Pendampingan dimulai dengan mengenali anak
Workshop smart parenting adalah kegiatan edukasi bagi orang tua untuk memahami kebutuhan perkembangan remaja, membangun komunikasi sehat, dan mendampingi anak mengambil keputusan tanpa merampas kemandiriannya. Prinsip ini terasa penting karena mendampingi remaja tidak cukup dengan memastikan mereka belajar atau meraih prestasi; anak juga perlu ruang untuk mengenali diri dan didengarkan. MAN 1 Yogyakarta mengadakan kegiatan untuk orang tua dan wali murid kelas X pada 21 Oktober 2026, bersamaan dengan pengambilan hasil Capaian Tengah Semester (CTS). Sesi berlangsung pukul 13.00 hingga 15.00 WIB dengan tema “Kenali Potensinya, Tentukan Pilihannya, Dampingi Prosesnya”. Narasumber Dr. Shinta mengingatkan bahwa dukungan orang tua semestinya hadir dalam kebiasaan sehari-hari, bukan hanya ketika masalah muncul. Kasih sayang, perhatian, penghargaan, dan kesediaan mendengar menjadi dasar pendampingan orang tua remaja yang memberi anak rasa aman sekaligus ruang untuk tumbuh.

Gawai dan pilihan pendidikan perlu dibicarakan
Pendampingan yang baik juga harus menjawab persoalan sehari-hari, termasuk penggunaan telepon genggam. Pemakaian berlebihan dapat mengganggu kesehatan fisik dan mental, interaksi sosial, konsentrasi belajar, serta membuka peluang paparan konten negatif. Larangan semata bukan jalan keluar yang memadai; orang tua perlu menyepakati batas waktu, membantu anak memilih konten positif, menjaga pola tidur, dan mendorong aktivitas serta hubungan sosial di dunia nyata. Percakapan tentang pilihan pendidikan anak pun sebaiknya berangkat dari minat dan kemampuan, bukan ambisi keluarga. Pertimbangan jurusan dapat mencakup mata pelajaran yang diminati, prospek kerja, biaya, lokasi, dan orientasi kampus. Pembagian peran membuat diskusi lebih terarah: orang tua membantu anak memahami dirinya, guru memberi pertimbangan akademik, dan konselor sekolah menyediakan informasi pendidikan lanjutan. Dengan cara ini, keluarga membantu anak menimbang pilihan, alih-alih memutuskan semuanya untuk mereka.
Menjadi kompas saat anak menentukan arah
Bagi murid kelas XII, tantangannya bergeser dari mengenali potensi menuju memilih langkah setelah lulus. MAN 1 Yogyakarta mengadakan Smart Parenting untuk orang tua dan wali murid kelas XII pada 22 Oktober 2026, bersamaan dengan pengambilan hasil CTS. Psikolog Tri Novita Herdalena mengajak orang tua melihat pendampingan sebagai proses bertahap: membangun kedekatan di kelas X, menguatkan minat dan potensi di kelas XI, lalu memberi kepercayaan di kelas XII. Peran orang tua pada tahap akhir bukan mengambil alih keputusan, melainkan menjadi kompas yang membantu anak mengenali potensi, menimbang pilihan, dan bertanggung jawab atas konsekuensinya. Pilihan masa depan patut mempertimbangkan minat, potensi, nilai hidup, dan rencana untuk mewujudkannya. “Orang tua perlu menjadi penyemangat, bukan penentu,” menjadi pesan yang layak dipegang keluarga. Anak juga perlu didengar, mendapat informasi yang tepat, dan menerima dukungan emosional agar tidak merasa menghadapi persoalan sendirian.

Sinergi keluarga dan sekolah membuat dukungan berkelanjutan
Workshop hanya akan berdampak bila percakapannya berlanjut di rumah dan terhubung dengan dukungan sekolah. Keterlibatan sekolah keluarga berarti orang tua, guru, wali kelas, dan konselor berbagi peran tanpa saling menggantikan. Orang tua dapat menjaga komunikasi tetap terbuka, sementara sekolah memberi masukan akademik dan informasi lanjutan; sesi tanya jawab juga memberi ruang bagi keluarga menyampaikan tantangan pengasuhan. Bagi kelas XII, pendampingan berlangsung menjelang masa transisi yang padat: Tes Kemampuan Akademik dijadwalkan pada 2–5 November 2026, disusul persiapan Asesmen Sumatif Akhir Semester mulai 30 November 2026. Madrasah juga berencana menyosialisasikan kebijakan pembatasan telepon genggam lebih lanjut agar murid lebih fokus belajar. Jadwal ini membuat dukungan emosional dan komunikasi antara rumah dan sekolah semakin relevan. Kesimpulannya, pendidikan remaja lebih kuat ketika orang tua memberi kepercayaan, sekolah menyediakan arahan, dan anak tetap menjadi pihak yang belajar memilih.






