Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Bantargebang dan Sarimukti Tertekan, Pengurangan dari Sumber Jadi Kunci

Bantargebang dan Sarimukti Tertekan, Pengurangan dari Sumber Jadi Kunci
Minat|Asia Tenggara

Perpanjangan bukan pengganti perubahan

Pengelolaan sampah dari sumber adalah rangkaian pemilahan dan pengolahan yang dilakukan sebelum sampah diangkut ke tempat pembuangan, sehingga hanya residu yang perlu ditimbun. Prinsip ini seharusnya menjadi ukuran utama saat kapasitas TPA terus tertekan. Pemprov Jakarta dan Pemkot Bekasi memperpanjang kerja sama pengelolaan TPST Bantargebang selama lima tahun ke depan, tetapi tambahan waktu itu tidak boleh dibaca sebagai izin untuk mempertahankan pola lama. Anggota Komisi B DPRD Jakarta, M. Taufik Zoelkifli, menyebut masa tersebut semestinya menjadi transisi untuk mengurangi ketergantungan pada Bantargebang.

Tantangannya bukan sekadar meminta warga memilah sampah. Pemilahan hanya berguna bila pengangkutan dilakukan terpisah dan setiap jenis sampah memiliki tujuan pengolahan yang jelas. Tanpa dua hal itu, upaya di rumah berisiko berakhir dengan sampah kembali tercampur. Jakarta perlu membenahi pengelolaan sampah sejak sumbernya sekaligus memperkuat fasilitas pengolahan, bukan mengandalkan perluasan waktu pembuangan. Keberhasilan harus tampak dalam jumlah sampah yang berkurang dan lingkungan yang lebih sehat, bukan hanya dalam kelancaran pengiriman ke TPST Bantargebang.

Bantargebang dan Sarimukti Tertekan, Pengurangan dari Sumber Jadi Kunci

Akuntabilitas harus berjalan bersama anggaran

Perpanjangan kerja sama juga membawa konsekuensi anggaran: Pemprov Jakarta harus mengalokasikan kompensasi Rp362 miliar kepada Pemkot Bekasi. Besarnya komitmen itu membuat tuntutan atas hasil yang terukur semakin beralasan. Publik perlu mendapat laporan berkala mengenai volume sampah yang berhasil dikurangi, diolah, dan masih dikirim ke Bantargebang. Tanpa data tersebut, sulit membedakan apakah masa lima tahun dipakai untuk membenahi sistem atau sekadar memperpanjang ketergantungan.

Indikatornya seharusnya mudah dipahami: berapa banyak sampah yang dicegah atau diolah, berapa yang tetap harus ditimbun, dan apakah dampaknya terasa bagi warga sekitar. Pengurangan dari sumber bukan urusan rumah tangga semata; pemerintah harus memastikan layanan angkut dan fasilitas pengolahan mendukung kebiasaan memilah. Jika sistem hilir tidak berubah, beban tanggung jawab akan jatuh kepada warga tanpa memberi hasil yang sepadan. Perpanjangan hanya layak disebut momentum bila perubahan itu terlihat dan dilaporkan.

Sarimukti menunjukkan batas pendekatan tambal sulam

Tekanan pada TPA Sarimukti di Jawa Barat menegaskan bahwa masalah kapasitas bukan milik satu wilayah. Ketika lokasi pembuangan semakin terbebani, mengaktifkan zona atau mencari tempat lain mungkin memberi ruang sementara, tetapi tidak menyelesaikan sumber persoalan: sampah yang terus datang dalam jumlah besar. Respons darurat dibutuhkan agar layanan tidak terputus, namun kebijakan tidak boleh berhenti pada penambahan ruang timbun.

Pemerintah daerah perlu memasangkan langkah jangka pendek dengan pengurangan dan pengolahan di hulu. Tanpa itu, setiap tambahan kapasitas TPA hanya menunda krisis berikutnya dan memperbesar ketergantungan pada pembuangan. Sarimukti dan Bantargebang berbeda dalam konteks pemerintahan, tetapi pelajarannya sama: kapasitas lokasi akhir terbatas, sedangkan arus sampah akan terus menekan bila pemilahan, pengangkutan terpisah, dan fasilitas pengolahan tidak dibangun sebagai satu sistem.

Legok Nangka perlu menjadi bagian dari solusi, bukan alasan menunda

Jawa Barat memiliki pilihan jangka panjang melalui TPPAS Legok Nangka yang sedang dibangun. Pemerintah provinsi juga mempertimbangkan lokasi alternatif dengan sumber air memadai atau mengoptimalkan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) di Legok Nangka. Arah ini penting, tetapi fasilitas baru tidak akan cukup jika kebijakan pengurangan sampah di sumber tertinggal.

Legok Nangka sebaiknya diperlakukan sebagai bagian dari jaringan pengelolaan sampah yang lebih luas, bukan sebagai alasan untuk terus mengirim sampah tanpa pembenahan. Jakarta dan Jawa Barat sama-sama memerlukan target pengurangan yang jelas, pemilahan yang didukung pengangkutan terpisah, serta laporan terbuka tentang kinerja fasilitas. Kesimpulannya tegas: memperpanjang kerja sama atau menyiapkan kapasitas baru dapat membeli waktu, tetapi hanya pengurangan sampah sebelum masuk ke lokasi pembuangan yang bisa mengurangi tekanan secara berkelanjutan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!