Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kolaborasi Drone dan Personel: Model Baru Siaga Karhutla

Kolaborasi Drone dan Personel: Model Baru Siaga Karhutla
Minat|Fotografi Udara Drone

Mengapa Model Siaga Karhutla Harus Berubah

Sistem siaga karhutla terintegrasi adalah pendekatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang menggabungkan drone monitoring kebakaran hutan, menara pantau, posko patroli, personel lapangan, serta keterlibatan masyarakat untuk mempercepat deteksi dini titik api dan respons pemadaman secara terkoordinasi dalam satu jaringan informasi yang menyatu.

Selama ini, banyak wilayah hanya mengandalkan tenaga manusia dengan peralatan seadanya. Di Desa Tungkaran, ancaman kebakaran yang merembet ke perkebunan memaksa petani karet seperti Pak Min berjibaku sendiri menjaga kebunnya dari api dengan peralatan sederhana. Gambaran ini menunjukkan betapa mahalnya keterlambatan deteksi: ketika api sudah dekat ke kebun, yang tersisa hanyalah upaya menyelamatkan sisa penghidupan. Kekhawatiran Pak Min soal getah karet yang berkurang dan pohon yang bisa mati jika tersentuh api bukan sekadar ketakutan, melainkan cermin betapa rapuhnya ekonomi rumah tangga ketika karhutla dibiarkan terlambat ditangani.

Kolaborasi Drone dan Personel: Model Baru Siaga Karhutla

PT EBL dan Lahirnya Sistem Siaga Karhutla Terintegrasi

Berbeda dengan pola reaktif seperti di Tungkaran, PT Etam Bersama Lestari (EBL) di Sangkulirang memilih membangun sistem siaga karhutla terintegrasi. Perusahaan ini menyiapkan 237 personel dalam satu Satgas Karhutla yang dibagi ke regu inti, regu pendukung, regu KTPA, dan tim kelengkapan sarana prasarana. Ini bukan angka kecil; ini pernyataan bahwa pencegahan lebih penting daripada pemadaman panik.

Kekuatan manusia itu dipadukan dengan infrastruktur: satu gudang pemadam, dua gudang damkar pendukung, sembilan posko patroli, 24 menara pantau, 30 titik embung, dan satu hydrant yang disiapkan untuk menghadapi risiko karhutla di seluruh area operasional. Di puncak musim kemarau, ketika peringatan cuaca kering dikeluarkan dan beberapa wilayah mengalami hari-hari panjang tanpa hujan, PT EBL tidak menunggu api datang. Mereka menggabungkan patroli gabungan, Kelompok Tani Peduli Api, dan aparat setempat menjadi satu barisan yang bergerak terencana, bukan gagap.

Peran Drone: Mata di Langit, Arah di Darat

Kunci pembeda sistem PT EBL adalah penggunaan drone monitoring kebakaran hutan sebagai mata di langit. Perusahaan mengoperasikan tiga unit drone untuk memantau titik api dari udara secara lebih cepat dan untuk menjangkau area yang sulit diakses. Dalam konteks deteksi dini titik api, ini keunggulan yang mengubah permainan: drone bukan sekadar alat canggih, tetapi sensor real-time yang memberi arah bagi tim ground.

Ketika drone mendeteksi anomali atau asap, informasi itu dapat segera diteruskan ke posko dan menara pantau, lalu kepada regu di lapangan. Di sinilah kolaborasi drone dan patroli menjadi signifikan. Patroli gabungan yang melibatkan KTPA, pemerintah kecamatan, dan aparat setempat sudah rutin dilakukan di puncak musim kemarau. Dengan dukungan data udara, patroli tidak lagi berputar tanpa tujuan; mereka bergerak langsung ke titik rawan yang telah dipetakan melalui SOP, peta kawasan rawan, dan Fire Danger Rating.

Kolaborasi Drone dan Personel: Model Baru Siaga Karhutla

Dari Pelawan ke Tepian Terap: Dampak Nyata bagi Warga

Dampak utama sistem ini terasa pada orang-orang yang hidup di sekitar perkebunan. PT EBL menegaskan bahwa pilar pencegahan karhutla mereka tidak hanya menyasar area perusahaan, tetapi juga Desa Pelawan dan Desa Tepian Terap yang masuk wilayah pemantauan. Ini pergeseran penting: warga tidak lagi diposisikan sebagai penonton atau sekadar objek sosialisasi, melainkan mitra dalam sistem siaga karhutla terintegrasi.

Pengalaman Pak Min di Martapura, yang harus menjaga kebun karet sejak sehari sebelumnya agar api tidak menggerus sumber penghidupan keluarganya, adalah contoh yang seharusnya dihindari oleh sistem modern. Dengan patroli bersama yang menyasar titik-titik rawan di sekitar wilayah operasional maupun permukiman warga, sekaligus menjadi ruang koordinasi antara perusahaan, aparat, dan keamanan, masyarakat punya peluang lebih besar untuk terhindar dari tragedi serupa. Karhutla bukan hanya soal hektare yang terbakar, tetapi tentang berapa banyak rumah tangga yang kehilangan mata pencaharian.

Menjaga Konsistensi: Tantangan dan Arah ke Depan

Keunggulan model PT EBL bukan hanya pada kelengkapan sarana, tetapi pada keberanian memadukan pendekatan preventif, promotif, dan kolaboratif dalam satu sistem siaga karhutla terintegrasi. Dalam Apel Siaga Karhutla, Sosialisasi, dan Patroli Gabungan yang digelar di Lapangan Desa Tepian Terap, komitmen untuk menjadikan desa sekitar bebas karhutla ditegaskan sebagai pilar utama pencegahan.

Namun sistem secanggih apa pun tetap bergantung pada konsistensi. Sisa bara di lahan yang telah terbakar dapat memicu kebakaran kembali jika kewaspadaan mengendur. Di masa depan, tantangannya adalah menjaga patroli gabungan tetap rutin, memastikan drone selalu siap terbang, dan menjadikan masyarakat mitra setara dalam pengambilan keputusan. Jika model pionir di Sangkulirang ini dipertahankan dan direplikasi, karhutla bisa dihadapi bukan sebagai bencana tahunan yang tak terelakkan, tetapi sebagai risiko yang dikelola secara cerdas dengan kolaborasi drone dan patroli sebagai tulang punggungnya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!