Hari Jadi ke-24 Kepri: Momentum Menata Arah Pembangunan
Kepri hari jadi ke-24 adalah momentum politik dan sosial ketika pemerintah daerah menegaskan kembali arah pembangunan wilayah kepulauan ini, dengan menempatkan konektivitas antar pulau dan pemerataan pembangunan Kepri sebagai strategi utama untuk memastikan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan Riau Kepulauan dapat dirasakan oleh masyarakat di pusat pertumbuhan maupun di pulau-pulau terluar. Upacara utama digelar di Halaman Gedung Daerah Tepi Laut Tanjungpinang, menandai bukan sekadar bertambah usia, tetapi evaluasi perjalanan dua dekade lebih pembentukan provinsi ini. Tema “Dari Penyengat Menyatukan Semangat, Kepri Maju Berkelanjutan” secara terang menyatukan pesan sejarah, budaya Melayu, dan ambisi ekonomi jangka panjang. Peringatan yang serentak di Batam dan daerah lain menegaskan bahwa hari jadi bukan ritual seremonial, melainkan kesempatan untuk menguji konsistensi agenda pembangunan.

Konektivitas Antar Pulau: Laut Sebagai Penghubung Ekonomi
Pilihan menjadikan konektivitas antar pulau sebagai poros pembangunan Kepri bukan sekadar slogan, melainkan konsekuensi logis dari karakter provinsi yang didominasi wilayah laut. Gubernur Ansar Ahmad menekankan bahwa laut tidak boleh terus dipandang sebagai pemisah, melainkan ruang yang menghubungkan kehidupan masyarakat dan aktivitas ekonomi. Sikap ini penting: tanpa konektivitas transportasi, logistik, dan layanan publik yang memadai, angka pertumbuhan ekonomi 6,99 persen year on year dan posisi Kepri sebagai nomor satu di Sumatera hanya akan tampak elitis di statistik, bukan realitas warga pulau kecil. Di balik narasi tersebut, pemerintah daerah mencoba mengisi gap fiskal APBD dengan program nasional seperti pembangunan 106 titik Kampung Nelayan Merah Putih yang sedang dalam proses lelang, menunjukkan bahwa strategi konektivitas juga menyasar pesisir dan komunitas nelayan.
Batam Sebagai Lokomotif, Tantangan Pemerataan di Pulau Lain
Peran Batam sebagai lokomotif pertumbuhan memperlihatkan paradoks Kepri: pusat ekonomi tumbuh cepat, sementara kesenjangan di pulau lain masih mengintai. Hingga triwulan II, ekonomi Batam tumbuh 7,28 persen dengan kontribusi 66,82 persen terhadap PDRB provinsi dan realisasi investasi Rp38,97 triliun pada semester I. Di sisi lain, pemerintah provinsi mencatat pertumbuhan ekonomi regional 6,99 persen dan realisasi investasi Rp40,38 triliun, jauh melampaui target Rp24,10 triliun. Secara angka, ini pencapaian impresif. Namun Ketua Umum BP3KR mengingatkan agar pembangunan tidak kehilangan orientasi pada masyarakat yang tertinggal dan memerlukan intervensi agar menikmati hasil pembangunan lebih merata. Di sinilah pemerataan pembangunan Kepri diuji: apakah kebijakan konektivitas mampu mengalirkan manfaat Batam ke pulau-pulau yang selama ini berada di pinggir jalur investasi.

Ekonomi Berkelanjutan Riau Kepulauan: Dari Sejarah ke Agenda Masa Depan
Tema “Kepri Maju Berkelanjutan” menuntut konsistensi: ekonomi berkelanjutan Riau Kepulauan hanya masuk akal jika berakar pada sejarah dan sosial budaya yang hidup. Pulau Penyengat diangkat sebagai simbol, bukan romantisme kosong, melainkan fondasi untuk menyatukan semangat dan memperkuat identitas Melayu sebagai perekat pembangunan. Indikator makro seperti IPM 80,53 yang tertinggi di Sumatera serta tingkat kemiskinan 4,09 persen memang patut disyukuri, namun pemerintah sendiri mengakui masih ada kelompok yang belum menikmati capaian tersebut. Karena itu, pelibatan stakeholder lokal di Batam—pemerintah kota, BP, dunia usaha, dan masyarakat—sebagai energi bersama layak diperluas ke kabupaten lain. Tanpa partisipasi publik yang nyata, narasi keberlanjutan berisiko berhenti sebagai tagline hari jadi, bukan kompas kebijakan.
Kesimpulan: Hari Jadi sebagai Ujian Keberanian Mengoreksi Arah
Pada akhirnya, Kepri hari jadi ke-24 adalah ujian keberanian pemerintah daerah untuk bukan hanya memamerkan capaian, tetapi juga mengakui ketimpangan dan memperbaiki arah pembangunan. Konektivitas antar pulau yang terus digencarkan dan program pemerataan pembangunan Kepri harus dilihat sebagai investasi politik dan sosial, bukan sekadar proyek fisik. Jika laut betul-betul dijadikan penghubung, Batam diperlakukan sebagai lokomotif yang menarik gerbong pulau lainnya, dan simbol budaya seperti Penyengat terus dirawat sebagai inspirasi, maka visi ekonomi berkelanjutan Riau Kepulauan punya peluang menjadi kenyataan. Hari jadi tahun ini sudah tepat memposisikan perayaan sebagai ruang evaluasi dan penyusunan langkah ke depan; yang ditunggu kini adalah konsistensi kebijakan dan keberanian pemerintah mendengar suara pulau-pulau yang selama ini paling jauh dari pusat perayaan.






