Expo UMKM Haji: Dari Agenda Religius ke Strategi Ekonomi Lokal
Expo UMKM Haji adalah gelaran pameran usaha mikro, kecil, dan menengah yang sengaja dikaitkan dengan ekosistem ibadah haji dan umrah, memanfaatkan kehadiran ribuan jamaah dan pengunjung untuk mendorong perputaran ekonomi masyarakat melalui transaksi perdagangan, jasa kuliner, dan promosi produk lokal sebagai bagian dari strategi pemerintah daerah memperkuat ekonomi lokal Gowa. Pemerintah Kabupaten Gowa menyatakan kesiapannya menjadi tuan rumah Expo UMKM Haji 2026 di Taman Lapangan Sultan Hasanuddin pada 16–18 Oktober, dengan target jelas: menjadikan momentum ibadah sebagai mesin ekonomi lokal. Ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan uji kemampuan daerah mengelola arus massa dan uang agar manfaatnya jatuh ke pelaku usaha mikro, bukan hanya ke panitia dan sponsor besar. Sikap Wakil Bupati Darmawangsyah Muin yang menekankan ruang promosi selebar-lebarnya bagi perajin dan petani menunjukkan bahwa Gowa ingin menggunakan expo ini sebagai alat redistribusi peluang, bukan sekadar etalase acara nasional.

Rp10 Miliar Perputaran Uang: Siapa Sebenarnya Diuntungkan?
Target perputaran uang hingga sekitar Rp10 miliar selama Expo UMKM Haji di Gowa adalah angka yang menggoda, tetapi juga mengundang pertanyaan: apakah transaksi sebesar itu benar-benar mengalir ke kantong pelaku UMKM lokal atau berhenti di lapisan atas ekosistem acara? Event tiga hari ini ditargetkan melibatkan sekitar 25.000 pengunjung dengan 200 stan UMKM yang mengisi Taman Sultan Hasanuddin, lengkap dengan panggung hiburan religius dan rangkaian kegiatan manasik, pengajian, hingga jalan santai. Menurut Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf, potensi perputaran ekonomi haji dan umrah di kegiatan ini diperkirakan mencapai Rp10 miliar, dan dorongan agar UMKM Sulawesi Selatan mengambil bagian adalah pesan penting yang patut dibaca secara kritis: "UMKM harus kita dorong agar bisa naik kelas dan menjangkau pasar yang lebih luas. Potensi ekonomi haji ini perlu dimanfaatkan sehingga pelaku usaha daerah tidak hanya menjadi penonton." Tantangannya, pemerintah Gowa harus memastikan stan dan akses terbaik tidak dimonopoli pemain besar berkedok UMKM.

Belanja Haji Rp4 Triliun: Peluang Bisnis Jemaah Haji Bagi UMKM Gowa
Di luar expo tiga hari, penyelenggaraan haji menyimpan peluang bisnis jemaah haji yang jauh lebih besar: belanja jemaah haji Indonesia mencapai sekitar Rp4 triliun, dengan Sulawesi Selatan diperkirakan menyumbang 25 persen. Angka ini menegaskan bahwa ekonomi haji bukan sekadar penjualan perlengkapan ibadah di sekitar acara, melainkan rantai pasok panjang mulai dari makanan, tekstil, transportasi, hingga jasa pendukung perjalanan jutaan jemaah. Bagi ekonomi lokal Gowa, pertanyaannya bukan apakah peluang itu ada, melainkan apakah UMKM cukup siap dari sisi kualitas produk, kapasitas produksi, dan konsistensi pasokan untuk masuk ke rantai tersebut. Jika pelaku usaha mikro hanya diposisikan sebagai pengisi stan sementara, mereka akan terus berada di pinggir ekosistem haji. Pemerintah daerah perlu berani mengarahkan UMKM lokal menjadi pemasok tetap kebutuhan jemaah, bukan sekadar penjual dadakan di event tahunan. Di sinilah expo seharusnya berfungsi sebagai gerbang masuk ke pasar triliunan, bukan hanya ajang foto bersama pejabat.
Strategi Integrasi Ekosistem Haji dan UMKM: Langkah Maju atau Sekadar Gimmick?
Pemerintah Gowa dan Kementerian Haji dan Umrah menyebut expo ini sebagai bagian dari pengembangan ekosistem ekonomi haji dan umrah, dengan integrasi acara religius, manasik akbar, peragaan busana bernuansa Arab, hingga hiburan religi dalam satu paket yang menarik massa. Secara konsep, ini langkah maju: jamaah tidak hanya datang untuk ibadah, tetapi juga berinteraksi dengan produk lokal, membuka peluang kemitraan jangka panjang antara UMKM dan penyelenggara layanan haji. Plt Bupati Darmawangsyah Muin menegaskan harapan agar kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lain melahirkan kemitraan berkelanjutan, bukan transaksi sesaat. Namun integrasi ekosistem tidak terjadi otomatis. Tanpa kurasi ketat, pendampingan bisnis, dan kontrak nyata pasca-event, expo berisiko berhenti sebagai gimmick yang ramai di akhir pekan, lalu sunyi tanpa jejak ekonomi jangka panjang. Pemerintah daerah harus mengukur keberhasilan bukan dari jumlah pengunjung, melainkan dari berapa UMKM yang berhasil masuk ke rantai pasok kebutuhan jemaah haji setelah acara usai.
Kesimpulan: Gowa Perlu Mengunci Manfaat Jangka Panjang Ekonomi Haji
Expo UMKM Haji di Gowa menunjukkan keberanian pemerintah daerah mengubah momentum ibadah menjadi mesin ekonomi lokal, dengan target perputaran ekonomi masyarakat yang ambisius dan panggung luas bagi pelaku usaha mikro. Namun keberanian saja tidak cukup. Dengan belanja jemaah haji mencapai Rp4 triliun dan porsi signifikan dari Sulawesi Selatan, Gowa harus memastikan UMKM lokal benar-benar mengambil bagian dalam peluang bisnis jemaah haji, bukan sekadar menjadi pengisi keramaian. Langkah lanjutan seperti agenda ekonomi kreatif di Balla Lompoa menunjukkan niat memperluas pasar pelaku usaha mikro, tetapi keberhasilan akan ditentukan oleh kemampuan pemerintah mengawal kemitraan, peningkatan kapasitas, dan akses pasar yang berkelanjutan. Jika strategi integrasi ekosistem haji dan umrah dijalankan konsisten, Gowa berpeluang menjadikan ekonomi haji sebagai pilar baru ekonomi lokal, di mana ibadah dan kesejahteraan masyarakat saling menguatkan, bukan saling mengorbankan.






