Sunscreen sebagai isu pendidikan kesehatan, bukan sekadar kosmetik
Program edukasi sunscreen untuk generasi muda adalah inisiatif pendidikan kesehatan yang bertujuan membentuk kebiasaan perlindungan UV sejak dini melalui penjelasan ilmiah, latihan praktik, dan diskusi kritis tentang risiko paparan sinar matahari berlebihan serta bahaya penggunaan kosmetik pemutih yang tidak aman dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah dan keluarga. Kesalahan terbesar kita selama ini adalah menganggap sunscreen sebagai urusan estetika, padahal ia adalah "alat pelindung" jangka panjang bagi kesehatan kulit anak dan remaja. Paparan sinar ultraviolet (UV) berlebihan terbukti meningkatkan risiko gangguan kesehatan kulit, dan mengabaikannya sama saja dengan menormalisasi perilaku tidak sehat. Karena itu, menjadikan edukasi sunscreen anak bagian dari kurikulum informal di sekolah jauh lebih masuk akal daripada membiarkan mereka belajar dari iklan dan media sosial.
SAPA UV di SD: membangun kebiasaan perlindungan UV sejak dini
Di Barru, mahasiswa KKN Profesi Kesehatan Angkatan 69 Universitas Hasanuddin menyelenggarakan program SAPA UV (Sadar Akan Perlindungan dari Ultraviolet) untuk siswa kelas VI di MI At Taufiq Maralleng, Desa Pao-Pao, pada 20 Juli 2026. Sebanyak 22 siswa mengikuti edukasi penggunaan sunscreen sebagai upaya perlindungan kulit, dengan materi mulai dari pengenalan sinar UV, manfaat dan dampak sinar matahari, hingga cara memilih SPF dan teknik penggunaan yang benar. Fakta bahwa edukasi dimulai di tingkat SD menunjukkan perubahan cara pandang: perlindungan UV sejak dini tidak lagi dianggap "terlalu rumit" untuk anak. Metode ceramah interaktif, leaflet, diskusi, tanya jawab, serta pre-test dan post-test menjadikan program KKN kesehatan kulit ini lebih dari sekadar sosialisasi; ini adalah latihan pembentukan perilaku. Antusiasme siswa yang aktif berdiskusi dan menjawab pertanyaan memperlihatkan bahwa anak mampu memahami dan merespon isu kesehatan kulit bila diberi ruang dan bahasa yang sesuai.

Edukasi di SMP: menahan arus kosmetik pemutih dan mitos media sosial
Jika di SD fokusnya membiasakan penggunaan sunscreen, di jenjang SMP tantangannya bertambah: menangkal bahaya kosmetik pemutih ilegal dan informasi menyesatkan dari media sosial. Di SMP Negeri 2 Kulo, Kecamatan Kulo, mahasiswa KKN Profesi Kesehatan Posko Desa Mario mengadakan edukasi bagi 27 siswa kelas VII tentang bahaya kosmetik pemutih dan pentingnya sunscreen pada 15 Juli 2026. Remaja adalah kelompok yang paling rentan tergoda janji kulit putih instan, sementara literasi kesehatan kulit remaja sering tertinggal. Program ini secara tegas mengajarkan perbedaan kosmetik legal dan ilegal, cara mengenali produk aman, serta risiko bahan seperti merkuri dan hidrokuinon yang masih ditemukan pada kosmetik ilegal. Edukasi sunscreen anak di level SMP menjadi pelindung ganda: mengurangi paparan UV dan mengerem budaya "obsesi putih" yang berbahaya secara medis dan psikologis. Tanpa intervensi seperti ini, keputusan perawatan kulit remaja akan terus didikte oleh algoritma, bukan pengetahuan.
Dampak praktis bagi siswa dan tantangan keberlanjutan
Kekuatan kedua program ini terletak pada dampak praktis yang terasa di ruang kelas. Di Barru, mahasiswa KKN berharap siswa memahami pentingnya melindungi kulit dari paparan matahari dan mulai membiasakan penggunaan sunscreen sebagai bagian perilaku hidup sehat sejak dini. Di Kulo, hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan: peserta lebih paham bahaya bahan berisiko, lebih sadar memilih kosmetik aman, dan melihat sunscreen sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan kulit sehari-hari. Kutipan yang paling menantang status quo adalah pernyataan bahwa pengetahuan tidak boleh berhenti di ruang edukasi, tetapi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan ditularkan ke keluarga maupun teman sebaya. Di sinilah ujian nyata: apakah sekolah akan menindaklanjuti dengan kebijakan, apakah orang tua akan mendukung, dan apakah siswa akan konsisten. Tanpa ekosistem yang mendukung, program KKN kesehatan kulit berisiko menjadi momen sesaat, bukan perubahan budaya.
Mengapa program KKN kesehatan kulit perlu diperluas
Melibatkan mahasiswa profesi kesehatan sebagai edukator di desa-desa bukan hanya bentuk pengabdian; ini strategi cerdas untuk menjembatani ilmu kefarmasian dengan kebutuhan nyata masyarakat. Program semacam SAPA UV dan edukasi bahaya kosmetik pemutih sudah selaras dengan tujuan kesehatan dan pendidikan berkualitas, tetapi skala 22 siswa SD dan 27 siswa SMP masih terlalu kecil dibanding derasnya arus tren kecantikan di media sosial. Jika kita sungguh menganggap kesehatan kulit remaja sebagai bagian dari kesehatan publik, maka edukasi sunscreen anak dan literasi kosmetik aman mesti menjadi program rutin lintas angkatan KKN, lintas sekolah, bahkan lintas jenjang. Perlindungan UV sejak dini bukan kemewahan; ia setara dengan edukasi gizi atau kebersihan diri. Kesimpulannya jelas: negara yang ingin generasi mudanya sehat tidak bisa menyerahkan urusan kulit kepada iklan—ia harus memandangnya sebagai isu pendidikan dan menjadikannya prioritas, bukan tambahan.






