menunjukkan potensi ketika pendekatan lokal ditopang keputusan politik: karena keterbatasan membangun sanitary landfill, pemerintah lokal memperkuat pemilahan dari sumber, pengomposan rumah tangga, pengelolaan sampah pasar, dan fasilitas pemulihan sumber daya, hingga mampu mengalihkan hampir 70 persen dari sekitar 9.000 kilogram sampah harian, dengan 31 persen dikelola sebagai organik dan 41 persen didaur ulang. Praktik seperti pengolahan sampah organik memakai larva black soldier fly menegaskan bahwa keberhasilan tidak berhenti pada pilihan teknologi, tetapi pada kecocokan dengan material, lokasi, operator, pasar, dan dukungan masyarakat.

Kerangka Regional: Metana, Iklim, dan Platform Organik
Deklarasi Jakarta tidak lahir di ruang hampa, tetapi dari kesadaran bahwa sektor persampahan punya peluang besar untuk mengurangi emisi metana dalam jangka pendek melalui pencegahan food loss and waste, pengolahan sampah organik di sumber, dan pengurangan ketergantungan pada pembuangan akhir. Metana kini semakin masuk agenda iklim dan NDC di kawasan, dengan pergeseran fokus dari sekadar mengurus sampah di hilir ke pencegahan sisa pangan, pengolahan organik di sumber, dan pelibatan pekerja sampah.
Di sinilah pentingnya pengembangan platform organik regional yang mempertemukan pemerintah, komunitas, dan pelaku usaha dengan informasi tentang pilihan teknologi, biaya, spesifikasi, dan praktik pengolahan organik. "Kinerja sistem bergantung pada kesesuaian material, lokasi, operator, dan pasar," tegas Ketua Asosiasi Pengelola Limbah Organik Indonesia, Tubagus Ari. Platform ini menolak pendekatan satu teknologi seragam dan memilih menyesuaikan dengan kondisi lokal agar sistem pengelolaan kota bisa bertahan lama. Deklarasi ini juga disiapkan untuk menguatkan pertukaran antarkota dan komunitas, serta advokasi bersama di Asia Pasifik.
Politik Koalisi: Apa Selanjutnya Setelah Jakarta?
Deklarasi Jakarta sampah memperlihatkan bahwa zero waste Asia Pasifik adalah proyek politik kolektif: pemerintah, organisasi masyarakat sipil, pekerja sampah, peneliti, praktisi, dan komunitas menyepakati delapan langkah percepatan dan mengesahkannya secara kolektif melalui simbol zero waste. Pernyataan Rahyang Nusantara mengingatkan bahwa keberhasilan kongres diukur dari aksi setelah Jakarta, bukan dari banyaknya diskusi.
Secara konkret, tindak lanjut sudah dipatok. Kongres Regional tentang Organik dan Perubahan Iklim berikutnya akan digelar di Filipina bersama jaringan organisasi yang selama ini menguatkan pekerja sampah dan kota-kota zero waste. Rangkaian kerja sama juga berlanjut melalui International Zero Waste Month pada Januari 2027 dengan tema “Zero Waste for Better Health: Climate Action for Healthy Communities and Planet”. Pesan penutup Froilan Grate menekankan bahwa kekuatan gerakan bukan hanya pada solusi, tetapi pada orang-orang yang mengerjakannya setiap hari dengan sumber daya terbatas. Konklusinya jelas: Deklarasi Jakarta hanya berarti jika delapan langkah itu diterjemahkan menjadi kebijakan kota, anggaran, dan perlindungan bagi pekerja sampah di lapangan.






