Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Tumpek Uye: Saat Spiritualitas Bali Bertemu Kesehatan Hewan Modern

Tumpek Uye: Saat Spiritualitas Bali Bertemu Kesehatan Hewan Modern
Minat|Perawatan Hewan Peliharaan

Tumpek Uye Bali: Hari Raya Hewan yang Berubah Menjadi Gerakan Kesehatan Publik

Tumpek Uye Bali adalah hari raya keagamaan yang jatuh pada Saniscara Kliwon Wuku Uye, dipersembahkan untuk memuliakan hewan sebagai bagian dari ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sekaligus mengingatkan manusia untuk menjaga keharmonisan dengan alam dan seluruh makhluk hidup melalui penghormatan, ritual, dan aksi nyata pelestarian satwa. Perayaan Tumpek Uye tahun ini menegaskan satu pesan penting: spiritualitas tidak cukup berhenti pada altar. Pemerintah Kota Denpasar menjadikannya momentum konkret untuk kesehatan hewan Bali lewat vaksinasi rabies gratis dan sterilisasi hewan gratis di Pura Agung Jagatnatha. Sikap ini patut dipuji, karena menolak memisahkan "sakral" dari urusan praktis seperti pengendalian rabies dan populasi anjing. Ketika rahina suci yang oleh umat dipandang sebagai hari raya hewan disinergikan dengan layanan kesehatan hewan peliharaan, Tumpek Uye naik kelas dari sekadar perayaan tradisional Bali menjadi gerakan sosial yang menyentuh kehidupan sehari-hari.

Tumpek Uye: Saat Spiritualitas Bali Bertemu Kesehatan Hewan Modern

Denpasar di Pusat Perubahan: Dari Persembahyangan ke Vaksinasi Rabies Gratis

Di Denpasar, rangkaian Tumpek Uye Bali dipusatkan di Pura Agung Jagatnatha dan jelas menolak pola lama yang memisahkan upacara dari tindakan nyata. Wali Kota I Gusti Ngurah Jaya Negara bersama Sekda I Gusti Ngurah Eddy Mulya hadir dalam persembahyangan, lalu mengalihkan fokus ke program vaksinasi rabies gratis dan sterilisasi hewan gratis bagi warga. Anjing dan hewan peliharaan dibawa mengikuti prosesi otonan sebelum menerima vaksin di jaba pura, seakan menegaskan bahwa hewan bukan sekadar objek sesaji, melainkan subjek yang berhak atas perlindungan kesehatan. Pernyataan Jaya Negara bahwa vaksinasi rabies gratis adalah bentuk kepedulian terhadap kesehatan dan kesejahteraan hewan serta upaya mencegah rabies menunjukkan keberanian mengartikan devosi keagamaan dalam bahasa kebijakan publik, bukan hanya doa. Bagi warga, ini berarti perayaan tradisional Bali langsung berwujud akses layanan kesehatan hewan Bali yang mudah dan tanpa biaya.

Serentak Se-Bali: Tumpek Uye Sebagai Agenda Pelestarian Satwa, Bukan Upacara Seremonial

Rahina Tumpek Uye tahun ini berlangsung serentak di seluruh kabupaten/kota se-Bali dan dengan tegas menolak anggapan bahwa tradisi hanya urusan lokal dan nostalgia. Di tingkat provinsi, puncak perayaan di Pura Luhur Batukau, Penebel, Tabanan, diisi dengan memberi makan ikan di kolam beji dan melepas ratusan burung ke alam bebas sebagai simbol pemeliharaan ekosistem. Setelah persembahyangan, Gubernur Wayan Koster meninjau vaksinasi rabies dan sterilisasi massal terhadap Hewan Penular Rabies, khususnya anjing, di Banjar Wangaya Kaja. Ini bukan hiasan acara, tetapi pengakuan politik bahwa kesehatan hewan Bali adalah bagian tak terpisahkan dari kesehatan lingkungan dan manusia. Ketika pejabat tertinggi hadir mengawasi vaksinasi rabies gratis dan sterilisasi anjing, pesan yang dikirim jelas: perayaan tradisional Bali harus diterjemahkan menjadi kebijakan konkrit yang menahan laju rabies sekaligus mencegah populasi anjing tak terkendali, bukan hanya rangkaian mantra dan bunga.

Tumpek Uye: Saat Spiritualitas Bali Bertemu Kesehatan Hewan Modern

Spiritualitas, Bhuwana Agung, dan Tanggung Jawab Mengendalikan Populasi Hewan

Makna Tumpek Uye yang diuraikan Kabag Kesra Putu Agus Jayadi menolak pandangan sempit bahwa hari raya hewan cukup dipenuhi dengan banten di kandang. Ia menegaskan bahwa Tumpek Uye memuliakan hewan sebagai bagian dari Bhuwana Agung sekaligus menjadi sarana penyucian Bhuwana Alit, diri manusia, dari sifat kebinatangan. Jika sifat kebinatangan yang dimaksud adalah sikap abai dan eksploitatif terhadap satwa, maka vaksinasi rabies dan sterilisasi hewan gratis adalah ujian nyata apakah umat sungguh menginternalisasi ajaran itu. Menjaga keseimbangan dan keharmonisan antara manusia, alam, dan seluruh makhluk hidup tidak mungkin terwujud bila anjing dibiarkan tanpa vaksin dan berkembang biak tanpa kontrol sehingga berpotensi menyebarkan rabies. Dalam konteks ini, program kesehatan hewan Bali justru memperdalam spiritualitas: rabies dicegah, populasi anjing terkendali, dan hubungan manusia-hewan dijaga lewat rasa hormat yang diwujudkan dalam tindakan.

Mengapa Tumpek Uye Harus Terus Menjadi Ruang Kolaborasi Tradisi dan Sains

Keputusan menjadikan vaksinasi rabies gratis dan sterilisasi anjing sebagai bagian integral perayaan Tumpek Uye adalah langkah berani yang selayaknya dipertahankan, bahkan diperluas. Pemerintah Kota Denpasar mengaku program vaksinasi rabies rutin dilakukan, namun yang membuat kali ini istimewa adalah kaitannya langsung dengan Rahina Tumpek Uye. Mengikat layanan kesehatan hewan pada kalender sakral membuat warga punya titik rujukan yang kuat untuk membawa hewan peliharaan ke ruang publik, menjalani otonan, lalu divaksin dan disterilkan. Ini menciptakan siklus baru: tradisi memantik partisipasi, sains memastikan manfaat jangka panjang. Jika perayaan tradisional Bali ingin tetap hidup dan relevan di tengah ancaman rabies dan tekanan terhadap ekosistem, maka model Tumpek Uye seperti di Denpasar dan Batukau layak dijadikan contoh; bukan dengan menambahkan lebih banyak seremoni, melainkan lebih banyak tanggung jawab kolektif terhadap kesehatan hewan dan kelestarian alam.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!