Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Drone Revolusioner Tanpa Plastik: Lompatan Baru Teknologi Drone Nasional

Drone Revolusioner Tanpa Plastik: Lompatan Baru Teknologi Drone Nasional
Minat|Fotografi Udara Drone

Definisi Drone Ramah Lingkungan dan Terobosan Riset Nasional

Drone ramah lingkungan adalah pesawat tanpa awak yang dirancang dengan material, sistem, dan siklus hidup yang meminimalkan dampak ekologis, misalnya melalui penggunaan komposit serat alam pengganti plastik dan logam, efisiensi energi saat terbang, dan potensi daur ulang material setelah masa pakai selesai. Dalam riset nasional terbaru, Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk (PRBB) dan mitranya menunjukkan bahwa konsep ini tidak lagi sekadar slogan, tetapi telah berbentuk prototipe nyata yang bisa diuji di lapangan.

Kuncinya: drone berkelanjutan bukan hanya soal menempel label hijau, tetapi mengubah jantung struktur pesawat. PRBB Badan Riset dan Inovasi bekerja sama dengan Universitas Nurtanio (UNNUR) Bandung mengembangkan dua prototipe pesawat nirawak, yaitu UAV Vertical Take-Off and Landing (VTOL) dan UAV quadcopter dengan struktur berbasis biomassa. Ini bukan percobaan pinggiran, melainkan sinyal bahwa teknologi drone nasional mulai berani keluar dari ketergantungan pada plastik dan logam konvensional, menuju inovasi material drone yang lebih berwawasan lingkungan.

Drone Revolusioner Tanpa Plastik: Lompatan Baru Teknologi Drone Nasional

Serat Abaka, TKKS, dan Bambu: Saat Limbah Menjadi Struktur Udara

Hal paling revolusioner dari riset ini ada pada pilihan material: UAV VTOL menggunakan komposit serat abaka dan serat tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dengan tambahan karbon aktif TKKS, sedangkan quadcopter memakai epoksi yang dipadukan serat abaka dan karbon aktif bambu. Ini adalah bentuk nyata inovasi material drone yang menjadikan biomassa sebagai tulang punggung struktur. Serat abaka memiliki densitas sekitar 1 gram per cm³, lebih rendah daripada serat karbon 2,2 gram per cm³ dan aluminium 3,8 gram per cm³, sehingga memberikan keunggulan bobot.

Dalam uji tarik, serat abaka yang dipakai pada quadcopter mencapai kekuatan kurang lebih 111,5 MPa. "Nilai tersebut menunjukkan serat abaka berpotensi sebagai pengganti material konvensional dalam struktur UAV," jelas Lies Banowati, dosen Teknik Penerbangan UNNUR dan Wakil Rektor I. Lebih dari sekadar angka, ini adalah argumen teknis bahwa drone ramah lingkungan tidak harus kompromi pada kekuatan. Dengan memanfaatkan biomassa yang ketersediaannya melimpah, pengembangan drone berkelanjutan sekaligus mendorong Tingkat Komponen Dalam Negeri dan mengubah limbah perkebunan menjadi aset teknologi.

Dari Sawah hingga Zona Bencana: Dampak Nyata untuk Pengguna

Prototipe UAV VTOL dengan Maximum Takeoff Weight (MTOW) 5,5 kg dan quadcopter 3 kg dirancang bukan hanya sebagai demonstrator laboratorium, tetapi sebagai alat kerja di lapangan. Struktur yang ringan membuatnya lebih efisien untuk misi jarak 10–15 km dengan baterai lithium polymer (LiPo). Di sektor pertanian dan perkebunan, kedua drone ini sudah diarahkan untuk pemetaan, identifikasi hama, dan pengukuran kadar air tanah. Ini berarti petani dan pengelola kebun punya opsi drone berkelanjutan yang tidak hanya canggih, tetapi juga selaras dengan ekosistem yang mereka kelola.

Pada sisi kemanusiaan, teknologi drone nasional ini punya dampak langsung: UAV VTOL dan quadcopter dapat dipakai mendistribusikan obat-obatan dan alat medis ringan ke daerah terdampak bencana yang sulit dijangkau kendaraan. Di masa depan, tim riset bahkan menargetkan aplikasi lebih spesifik seperti deteksi keberadaan sesar Lembang. Jika dikaitkan dengan dunia aerial photography, kombinasi bobot ringan, material ramah lingkungan, dan kemampuan pemetaan menjadikan platform ini kandidat ideal untuk fotografer udara yang peduli jejak karbon, terutama untuk proyek dokumentasi lahan, konservasi, atau pemantauan lingkungan.

Alap-alap: Teknologi Drone Nasional Naik ke Panggung Publik

Sementara PRBB dan UNNUR menggarap material komposit serat alam, lini teknologi drone nasional lain tampil melalui pesawat udara tanpa awak Alap-alap, yang hadir di Indonesia Innovation Summit & Expo (IISE). Alap-alap adalah pesawat udara tanpa awak (PUNA) untuk pemetaan wilayah, pemantauan bencana, dan dukungan operasi modifikasi cuaca. Risiko terbesar bagi pengembangan drone lokal selama ini adalah dianggap sekadar prototipe meja. Kemunculan Alap-alap di panggung expo mengirim pesan: produk riset siap diuji pasar dan dievaluasi potensi komersialnya.

Riset Alap-alap digarap lintas disiplin, mulai dari teknik dirgantara yang mengurus stabilitas dan kontrol penerbangan, teknik mesin yang menangani struktur dan mesin, hingga teknik elektro yang mengembangkan sistem elektronik, antena GPS, dan autopilot. Drone ini dirancang autopilot; operator cukup memberi koordinat dan pesawat akan terbang sendiri ke titik tujuan. Dalam konteks drone ramah lingkungan, Alap-alap mungkin belum memakai serat biomassa seperti UAV PRBB–UNNUR, tetapi kehadirannya di IISE menunjukkan ekosistem riset yang mulai lengkap: dari inovasi material drone hingga integrasi sistem yang siap mendukung pemetaan dan penanganan bencana.

Menurut Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa, pesawat sejenis Alap-alap sudah digunakan untuk memantau kerusakan infrastruktur dan kondisi korban saat bencana besar. Ini menegaskan bahwa teknologi drone nasional bukan proyek eksperimental yang terputus dari realitas, melainkan alat yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Tantangannya kini adalah menyinergikan pendekatan: menggabungkan keunggulan sistem autopilot dan sensor Alap-alap dengan pendekatan material berkelanjutan dari PRBB dan UNNUR, sehingga lahir generasi baru drone berkelanjutan yang siap bersaing di pasar global aerial photography dan pemetaan bencana.

Drone Revolusioner Tanpa Plastik: Lompatan Baru Teknologi Drone Nasional

Arah ke Depan: Dari Prototipe ke Ekosistem Drone Berkelanjutan

Secara teknis, UAV fixed wing berbasis serat alam telah lulus uji sistem di darat dan bersiap uji terbang di Lanud Sulaiman, sementara quadcopter sudah diuji dan bisa terbang dengan baik. Peneliti PRBB menegaskan bahwa prototipe ini diharapkan berlanjut ke tahap hilirisasi. Di sinilah opini kritis diperlukan: tanpa langkah cepat menuju sertifikasi, standardisasi, dan model bisnis yang jelas, drone ramah lingkungan ini berisiko berhenti sebagai poster konferensi.

Riset menyebut bahwa ketersediaan biomassa di dalam negeri melimpah dan berpotensi dikembangkan menjadi material bernilai tambah. Artinya, bahan baku untuk inovasi material drone ada dan murah; yang kurang adalah keberanian industri aerial photography, agritech, dan layanan pemetaan untuk mengadopsinya. Untuk pelaku industri foto udara, memilih platform berbasis serat alam menjadi pernyataan sikap: bahwa estetika gambar bisa berjalan seiring dengan etika lingkungan. Jika sinergi antara laboratorium, regulator, dan pelaku usaha terwujud, drone berkelanjutan bukan lagi jargon, melainkan standar baru teknologi drone nasional.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!