Pemulihan trauma gempa: lebih dari membangun rumah kembali
Pemulihan trauma gempa adalah proses jangka panjang untuk mengurangi ketakutan, kecemasan, dan gangguan emosi penyintas melalui pendampingan psikologis bencana yang terstruktur, berkelanjutan, dan terintegrasi dengan dukungan sosial serta layanan dasar lainnya. Gempa yang mengguncang Manggarai Barat pada 15 Agustus meninggalkan jejak yang tidak kelihatan: orang-orang di Desa Golo Sepang masih bertahan di tenda karena takut pulang ke rumah dan khawatir gempa susulan. Di titik ini, paket sembako dan tenda darurat berguna, tetapi tidak cukup. Rasa khawatir, perubahan rutinitas, dan suasana pengungsian mengganggu kesehatan mental pascagempa, mengubah cara warga tidur, bekerja, dan berinteraksi. Pendekatan pemulihan trauma gempa yang hanya berfokus pada bantuan fisik berarti membiarkan luka psikologis membusuk pelan, sampai suatu hari meledak menjadi apatis, kecemasan kronis, atau putus asa kolektif.

Mahasiswa Undiknas: kampus sebagai laboratorium empati nyata
Kehadiran mahasiswa Undiknas di Golo Sepang melalui KKN Tematik Kebencanaan selama 20–22 September menjadi bukti bahwa pendidikan tinggi baru bermakna jika menyentuh luka sosial yang nyata. Mereka tidak datang sebagai rombongan pembagi sembako, tetapi sebagai relawan yang merancang trauma healing penyintas dengan bahasa yang sederhana: permainan, senam, olahraga, dan edukasi kesiapsiagaan bencana untuk ratusan siswa SD serta pendampingan untuk puluhan lansia."Fokus utama dalam kegiatan ini untuk membantu masyarakat menyembuhkan rasa trauma akibat gempa dengan memberikan trauma healing" kata Wakil Rektor I Undiknas, Prof. Ni Wayan Widhiasthini. Pendampingan ini membuat anak-anak kembali tertawa dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar, sementara lansia memperoleh ruang aman untuk didengar dan ditemani. Inilah bentuk pendampingan psikologis bencana yang seharusnya: terencana, multidisiplin, dan mengembalikan rasa normal dalam hidup sehari-hari.
Polisi dan relawan psikososial: mengubah aparat dan organisasi jadi sahabat anak
Pemulihan trauma gempa di NTT memperlihatkan sesuatu yang jarang: polisi dan relawan psikososial berdiri di barisan yang sama dengan mahasiswa. Melalui Operasi Aman Nusa II, Satlantas Polres Ngada menggelar trauma healing bagi siswa SD Negeri Rada di Desa Rada, Bajawa. Anak-anak diajak bernyanyi, diberi motivasi, hingga diajak berkeliling kota dengan kendaraan dinas; langkah sederhana yang efektif mengembalikan keceriaan dan membantu mereka melupakan ketakutan akibat gempa. Pada saat yang sama, PMI Jember mengirim satu relawan psikososial, Elvana Kusdijanto, untuk dua pekan pendampingan trauma healing, konseling, dan dukungan emosional bagi penyintas gempa."Elvana akan memberikan pendampingan trauma healing, konseling dan pendampingan emosional dan membangun kembali semangat sosial para korban di NTT" kata Narto, perwakilan PMI Jember. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pendampingan psikologis bencana tidak bisa diserahkan pada satu lembaga; butuh kehadiran aparat, organisasi kemanusiaan, dan tenaga terlatih di tingkat akar rumput.
Menuju sistem kesehatan mental pascagempa yang berkelanjutan
Rangkaian inisiatif di NTT—dari KKN Undiknas, trauma healing polisi, hingga relawan psikososial PMI—menawarkan cetak biru awal bagi sistem kesehatan mental pascagempa yang lebih serius. Polda NTT sendiri menempatkan pendampingan psikologis anak sebagai bagian dari operasi darurat yang komprehensif, berdampingan dengan pendataan, bantuan sosial, dan pembersihan fasilitas ibadah serta sekolah. Relawan PMI dikirim minimal dua pekan dan bisa diperpanjang sesuai kebutuhan, tanda bahwa lembaga ini mengakui trauma tidak selesai dalam hitungan hari. Di sisi kampus, pengalaman KKN ini bahkan akan diolah menjadi karya tulis dan publikasi, mengaitkan praktik lapangan dengan pengembangan ilmu. Kesimpulannya tegas: trauma healing penyintas harus diperlakukan sebagai layanan publik yang sistematis, terukur, dan lintas lembaga. Jika tidak, kita sedang membiarkan generasi pascagempa tumbuh di atas fondasi rasa takut yang belum tuntas.






