Dugaan perundungan yang berulang
Perundungan sekolah adalah tindakan menyakiti atau menekan murid secara berulang oleh teman sebaya, yang dapat membuat tempat belajar terasa tidak aman dan mengganggu kesejahteraan anak. Kasus K, siswa kelas VI SDN Langkap 2 di Kabupaten Pekalongan, menunjukkan mengapa dugaan seperti ini harus diselidiki serius, bukan dianggap sebagai cekcok biasa. Ayahnya, Febi Firdaus, mengatakan kekerasan fisik diduga terjadi sejak K duduk di kelas III, berlanjut pada kelas IV dan V, lalu kembali saat kelas VI. Ibunya menyebut tiga anak diduga terlibat pada awalnya, sementara dugaan kejadian di kelas VI melibatkan lima anak. Angka itu masih merupakan keterangan keluarga dan informasi awal, bukan penetapan kesalahan. Namun, rentang waktu yang panjang patut mendorong sekolah memeriksa bagaimana laporan sebelumnya ditangani dan apakah anak yang terdampak mendapat perlindungan memadai.
Masalahnya bukan hanya dugaan tindakan para murid, tetapi juga kemungkinan bahwa tanda-tandanya tidak terlihat atau tidak tertangani sejak awal. K disebut bukan anak yang mudah menceritakan apa yang dialaminya; ibunya mengatakan keluarga lebih sering mengetahui kejadian dari adik K. Karena itu, mekanisme pengaduan tidak boleh bergantung pada keberanian anak untuk bercerita sendiri. Kasus bullying siswa SD ini mengingatkan bahwa orang dewasa perlu memperhatikan perubahan perilaku, mendengar tanpa menyalahkan, dan menindaklanjuti setiap laporan secara konsisten.

Dampak psikologis yang mengubah keseharian
Kemunduran kondisi K dilaporkan semakin terlihat pada Oktober 2026. Keluarga menggambarkan perubahan pola makan dan tidur, penolakan untuk berangkat sekolah, serta masa ketika K disebut tidak tidur selama dua hingga tiga hari. Dalam dua pekan terakhir, ia juga dilaporkan lebih banyak melamun, tampak kebingungan, dan kesulitan berkomunikasi. Dugaan depresi dan halusinasi yang disebut dalam laporan keluarga dan media harus diperlakukan sebagai informasi tentang kondisi yang sedang ditangani, bukan diagnosis yang dapat dipastikan dari pemberitaan. Istilah trauma anak dan depresi pada anak menegaskan besarnya perhatian yang diperlukan, tetapi penilaian klinis tetap berada pada tenaga kesehatan. Dampaknya sudah terasa pada kehidupan sehari-hari: K untuk sementara tidak bersekolah. Memulihkan rasa aman dan mendukung perawatan perlu berjalan beriringan; menuntut anak segera kembali seperti sediakala tanpa memahami kondisinya berisiko menambah tekanan.
K kini menjalani perawatan di Rumah Sakit Djunaid. Pemeriksaan awal dilakukan setelah keluarga membawa anak itu untuk mendapatkan pertolongan medis, dan perawatan diperkirakan berlangsung sekitar satu pekan. Ayahnya berharap K segera pulih dan memperoleh pengobatan serta pendampingan yang diperlukan. Harapan keluarga itu seharusnya menjadi perhatian utama semua pihak, bukan alasan untuk memburu penyelesaian cepat. Pemulihan psikologis tidak dapat dijanjikan dalam tenggat tertentu, sehingga tindak lanjut tenaga kesehatan, dukungan keluarga, dan rasa aman dari lingkungan sekolah sama-sama penting. Informasi mengenai gejala dan diagnosis juga perlu disampaikan dengan hati-hati agar privasi serta martabat anak terlindungi.

Penyelidikan harus berujung pada perlindungan
Dinas Pendidikan Kabupaten Pekalongan telah menerjunkan tim untuk menyelidiki dugaan tersebut. Sekretaris dinas Nasruddin menyebut informasi awal mengarah pada lima anak yang diduga terlibat, dengan kemungkinan ada anak lain yang menyaksikan. Dinas juga berkoordinasi dengan kepolisian dan Dinas Kesehatan untuk menangani kasus ini. Langkah itu penting, tetapi ukuran keberhasilannya bukan sekadar jumlah pihak yang diperiksa. Penelusuran perlu mendengar keterangan secara hati-hati, menjaga anak-anak dari tekanan, menguji informasi dari berbagai pihak, dan memastikan keselamatan K selama proses berlangsung. Dugaan harus ditangani dengan adil tanpa menyimpulkan kesalahan sebelum pemeriksaan selesai.
Sekolah juga perlu meninjau respons terhadap kejadian terdahulu. Ibu K mengatakan masalah saat kelas III sempat dibicarakan dengan pihak sekolah, diikuti permintaan maaf dan nasihat kepada anak-anak yang diduga terlibat; keluarga mengira persoalan itu telah selesai, sebelum dugaan kejadian muncul kembali saat kelas VI. Jika laporan berulang, pendekatan yang berhenti pada nasihat atau permintaan maaf tidak cukup tanpa pemantauan dan perlindungan yang nyata. Kesimpulannya, kasus ini menuntut penyelidikan yang cermat sekaligus dukungan pemulihan jangka panjang. Sekolah harus menjadi tempat aman, sementara kondisi K dan kebutuhan keluarganya perlu tetap menjadi prioritas.






