Budaya Membaca Anak Dimulai di Rumah, Bukan di Sekolah
Budaya membaca anak adalah kebiasaan berulang dalam keluarga yang menempatkan aktivitas membaca sebagai bagian wajar dari kehidupan sehari-hari, sehingga anak tumbuh melihat buku dan teks sebagai sumber kesenangan, pengetahuan, dan alat berpikir, bukan sekadar tugas sekolah yang membosankan atau hukuman ketika mereka dianggap terlalu banyak bermain gawai.
Kalau orang tua masih berpikir minat baca sejak dini akan otomatis terbentuk di sekolah, itu keliru. Budaya membaca perlu dibangun sejak dini melalui kebiasaan di lingkungan keluarga. Pendidikan pertama seorang anak dimulai dari rumah, dan di situlah arah sikap mereka terhadap buku ditentukan. Sekolah dan perpustakaan hanya memperkuat fondasi yang sudah ada; tanpa fondasi itu, program terbaik pun terasa seperti paksaan. Kebiasaan membaca perlu ditanamkan sejak dini, dimulai dari lingkungan keluarga. Jika rumah penuh layar tetapi miskin buku, jangan heran bila anak lebih hafal nama gim daripada judul buku.

Peran Orang Tua dalam Literasi: Bukan Hanya Menyuruh, Tapi Menjadi Teladan
Peran orang tua literasi sering direduksi menjadi kalimat, “Sudah baca buku belum?” Padahal, di era gawai, itu jauh dari cukup. Peran orang tua dinilai sangat penting dalam menumbuhkan minat baca anak, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi yang membuat anak semakin akrab dengan berbagai perangkat digital. Jika orang tua sibuk dengan ponsel sementara anak diminta membaca, pesan yang sampai adalah: layar lebih menarik daripada buku.
Orang tua diharapkan dapat menjadi teladan atau role model bagi anak dengan membiasakan diri membaca dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, orang dewasa juga harus membuka buku, koran, atau bacaan digital yang bermutu di depan anak. Budaya membaca anak tidak lahir dari ceramah, tetapi dari pemandangan berulang: ayah-ibu yang meluangkan waktu membaca. Ketika membaca menjadi aktivitas keluarga, bukan tugas individu, anak melihatnya sebagai kegiatan menyenangkan, bukan beban.
Program Literasi Keluarga: Pojok Baca, Rutinitas, dan Komunitas
Kalimat “anak saya susah diajak baca” sering muncul dari rumah yang tidak punya sistem. Program literasi keluarga perlu dirancang, meski sederhana. Melalui gerakan PKK, kita dapat membiasakan membaca bersama anak, menyediakan pojok baca sederhana, dan mendampingi mereka menggunakan teknologi. Ini bukan soal rumah besar atau kecil, tetapi soal prioritas: adakah sudut khusus untuk buku, atau semua sudut dikuasai televisi dan gawai?
Erlina Ria Norsan menegaskan bahwa keberhasilan gerakan literasi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan buku, tetapi juga konsistensi keluarga dalam membangun kebiasaan membaca. Pojok baca, jadwal membaca bersama, dan aturan layar yang jelas adalah “kurikulum rumah” yang nyata. Ketika keluarga terhubung dengan program komunitas seperti PKK, dasawisma, posyandu, dan PAUD, budaya literasi bisa bergerak sampai ke desa-desa. Dengan demikian, budaya membaca tidak hanya berkembang di perpustakaan, tetapi juga dapat diterapkan di rumah maupun lingkungan masyarakat.
Menghadapi Teknologi Digital: Dampingi, Bukan Melarang
Melarang gawai total bukan solusi jangka panjang. Anak tetap akan bertemu teknologi; bedanya, apakah mereka siap atau tidak. Mengajak orang tua membiasakan anak membaca sekaligus mendampingi mereka menggunakan teknologi digital secara bijak adalah langkah yang jauh lebih realistis. Kemudahan akses informasi melalui media digital perlu diimbangi dengan kemampuan menggunakannya secara bijak.
Literasi hari ini bukan sekadar mengeja. Literasi berarti memahami informasi, berpikir kritis, serta membedakan informasi yang benar dan salah. Melalui pendampingan orang tua serta kegiatan literasi yang berkelanjutan, anak-anak diharapkan mampu memanfaatkan teknologi secara bijak tanpa meninggalkan kebiasaan membaca. Orang tua perlu berani menggabungkan buku fisik dan bacaan digital yang bermutu, sambil mengajarkan anak memeriksa sumber dan menolak hoaks. Tanpa pendampingan, gawai menjadi pengalih perhatian; dengan pendampingan, ia bisa menjadi pintu pengetahuan.
Gerakan Literasi: Dari Rumah ke Komunitas, Menjadi Gerakan Bersama
Budaya membaca anak tidak akan kuat jika hanya bertumpu pada satu rumah. Ia perlu dukungan komunitas. Kegiatan pekan gemar membaca yang diikuti jajaran pemerintah daerah, pengurus PKK, tenaga pendidik, dan ratusan pelajar menunjukkan bahwa gerakan literasi mulai dilihat sebagai urusan bersama, bukan sekadar program seremonial.
Ia berharap kader PKK turut menggerakkan budaya literasi hingga ke desa melalui kelompok dasawisma, posyandu, PAUD, dan kegiatan masyarakat lainnya. Di sisi lain, perpustakaan didorong menghadirkan berbagai kegiatan menarik untuk mendekatkan anak-anak dengan dunia literasi dan menjangkau mereka di luar gedung perpustakaan. Dengan demikian, program literasi keluarga mendapat dukungan nyata di tingkat akar rumput: orang tua tidak merasa berjalan sendiri, anak melihat membaca sebagai norma sosial, dan masyarakat menunjukkan komitmen melalui kehadiran mereka di berbagai gerakan literasi.






