Teguran menjadi wajah utama operasi
Operasi Patuh Salawaku adalah kegiatan kepolisian yang memadukan edukasi, pencegahan, dan penegakan aturan untuk meningkatkan disiplin berkendara serta mengurangi risiko kecelakaan di jalan. Pada dua hari yang dibandingkan di Ambon, teguran lisan jauh lebih banyak daripada tilang—pilihan yang masuk akal bila tujuannya bukan sekadar menghukum, melainkan membentuk kebiasaan aman. Pada hari kedelapan, Senin (2/11/2026), petugas memberikan teguran kepada 27 pengendara sepeda motor dan mobil serta menilang empat orang. Sehari kemudian, 35 pengendara mendapat teguran simpatik dan lima ditilang. Kenaikan jumlah teguran menunjukkan pendekatan edukatif tetap menjadi bagian dominan dari razia lalu lintas Ambon, tanpa menghapus konsekuensi hukum bagi pelanggaran yang berbahaya.

Perbandingan dua hari, penindakan tetap berjalan
Perbandingan hasilnya menunjukkan teguran naik delapan orang dari hari kedelapan ke hari kesembilan, sedangkan jumlah tilang bertambah satu. Angka itu menggambarkan penyesuaian kecil, bukan pergeseran dari edukasi menuju penindakan massal. Pada hari kedelapan, razia berlangsung di Jalan Cendrawasih dan Jalan Rijali, dengan sasaran antara lain pengendara yang melawan arus, tidak memakai helm, atau tidak melengkapi dokumen kendaraan. Pada hari kesembilan, petugas menyasar Jalan Rijali, Jalan Jenderal Sudirman, dan Jalan Kakialy selama pukul 09.30–10.15 WIT. Teguran simpatik polisi punya nilai ketika pelanggar diberi tahu apa yang salah dan cara memperbaikinya; tetapi konsistensi tilang juga penting agar pelanggaran berisiko tidak dianggap sepele.

Edukasi harus terasa di jalan
Pendekatan humanis akan lebih berarti jika warga menerima manfaat yang nyata, bukan hanya imbauan. Pada hari kedelapan, petugas membagikan helm gratis kepada pengendara motor yang membawa penumpang tanpa helm dan kepada siswa SD Negeri 32 Tantui. Langkah ini menghubungkan penegakan aturan dengan perlindungan langsung: helm berstandar dapat membantu mengurangi risiko cedera ketika kecelakaan terjadi. Polda Maluku menyatakan operasi bertujuan meningkatkan disiplin dan kepatuhan masyarakat sekaligus menekan potensi kecelakaan yang menimbulkan korban jiwa maupun kerugian material. Karena itu, teguran sebaiknya menjadi pengingat yang jelas, bukan formalitas; pengguna jalan pun perlu mengenakan helm SNI, memakai sabuk keselamatan, melengkapi dokumen, mematuhi rambu, dan tidak berkendara saat kondisi diri membahayakan.

Ukuran keberhasilan bukan jumlah tilang semata
Hasil dua hari ini memberi alasan untuk mendukung kombinasi teguran dan tilang, tetapi jumlah tindakan belum cukup untuk membuktikan perubahan perilaku. Keberhasilan Operasi Patuh Salawaku semestinya terlihat dari kepatuhan yang bertahan setelah petugas meninggalkan ruas jalan, bukan dari banyaknya pengendara yang berhenti saat razia. Polda Maluku menyatakan operasi akan terus diarahkan pada penegakan hukum yang konsisten, edukasi berkelanjutan, dan pelayanan yang humanis. Komitmen itu perlu dijalankan dengan pesan yang tegas dan perlakuan yang adil: pelanggaran ringan dapat dikoreksi melalui teguran, sementara tindakan yang membahayakan harus ditindak sesuai aturan. Pada akhirnya, teguran simpatik layak menjadi pintu masuk perubahan, tetapi keselamatan hanya tercapai jika pengguna jalan sendiri menjadikannya kebiasaan.






