Apa Itu Program MBG dan Mengapa Harus Dievaluasi Sekarang?
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah kebijakan prioritas yang menyediakan makan bergizi gratis anak, dengan tujuan memperbaiki kualitas gizi, membangun literasi gizi, dan mendukung hak dasar anak atas kesehatan dan perkembangan yang layak dalam jangka panjang. Setelah berjalan lebih dari satu setengah tahun, dengan perluasan pelaksanaan dan anggaran besar, program ini tidak bisa lagi diperlakukan sebagai pilot project. Pertanyaannya bukan sekadar apakah MBG populer, melainkan apakah evaluasi program MBG menunjukkan ketepatan sasaran MBG dan dampak gizi balita serta kelompok rentan yang menjadi alasan program ini lahir. Seperti disindir dalam sebuah diskusi, “karyawan saja tiap enam bulan dapat mid-year performance review”; program yang menyentuh puluhan juta anak tentu wajib menjalani pemeriksaan lebih ketat.

Ketepatan Sasaran: Antara Stunting, Rasa Lapar, dan Prioritas Usia
Secara resmi, MBG kerap dikaitkan dengan tiga isu: mengatasi rasa lapar, memperbaiki gizi, dan mencegah stunting. Di sinilah masalah mulai muncul. Evaluasi program MBG berbasis kerangka public value Mark Moore menyoroti bahwa fokus program cenderung bergeser-geser, sehingga sulit mengukur dampak nyata. Data yang dibedah menunjukkan sekitar 77 persen penerima adalah siswa SD hingga SMA, sementara ibu hamil hanya sekitar 1,4 persen, ibu menyusui 3,3 persen, dan balita 10 persen. Padahal, pencegahan stunting sangat bergantung pada pemenuhan gizi di 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), ketika balita dan ibu hamil seharusnya menjadi prioritas utama. Kritik tajam lalu muncul: jangan sampai yang lapar hanya satu dari seratus, tetapi 99 yang tidak lapar justru menikmati makan bergizi gratis anak tanpa seleksi kebutuhan.

Dimensi Gizi, Karakter, dan Ekonomi: Kekuatan Besar MBG
Meski menuai kritik, tak bisa dipungkiri bahwa MBG punya dimensi positif yang luas. Deputi Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa masyarakat dengan tingkat kesejahteraan rendah, terutama desil 1 hingga 5, menjadi prioritas penerima sebagai bentuk pemenuhan hak dasar anak atas gizi dan layanan kesehatan paripurna. BGN juga menekankan bahwa MBG bukan sekadar program pemberian makanan; ada tujuan membangun literasi gizi, agar anak memahami kandungan gizi dan sumber pangan di sekitarnya, sekaligus pembentukan karakter melalui kebiasaan makan sehat. Di sisi lain, rantai pasok MBG melibatkan petani, peternak, koperasi, dan pelaku usaha lokal, menciptakan kontribusi ekonomi sekitar Rp14,61 triliun dan menyerap sekitar 1,28 juta tenaga kerja, dengan aliran dana Rp600 miliar ke peternak. Ini menunjukkan, bila dikelola tepat, MBG adalah penggerak ekonomi lokal sekaligus investasi gizi.
Implementasi di Lapangan: Antara Kebersihan, Anggaran, dan Pembelajaran dari Bali
Tantangan paling berat MBG tampak pada level implementasi. Dalam sebuah diskusi di kampus, ahli kebijakan menyoroti bahwa cakupan sasaran sekitar 82,9 juta orang membuat kebutuhan anggaran harian diperkirakan mencapai Rp1 triliun hingga Rp1,2 triliun; dengan skala sebesar itu, efisiensi 1 persen saja bisa menghemat sekitar Rp12 miliar, dan 5 persen hingga Rp60 miliar. Di lapangan, program sempat tersendat oleh masalah kebersihan dapur, isu anggaran, serta kenaikan harga bahan pangan yang menekan penyedia makanan. Namun evaluasi ketat mendorong perbaikan nyata di beberapa wilayah. Di Bali, dapur MBG diwajibkan memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi, dan dapur yang tidak memenuhi standar ditutup permanen, sebagai langkah tegas menjaga mutu. Menurut seorang praktisi pendidikan, “Program Makan Bergizi Gratis di Bali menunjukkan progress penyempunaan yang signifikan” berkat pembenahan tata kelola yang menyasar kualitas dan ketepatan sasaran.

Apa yang Harus Diperbaiki ke Depan?
Hingga akhir Agustus, MBG diklaim telah menjangkau lebih dari 62 juta penerima manfaat, termasuk anak sekolah dan kelompok rentan. BGN menyatakan program ini adalah strategi investasi sumber daya manusia dan terus disempurnakan agar manfaat terasa optimal khususnya bagi anak usia sekolah, ibu hamil, dan lansia. Di sisi lain, para akademisi dan aktivis mengingatkan bahwa pencegahan stunting tidak cukup hanya dengan pemberian makanan; upaya harus dimulai sejak hulu, termasuk pemenuhan gizi remaja dan pencegahan anemia sebelum kehamilan. Mereka juga sepakat bahwa keberhasilan MBG bergantung pada implementasi terukur, tata kelola bersih, ketepatan sasaran, dan efisiensi anggaran agar program berkelanjutan. Pemerintah menargetkan pembenahan manajemen komprehensif rampung sebelum evaluasi besar pada Oktober, dengan harapan evaluasi program MBG berikutnya tidak lagi berkutat pada masalah dasar, melainkan sudah menilai dampak gizi balita dan kualitas hidup anak secara nyata.






