Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Belanja Rokok Menggeser Pangan Bergizi, Anak Menanggung Risikonya

Belanja Rokok Menggeser Pangan Bergizi, Anak Menanggung Risikonya
Minat|Gaya Hidup Sehat

Ketika rokok mengalahkan pangan bergizi

Belanja rokok keluarga adalah pengeluaran rumah tangga untuk produk tembakau yang dapat mengurangi anggaran bagi makanan bergizi, termasuk pangan yang dibutuhkan anak untuk tumbuh sehat. Data Susenas Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2026 membuat persoalan prioritas itu terlihat jelas: rata-rata pengeluaran rokok dan tembakau mencapai Rp94.180 per kapita per bulan. Angka ini jauh di atas belanja daging sebesar Rp40.352 dan telur serta susu sebesar Rp44.915. Perbandingan tersebut bukan bukti bahwa setiap keluarga mengurangi jatah makan demi rokok, tetapi cukup menjadi tanda bahaya: ketika anggaran terbatas, pilihan belanja ikut menentukan mutu makanan yang tersedia di rumah. Rokok bukan kebutuhan gizi, sementara daging, telur, dan susu dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan anak. Menempatkan keduanya dalam persaingan anggaran tanpa mempertimbangkan dampaknya berarti mengabaikan kepentingan anak.

Susenas juga mencatat rata-rata pengeluaran masyarakat sebesar Rp1.657.281 per kapita per bulan, meningkat dari Rp1.569.088 pada Maret 2025. Dalam konteks pengeluaran yang terbagi antara kebutuhan pangan dan nonpangan, besarnya belanja rokok patut dibaca sebagai persoalan kesehatan keluarga, bukan sekadar kebiasaan pribadi. Pakar Promosi Kesehatan FK-KMK UGM Yayi Suryo Prabandari menilai pergeseran prioritas belanja berdampak pada pemenuhan gizi keluarga. Kritiknya tepat: kemampuan membeli bahan pangan bergizi menentukan apa yang dapat disajikan di rumah, dan keputusan belanja orang dewasa dapat membawa konsekuensi bagi anak.

Dari pilihan belanja menuju risiko stunting

Kekhawatiran utama bukan semata perbedaan angka, melainkan dampaknya bila pengeluaran rokok terus menekan belanja daging susu dan pangan bergizi lain. Stunting atau tengkes berkaitan dengan kekurangan gizi dalam jangka panjang; karena itu, kecukupan makanan bergizi penting bagi tumbuh kembang anak. Yayi memperingatkan bahwa pergeseran prioritas rumah tangga dapat meningkatkan ancaman gagal tumbuh. Risiko stunting tidak bisa disimpulkan dari satu pos anggaran saja, tetapi pola belanja yang berulang dapat membatasi ragam dan kecukupan makanan anak. Itu alasan angka Susenas layak menjadi bahan evaluasi keluarga dan pembuat kebijakan, bukan alasan untuk menyalahkan orang tua secara sederhana.

Dampaknya juga terkait dengan siapa yang memiliki kuasa menentukan penggunaan uang. Yayi mengingatkan bahwa tidak semua ibu memiliki daya tawar untuk mengatur anggaran ketika suami menjadi satu-satunya pencari nafkah. Menuntut ibu memperbaiki menu tanpa membicarakan kendali atas uang keluarga tidak menyentuh akar persoalan. Belanja rokok yang kerap melampaui pengeluaran untuk bahan pangan bergizi perlu dibahas sebagai keputusan rumah tangga bersama, dengan kebutuhan anak ditempatkan di depan. Pendidikan gizi akan lebih berarti jika disertai ruang bagi pengasuh untuk memengaruhi prioritas belanja dan dukungan bagi keluarga yang menghadapi tekanan ekonomi.

Pencegahan perlu melampaui imbauan

Imbauan tenaga kesehatan saja tidak cukup untuk mengubah kebiasaan merokok yang telah melekat, terutama ketika rokok dipandang sebagai hiburan di tengah tekanan ekonomi. Yayi mendorong pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan tokoh yang dipercaya, seperti lurah, pengurus RT/RW, dan tokoh agama. Pendekatan ini lebih menjanjikan bila percakapan tentang bahaya rokok disambungkan dengan hal konkret: bagaimana anggaran keluarga dapat lebih dahulu memenuhi kebutuhan pangan anak. Tujuannya bukan mempermalukan perokok, melainkan membantu keluarga melihat pengorbanan yang mungkin timbul ketika rokok terus mengambil porsi belanja.

Gerakan desa dan rumah bebas asap rokok juga terus didorong, sementara program pendamping sebaya di sekolah dikembangkan untuk mencegah pelajar mencoba merokok. Langkah-langkah tersebut penting, tetapi harus berjalan bersama upaya memperkuat keputusan belanja yang mendukung gizi anak. Data Susenas bukan vonis bagi setiap rumah tangga; ia adalah peringatan bahwa kebiasaan konsumsi dapat berbenturan dengan kebutuhan tumbuh kembang. Kesimpulannya tegas: ketika belanja rokok keluarga melampaui belanja pangan bergizi, anak berisiko menanggung akibatnya. Prioritas anggaran perlu bergeser ke makanan yang menunjang pertumbuhan, disertai dukungan sosial yang membantu keluarga mengurangi ketergantungan pada rokok.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!