Mahasiswa Psikologi Turun Langsung: Trauma Healing Gempa di NTT

Mahasiswa Psikologi Turun Langsung: Trauma Healing Gempa di NTT
Minat|Kesehatan Mental

Trauma Healing Gempa: Dari Ruang Kuliah ke Tanah yang Retak

Trauma healing gempa adalah bentuk pendampingan psikologis bencana yang berfokus pada pemulihan emosi, rasa aman, dan fungsi sehari-hari penyintas setelah guncangan fisik dan mental, melalui dukungan mental penyintas yang sistematis, empatik, dan berbasis ilmu psikologi agar dampak psikologis jangka pendek tidak berkembang menjadi gangguan berkepanjangan. Di NTT, konsep itu tidak berhenti di buku teks. Mahasiswa jurusan psikologi Universitas Indonesia diajak Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka turun langsung untuk membantu trauma healing terhadap penyintas gempa di lokasi bencana pada Kamis, 20 Agustus 2026. Langkah ini muncul hanya dua hari setelah demonstrasi BEM UI di Jakarta pada 18 Agustus, menegaskan bahwa energi kritis mahasiswa bisa bertransformasi menjadi kerja pemulihan di lapangan. Keputusan membawa mahasiswa psikologi lapangan ke episentrum krisis adalah sinyal kuat: kesehatan mental tidak boleh jadi urusan belakangan.

Mahasiswa Psikologi Turun Langsung: Trauma Healing Gempa di NTT

Dua Wajah Mahasiswa: Aktivis Perubahan dan Pendamping Trauma

Publik sempat tergoda menghubungkan aksi demo BEM UI dengan keberangkatan mahasiswa psikologi ke NTT. Padahal, sebagaimana diingatkan Direktur Eksekutif Cyrus Network, Hafizhul Mizan, fungsi mahasiswa sebagai aktivis perubahan dan sebagai pelaksana pengabdian masyarakat adalah dua peran yang terpisah. Justru di sinilah poin pentingnya: kelompok yang dua hari sebelumnya meneriakkan tuntutan di jalanan kini memegang tangan warga yang kehilangan rumah dan keluarga. "Kemarin sebagai demonstran sebagai kritik terhadap pemerintahan, hari ini melakukan fungsinya sebagai pengabdian kepada masyarakat yang terkena bencana," ujar Hafizhul. Kita perlu melihat ini bukan sebagai upaya meredam suara kritis, tetapi sebagai pengakuan bahwa ilmu dan kepedulian mahasiswa dibutuhkan di medan krisis. Perdebatan politik boleh berlanjut, namun pendampingan psikologis bencana tidak bisa menunggu siklus berita.

Praktik Lapangan: Menguji Teori Psikologi di Situasi Nyata

Keterlibatan mahasiswa psikologi UI dalam trauma healing gempa di NTT adalah praktik lapangan yang difasilitasi langsung oleh pemerintah melalui Wapres Gibran, bukan kegiatan sambilan tanpa struktur. Di sini teori akademik tentang krisis, stres akut, dan pemulihan psikososial bertemu dengan wajah-wajah lelah di tenda pengungsian. Hafizhul menilai pola seperti ini lazim di berbagai bencana: akses ke lokasi dan penerima bantuan kerap membutuhkan dukungan negara. Bagi mahasiswa, ini bukan sekadar kesempatan menambah jam praktik, melainkan ujian etis: mampukah mereka mengubah konsep dukungan mental penyintas menjadi interaksi yang peka konteks, menghormati budaya lokal, dan tidak memaksa korban bercerita sebelum siap? Kegiatan mahasiswa psikologi lapangan di NTT menunjukkan bahwa kurikulum psikologi yang serius tidak bisa mengabaikan simulasi krisis, karena medan bencana adalah kelas paling jujur.

Dampak Nyata Bagi Penyintas dan Agenda Pemerintah

Di sisi pemerintah, kehadiran mahasiswa psikologi UI menjadi bagian dari upaya melihat langsung kondisi masyarakat terdampak gempa dan memastikan kebutuhan mereka selama masa tanggap darurat terpenuhi. Trauma healing gempa yang dilakukan di tahap ini mungkin belum menghapus mimpi buruk atau rasa kehilangan, tetapi ia memberi sesuatu yang mendasar: rasa didengar dan tidak dibiarkan menanggung beban sendiri. Kunjungan ini juga diharapkan membantu pemerintah menyesuaikan proses pemulihan dengan kondisi serta kebutuhan masyarakat di lapangan. Artinya, informasi psikologis dari relawan dan mahasiswa dapat memengaruhi kebijakan pemulihan: apakah camp pengungsian perlu ruang bermain anak, apakah jadwal distribusi bantuan mengganggu ritme ibadah, atau apakah ada kelompok rentan yang tersisih. Jika diolah serius, pengalaman ini mampu menggeser paradigma penanganan bencana dari sekadar logistik menuju pemulihan manusia seutuhnya.

Kesimpulan: Menjadikan Dukungan Mental Penyintas sebagai Standar Tanggap Darurat

Kisah mahasiswa psikologi UI yang baru saja turun ke jalan lalu turun ke lokasi gempa di NTT adalah cermin arah baru gerakan mahasiswa: berargumentasi di ruang publik, sekaligus bekerja di ruang luka. Pendampingan psikologis bencana yang mereka lakukan menunjukkan bahwa dukungan mental penyintas harus menjadi bagian standar dari respons bencana, bukan lampiran sukarela. Ketika praktik lapangan difasilitasi negara dan diisi tenaga muda terlatih, kita melihat sketsa ekosistem baru: pemerintah yang mau mendengar, kampus yang membuka jalan, dan warga yang tidak ditinggalkan sendirian menghadapi trauma. Tugas berikutnya jelas: menjadikan pola trauma healing gempa yang menggabungkan teori dan praktik ini sebagai protokol tetap, bukan respons sporadis ketika sorotan media sedang tinggi. Jika itu tercapai, setiap gempa mungkin tetap meruntuhkan bangunan, tetapi tidak harus meruntuhkan harapan para penyintas.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!