Emosi bukan milik satu gender
Stereotip gender tentang emosi adalah anggapan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki sifat emosional bawaan yang berbeda, padahal cara merasakan dan menampilkan perasaan juga dibentuk oleh pengalaman serta lingkungan sosial. Karena itu, cap perempuan emosional dan tuntutan agar laki-laki selalu tenang lebih mencerminkan aturan budaya daripada ukuran objektif kestabilan emosi. Sebuah studi dalam jurnal Scientific Reports pada 2021 mengikuti 142 laki-laki dan perempuan selama 75 hari, termasuk perempuan yang menggunakan kontrasepsi oral maupun yang mengalami siklus menstruasi alami. Hasilnya menunjukkan fluktuasi emosi laki-laki kurang lebih serupa dengan perempuan. Temuan ini tidak menyatakan bahwa semua orang merasakan emosi dengan cara yang sama; ia menggugurkan klaim sederhana bahwa perempuan secara alami lebih tidak stabil. Reaksi seseorang turut dipengaruhi pengalaman hidup, pola asuh, lingkungan, dan keterampilan mengelola perasaan.

Mengapa label melekat pada perempuan
Label perempuan emosional bertahan bukan karena bukti bahwa perempuan kurang rasional, melainkan karena standar penilaian yang timpang. Perempuan sering digambarkan dramatis, sensitif, atau irasional; ketika menyatakan perasaan dengan jujur, mereka berisiko dianggap berlebihan. Bahkan, kemarahan perempuan dapat menuai penilaian negatif dalam kehidupan sosial maupun pekerjaan, sementara perempuan kerap diberi ruang lebih besar untuk membicarakan kesedihan atau meminta bantuan. Sebaliknya, laki-laki yang menunjukkan ekspresi serupa bisa dipuji sebagai sosok lembut dan baik hati. Perlakuan ganda itu menempatkan perempuan seolah selalu salah: berbicara dianggap terlalu emosional, tetapi menahan diri juga bukan jalan menuju penilaian yang adil. Akibatnya, stereotip gender tidak sekadar menjadi komentar; ia dapat membentuk siapa yang dipercaya, didengar, atau dianggap layak memimpin.

Kecemasan laki-laki bukan kelemahan
Jika perempuan dihukum karena dianggap terlalu emosional, laki-laki sering dibatasi oleh tuntutan untuk tidak memperlihatkan emosi tertentu. Sejak kecil, mereka diajarkan untuk selalu kuat dan berani serta tidak menunjukkan rasa takut. Dalam pola asuh yang umum, kemarahan dianggap lebih dapat diterima, sedangkan kesedihan dan kerentanan bisa dinilai tidak sesuai dengan maskulinitas. Tekanan ini membuat kecemasan laki-laki mudah tersembunyi di balik penampilan tenang, meskipun kecemasan merupakan respons alamiah yang membantu seseorang mengantisipasi ancaman. Menahan ekspresi emosi agar tidak terlihat orang lain dikenal sebagai penekanan ekspresif; menyembunyikan rasa takut tidak berarti perasaan itu lenyap. Pada 22–28 Oktober 2026, seorang penulis yang kembali ke De Britto sebagai bagian tim Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada ikut memperkenalkan kecemasan, mekanisme biologisnya, dan strategi regulasi emosi, termasuk grounding, kepada siswa kelas X.
Belajar memberi ruang pada perasaan
Membuka ruang bagi emosi bukan berarti semua reaksi harus diikuti tanpa pertimbangan. Artinya, seseorang dapat mengenali perasaan, memahami pemicunya, lalu memilih respons yang lebih sesuai. Grounding, misalnya, dapat membantu seseorang kembali terhubung dengan pengalaman saat ini dan memberi ruang untuk mengevaluasi situasi serta merespons dengan lebih adaptif. Bekal mengenali dan mengatur emosi penting bagi remaja yang sedang menghadapi perubahan, relasi pertemanan, penerimaan sosial, prestasi, dan ketidakpastian masa depan. Kemampuan ini mendukung pengambilan keputusan sekaligus membantu menghadapi emosi yang menyertai pilihan dan konsekuensinya. Namun, strategi praktis tidak menggantikan dukungan profesional jika diperlukan. Kesimpulannya, riset tentang fluktuasi emosi dan pengalaman sehari-hari sama-sama menantang pembagian sederhana antara perempuan yang dianggap emosional dan laki-laki yang dituntut kuat. Standar yang lebih sehat memberi semua orang hak untuk merasakan, mengungkapkan, dan mengelola emosi tanpa dicap lemah atau tidak rasional.






