Upacara bukan sekadar seremoni
Upacara Sumpah Pemuda adalah peringatan bersama di lingkungan pendidikan untuk mengingat ikrar persatuan sekaligus menerjemahkannya menjadi sikap sehari-hari para siswa. Pada 28 Oktober 2026, sejumlah sekolah dan madrasah menggelar upacara bendera Hari Sumpah Pemuda ke-98, melibatkan peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan. Pesan yang paling penting bukan berhenti pada barisan yang tertib atau lagu nasional yang dinyanyikan, melainkan bagaimana nilai persatuan, disiplin, dan cinta tanah air dibawa ke ruang kelas dan pergaulan. Peringatan di sekolah akan berarti jika siswa belajar menghargai perbedaan, menjauhi perpecahan, dan bertanggung jawab atas pilihan mereka. Dengan begitu, sejarah tidak hanya dikenang setahun sekali, tetapi menjadi pedoman untuk membangun karakter generasi muda.
Disiplin dan persatuan diuji dalam keseharian
Di MTsN 1 Batang Hari, ratusan warga madrasah mengikuti upacara khidmat yang dipimpin Wakil Kepala Bidang Akademik Diana. Kepala madrasah Doni Parizal tidak hadir karena menjalankan tugas dinas luar. Dalam amanatnya, Diana mengingatkan siswa agar belajar sungguh-sungguh, menjaga disiplin, menghindari perpecahan, dan berprestasi di era digital. Pesan ini tepat: persatuan tidak tumbuh dari slogan, tetapi dari kebiasaan menahan ego dan memperlakukan orang lain dengan hormat. Sementara itu, MTs Negeri 3 Kota Palu mengadakan upacara saat pembelajaran tatap muka kembali berlangsung setelah kegiatan belajar jarak jauh akibat kabut asap kiriman dari Kalimantan. Wakil Kepala Madrasah bidang Kurikulum Desti Pujiarsih mengajak siswa menguatkan persatuan dan cinta tanah air, menghormati guru serta orang tua, dan menggunakan teknologi dengan bijak.

Tujuh nilai kebangsaan untuk dibawa pulang
Di SD Negeri 18 Bababulo, ratusan siswa dan guru mengikuti upacara dengan pakaian adat Mandar dan kain Lipa Saqbe. Kepala sekolah H. Kaimuddin menyampaikan tujuh nilai kebangsaan: persatuan dan kesatuan; rela berkorban; cinta tanah air; menjunjung bahasa persatuan; toleransi; optimisme yang disertai sikap kritis; serta tanggung jawab moral di era digital. Rangkaian ini memberi gambaran konkret tentang nilai kebangsaan siswa: menghargai keragaman, bangga pada identitas budaya, dan menggunakan teknologi untuk hal positif. Busana adat dalam upacara juga mengingatkan bahwa kebanggaan pada budaya setempat tidak bertentangan dengan persatuan. Justru, siswa dapat merawat akar budaya sambil membangun rasa memiliki terhadap kehidupan bersama. Tujuh nilai tersebut akan lebih kuat jika sekolah menghidupkannya dalam tindakan, bukan hanya menyebutkannya dalam amanat.

Ukuran keberhasilan ada setelah upacara
Ketiga peringatan itu menunjukkan bahwa upacara dapat menjadi awal percakapan penting tentang tanggung jawab siswa, bukan penutupnya. Disiplin terlihat dalam kesungguhan belajar; persatuan tampak saat perbedaan tidak dijadikan alasan untuk merendahkan orang lain; cinta tanah air diwujudkan melalui kepedulian dan kontribusi. Sekolah dan madrasah juga perlu memberi ruang bagi siswa untuk mempraktikkan nilai tersebut, termasuk saat berinteraksi di ruang digital. Harapan agar generasi muda menjadi pribadi berakhlak, kreatif, berprestasi, dan peduli lingkungan akan sulit tercapai bila karakter hanya dibahas pada hari peringatan. Karena itu, upacara Sumpah Pemuda paling bermakna ketika pesan-pesannya menjadi kebiasaan bersama. Kesimpulannya, persatuan dan karakter bukan sekadar tema perayaan, melainkan tanggung jawab yang harus dibuktikan siswa setiap hari.







