Expo UMKM Haji: Dari Agenda Religi Menjadi Mesin Ekonomi
Expo UMKM Haji adalah sebuah gelaran berskala nasional yang memadukan kegiatan keagamaan dengan pameran produk usaha mikro, kecil, dan menengah, dirancang untuk menghubungkan pelaku usaha lokal dengan ribuan jamaah haji dan umrah sehingga tercipta perputaran ekonomi baru bagi masyarakat sekitar melalui transaksi perdagangan, jasa kuliner, dan promosi produk unggulan daerah.
Kesiapan Pemerintah Kabupaten Gowa menjadi tuan rumah Expo UMKM Haji yang digelar di Taman Lapangan Sultan Hasanuddin pada 16–18 Oktober 2026 adalah sinyal jelas bahwa pemerintah daerah mulai melihat event religi sebagai platform ekonomi, bukan sekadar agenda seremonial. Wakil Bupati Darmawangsyah Muin menegaskan bahwa agenda nasional seperti ini adalah kesempatan emas untuk membuktikan kapasitas daerah menggelar perhelatan besar sekaligus menguatkan ekonomi lokal. Sikap ini penting: tanpa keberanian menjadikan ruang religi sebagai ruang ekonomi, UMKM daerah akan terus terjebak di pasar yang sempit.

Ribuan Jamaah, Ribuan Peluang: Mengapa Ekonomi Lokal Gowa Bisa Melonjak
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Sulsel, H. Ikbal Ismail, menargetkan sedikitnya 17 ribu jamaah haji dan umrah dari berbagai daerah memadati Lapangan Sultan Hasanuddin selama tiga hari pelaksanaan expo. Angka ini bukan sekadar statistik; ini adalah arus pengunjung yang, bila dikelola dengan cerdas, bisa mengubah ekonomi lokal Gowa dalam hitungan hari. Panitia juga menargetkan keterlibatan jamaah dari berbagai daerah di Sulsel, termasuk kelompok program periode 2023–2027, sehingga basis pengunjungnya jelas dan terukur.
Agenda akbar ini ditargetkan memutar roda ekonomi masyarakat melalui transaksi perdagangan, jasa kuliner, hingga promosi produk lokal. Artinya, setiap stan UMKM, pedagang kaki lima, hingga penyedia jasa transportasi dan akomodasi berpotensi menikmati lonjakan permintaan. Menurut panitia, Expo UMKM Haji diharapkan menjadi momentum memperluas promosi produk lokal, mempertemukan pelaku UMKM dengan pasar yang lebih luas, serta memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat Gowa. Jika pelaku usaha mampu mengemas produk dan layanan dengan baik, tiga hari expo bisa menjadi titik balik perputaran ekonomi UMKM Gowa.
Pariwisata Religi sebagai Panggung UMKM Daerah
Kekuatan Expo UMKM Haji terletak pada kombinasi unik antara agenda religi dan aktivitas ekonomi. Pembukaan pameran oleh Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf (Gus Irfan), yang dirangkaikan dengan pengajian akbar dan pengundian paket umrah, menjadikan event ini magnet spiritual sekaligus sosial. Hari kedua diisi manasik akbar di Masjid Syekh Yusuf, peragaan busana bernuansa Arab, serta penampilan penyanyi religi Opick dan Trio Gambus. Rangkaian ini ditutup dengan jalan santai jamaah haji Sulsel periode 2023–2027.
Dalam format seperti ini, pariwisata religi bukan hanya soal ziarah atau pengajian; ia berubah menjadi panggung besar bagi pengembangan UMKM daerah. Setiap jeda acara, setiap kerumunan jamaah, adalah kesempatan bagi pelaku usaha memperkenalkan kerajinan tangan, hasil bumi, dan kuliner khas Gowa. Expo UMKM Haji menjadi contoh konkret bagaimana agenda religi bisa diubah menjadi ekosistem ekonomi yang hidup, di mana jamaah datang untuk ibadah dan pulang dengan membawa produk lokal sebagai bagian dari pengalaman spiritual mereka.
Strategi Pemerintah: Dari Anti-Seremoni ke Akselerasi UMKM
Wakil Bupati Darmawangsyah Muin mengingatkan bahwa pameran ini tidak boleh berhenti pada keramaian seremoni. Ia menekankan perlunya membuka ruang promosi selebar-lebarnya bagi pelaku usaha lokal, terutama perajin dan petani. Pernyataan ini penting karena banyak event besar berhenti pada panggung hiburan, tanpa memastikan pelaku UMKM menjadi aktor utama. Pemerintah Gowa, setidaknya dalam narasi resmi, memilih jalur berbeda: menjadikan expo sebagai platform ekonomi nasional yang berpijak pada kekuatan lokal.
Harapan pemerintah agar UMKM masyarakat, khususnya kerajinan tangan dan hasil bumi Kabupaten Gowa, hadir dan mengambil bagian dalam expo menunjukkan strategi membuka akses pasar langsung ke ribuan jamaah. Di sisi lain, kegiatan ini berada di bawah arahan direktorat jenderal yang membidangi pengembangan ekonomi dan UMKM haji, sehingga orientasinya jelas: pengembangan UMKM, bukan sekadar acara seremoni. Jika pemerintah konsisten mengawal kurasi peserta, tata letak stan, hingga alur pengunjung, Expo UMKM Haji bisa menjadi model bagaimana event skala nasional dipakai untuk memperluas pasar UMKM lokal tanpa kehilangan ruh keagamaan.
Dampak Nyata bagi Warga dan PR Besar Setelah Expo Usai
Bagi warga Gowa, dampak Expo UMKM Haji akan terasa langsung pada perputaran ekonomi harian. Agenda ini ditargetkan memutar roda ekonomi masyarakat melalui perdagangan, jasa kuliner, dan promosi produk lokal. Pemerintah berharap kegiatan ini meninggalkan kesan baik bagi pengunjung sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat. Artinya, bukan hanya pelaku UMKM yang diuntungkan, tetapi juga pekerja harian, pengelola parkir, hingga penyedia jasa kebersihan yang dilibatkan melalui Dinas Lingkungan Hidup.
Namun, tantangan sesungguhnya muncul setelah expo selesai. Jika tidak ada tindak lanjut, lonjakan ekonomi tiga hari akan menguap tanpa jejak. Di sinilah pentingnya agenda lanjutan, seperti kegiatan ekonomi kreatif di kawasan Balla Lompoa yang digelar Pemkab Gowa untuk memperluas pasar pelaku usaha mikro di wilayah Butta Gowa. Expo UMKM Haji seharusnya menjadi pintu pembuka jejaring baru, yang kemudian dipelihara melalui program pendampingan, akses pembiayaan, dan promosi berkelanjutan. Tanpa itu, momentum besar ini hanya akan menjadi cerita ramai sesaat, bukan akselerasi ekonomi lokal yang tahan lama.






