Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Anak Muda Perlu Berani Menentukan Arah AI

Anak Muda Perlu Berani Menentukan Arah AI
Minat|Eksplorasi Aplikasi AI

Jangan takut, tetapi jangan pasif

Kecerdasan artifisial (AI) adalah teknologi buatan manusia yang dapat menjalankan tugas dan menghasilkan konten, tetapi tidak memiliki hati nurani maupun pengalaman manusia. Karena itu, sikap terbaik bukan takut atau menyerahkan kendali kepadanya, melainkan belajar menggunakannya dengan tujuan yang jelas. Dalam Indonesia Youth Summit 2026 di Jakarta pada Jumat, 30 Oktober, Staf Khusus Presiden Raffi Ahmad mengajak peserta agar tidak gentar menghadapi kemajuan AI. Ia menyoroti kekhawatiran pekerja kreatif, termasuk pembuat film dan konten, ketika tokoh berbasis AI makin banyak muncul di media sosial. Seruan Raffi agar anak muda terus belajar dan berkarya dengan hati layak dibaca sebagai dorongan untuk mempertahankan kualitas yang tidak lahir dari otomatisasi: empati, pengalaman, dan pilihan artistik. Namun, hati saja tidak cukup; keberanian harus disertai kecakapan dan tanggung jawab.

Indonesia Youth Summit menghimpun 160 peserta terpilih dari seluruh provinsi dalam program Kementerian Pemuda dan Olahraga. Selama sekitar 10 hari, mereka mengikuti forum diskusi, pameran usaha, eksplorasi teknologi, kegiatan digitalisasi dan kesehatan mental, debat, serta ruang ekspresi kreatif. Susunan kegiatan ini penting: generasi muda tak cukup diberi pesan motivasi, tetapi perlu ruang untuk menguji gagasan dan menciptakan karya. Menghadapi AI dengan percaya diri bukan berarti menganggap semua dampaknya baik. Artinya, anak muda berani memahami batas teknologi, memeriksa hasilnya, lalu memutuskan kapan AI membantu dan kapan penilaian manusia harus memimpin.

Dari pengguna menjadi penentu

Menkomdigi Meutya Hafid menilai anak muda berperan menentukan arah pengembangan dan pemanfaatan AI agar teknologinya menghasilkan manfaat bagi masyarakat. Pandangan ini seharusnya mengubah posisi generasi muda: bukan hanya konsumen aplikasi, melainkan pihak yang ikut menetapkan masalah apa yang layak diselesaikan dan nilai apa yang harus dijaga. Meutya menekankan bahwa keputusan akhir harus tetap berada di tangan manusia; empati dan cinta tanah air, katanya, tidak dimiliki AI. Maka, keterlibatan anak muda perlu hadir sejak perancangan, pengujian, hingga evaluasi teknologi—bukan setelah dampak buruknya telanjur dirasakan.

Desakan untuk ikut menentukan arah AI makin nyata karena teknologi ini memengaruhi pekerjaan sekaligus cara orang berkarya. Dalam proyeksi yang dipaparkan Meutya, 92 juta pekerjaan diperkirakan tergantikan dan 170 juta pekerjaan baru muncul pada 2030. Sementara itu, 62 persen perusahaan mencari tenaga kerja yang mampu bekerja dengan AI, dan 77 persen meningkatkan keterampilan pekerjanya. Angka tersebut bukan alasan untuk panik, tetapi peringatan bahwa menunggu sampai perubahan datang akan mempersempit pilihan. Berpikir kritis, berani bertanya, berinovasi, dan bertanggung jawab adalah bekal agar anak muda dapat memengaruhi perubahan, bukan sekadar menanggung akibatnya.

Manfaat harus terasa, perlindungan harus nyata

Ukuran keberhasilan pemanfaatan AI bukan seberapa canggih sistemnya, melainkan apakah ia membantu orang menyelesaikan persoalan sehari-hari. Meutya mencontohkan AI dan Internet of Things untuk mengefisienkan pengelolaan lumbung padi di Sragen, membantu petambak ikan nila di Sukabumi menghemat listrik, serta mendukung UMKM membaca data pelanggan. Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa teknologi layak dikembangkan ketika manfaatnya menjangkau kebutuhan nyata, termasuk di luar pusat-pusat digital. Anak muda yang mengenal konteks daerahnya dapat membantu memastikan solusi tidak hanya dirancang untuk pengguna yang paling mudah terlihat.

Manfaat itu tidak akan bertahan jika keamanan dan keadilan diabaikan. Meutya memperingatkan bahwa data yang tidak beragam dapat membuat AI bias dan lebih banyak memberi validasi daripada informasi akurat. Ia juga menegaskan bahwa pertumbuhan digital harus berjalan bersama perlindungan masyarakat, bukan mengorbankan nilai kemanusiaan demi angka ekonomi. Karena itu, pemerintah mendorong pendidikan sains dan teknologi, riset, serta kolaborasi perguruan tinggi, startup, dan investor; pemerintah juga mengajukan Peraturan Presiden tentang Etika AI dan Peta Jalan AI. Kesimpulannya, anak muda perlu menyambut AI tanpa rasa takut, tetapi dengan sikap aktif: belajar, mencipta, menguji dampak, dan menuntut aturan yang melindungi semua orang. Arah teknologi tidak boleh ditentukan mesin semata—manusialah yang harus memimpinnya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!