Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Saat Belanja Rokok Menggeser Gizi Anak

Saat Belanja Rokok Menggeser Gizi Anak
Minat|Memasak

Anggaran rokok mengungguli sejumlah pangan

Belanja rokok keluarga adalah pengeluaran rumah tangga untuk rokok dan tembakau yang, ketika mengambil porsi lebih besar daripada pangan bergizi, dapat membatasi pemenuhan kebutuhan nutrisi anak. Masalah ini bukan semata pilihan konsumsi orang dewasa: ketika anggaran terbatas, setiap rupiah yang diarahkan ke rokok berpotensi mengurangi ruang untuk makanan keluarga. Data BPS dalam laporan konsumsi penduduk Maret 2026, yang dirilis 5 Oktober 2026, memperlihatkan rata-rata pengeluaran rokok dan tembakau mencapai Rp 94.180 per kapita per bulan. Angka itu melampaui pengeluaran telur dan susu sebesar Rp 44.915, daging Rp 40.352, ikan dan hasil laut Rp 63.533, sayuran Rp 65.257, serta buah-buahan Rp 46.010 per kapita per bulan. Bahkan pengeluaran padi-padian, termasuk beras, tercatat Rp 92.141. Perbandingan ini tidak membuktikan setiap keluarga memiliki pola belanja sama, tetapi cukup menjadi peringatan bahwa prioritas anggaran patut diperiksa.

Ketika gizi anak kalah dalam keputusan rumah tangga

Pakar Promosi Kesehatan FK-KMK UGM, Profesor Yayi Suryo Prabandari, memperingatkan bahwa pergeseran prioritas belanja dapat mengancam tumbuh kembang anak dan meningkatkan risiko stunting. Dampaknya terasa pada pemenuhan gizi keluarga, tetapi keputusan belanja tidak selalu dibuat setara. Yayi menyoroti bahwa ibu yang bukan pencari nafkah utama mungkin tidak memiliki daya tawar untuk mengatur alokasi anggaran ketika suami menjadi satu-satunya pencari nafkah. Karena itu, menyerahkan seluruh tanggung jawab perubahan kepada ibu atau pengasuh tidak menyentuh akar persoalan. Belanja telur dan sumber pangan bergizi lain perlu dipandang sebagai kebutuhan utama, bukan pos yang bisa dikorbankan begitu saja. Jika pengeluaran rokok terus didahulukan, pilihan makanan anak dapat menyempit, terutama di rumah tangga yang sejak awal memiliki sumber daya terbatas.

Peringatan Yayi menempatkan kebiasaan merokok sebagai persoalan kesehatan keluarga sekaligus persoalan pembagian kuasa dalam mengelola uang rumah tangga.

Tekanan ekonomi memperbesar kerentanan

Keluarga miskin dan sangat miskin disebut memiliki kebiasaan merokok paling tinggi dalam hasil kajian yang disampaikan Yayi. Di tengah tekanan ekonomi, rokok dapat berfungsi sebagai hiburan atau cara menghadapi stres, tetapi jika kebiasaan itu mengorbankan makanan anak, beban akhirnya jatuh pada anggota keluarga yang paling rentan. Di sinilah risiko stunting tidak bisa dipisahkan dari kondisi sosial dan pilihan belanja sehari-hari. Menyalahkan keluarga miskin saja akan mengabaikan tekanan yang membentuk keputusan mereka; namun menganggap pengeluaran rokok tak berdampak juga keliru. Jalan keluarnya perlu membantu keluarga menata ulang prioritas sekaligus memberi dukungan yang masuk akal untuk mengurangi ketergantungan pada rokok. Perhatian pada gizi anak harus hadir dalam percakapan tentang anggaran, bukan hanya dalam kampanye kesehatan.

Perubahan perlu dukungan lingkungan

Yayi menilai imbauan dari tenaga kesehatan saja tidak cukup untuk memutus adiksi rokok. Ia mendorong pendekatan pemberdayaan masyarakat yang melibatkan tokoh lokal tepercaya, seperti lurah, pengurus RT/RW, dan tokoh agama, agar pesan tentang masa depan serta gizi anak sampai melalui saluran yang dekat dengan warga. Ia juga menyebut dorongan untuk membangun desa atau rumah bebas asap rokok; di sejumlah daerah di DIY, beberapa pengelola warung telah membuat kesepakatan menolak menjual rokok kepada anak-anak. Di tingkat keluarga, langkah awal yang disarankan ialah tidak merokok di dalam rumah dan perlahan mengalihkan sebagian anggaran kebiasaan merokok untuk makanan bergizi. Upaya tersebut bukan pengganti kebijakan yang lebih luas, tetapi dapat memberi dukungan praktis bagi keluarga yang ingin berubah.

Kesimpulannya, data belanja bukan vonis bagi setiap rumah tangga, tetapi menunjukkan ketimpangan prioritas yang layak ditanggapi. Melindungi gizi anak menuntut keputusan belanja yang berpihak pada pangan, dukungan bagi keluarga yang tertekan, serta keterlibatan masyarakat untuk membantu mengurangi kebiasaan merokok. Jika rokok terus mengambil ruang dari kebutuhan makan anak, peringatan tentang stunting akan tetap relevan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!