Batagor Bandung Dunia: Saat Jajanan Kaki Lima Naik Kelas
Batagor adalah kudapan goreng berbahan dasar adonan ikan atau udang yang dibalut kulit pangsit dan tahu, digoreng hingga renyah, lalu disajikan dalam potongan kecil bersama saus kacang gurih pedas dan perasan jeruk limau, yang lahir di Bandung sebagai jajanan kaki lima namun kemudian diangkat menjadi ikon kuliner yang dikenal lintas kota dan lintas negara. Pengakuan terbaru dari panduan kuliner TasteAtlas yang menempatkan batagor asal Bandung di posisi kedua dalam daftar 50 makanan goreng terbaik dunia edisi September dengan rating 4,4 menegaskan statusnya sebagai bintang baru makanan goreng dunia. Dalam daftar TasteAtlas makanan goreng ini, batagor berdiri sejajar dengan chikin Korea yang menempati peringkat pertama dengan rating yang sama, 4,4. Fakta ini bukan sekadar prestise, tetapi sinyal kuat bahwa kuliner Indonesia internasional bukan lagi mimpi, melainkan realitas yang terbentuk dari kekuatan rasa jajanan kaki lima legendaris.
Jejak dari Gang Situsaeur: Narasi Asal-Usul yang Tak Boleh Dilupakan
Di balik istilah batagor Bandung dunia yang kini terasa megah, sejarahnya berawal dari ruang yang sangat sederhana: Gang Situsaeur pada 1968. Di gang sempit itu, usaha batagor yang kelak dikenal sebagai Batagor H. Isan merintis dagangan dari gerobak dan wajan panas, menjajakan adonan ikan yang digoreng di depan pembeli sebagai jajanan kaki lima sederhana. Dari sudut kecil kota, muncul format makanan yang mengadaptasi pangsit ikan ala Tionghoa, lalu menggorengnya hingga renyah dan menyajikannya dengan saus kacang pedas yang kemudian menjadi ciri khas. Sejarah ini penting karena mengingatkan bahwa pengakuan internasional hari ini lahir dari kegigihan pelaku kecil yang menjaga resep, rasa, dan cara menyajikan makanan untuk pelanggan sekitar. Tanpa fase gerobak lusuh dan pelanggan setia di gang sempit, kita tak akan sampai pada panggung TasteAtlas makanan goreng yang begitu bergengsi.
Dari Gerobak ke Ikon Kota: Batagor sebagai Identitas Kuliner
Perjalanan batagor adalah cerita tentang bagaimana makanan sederhana bisa menjadi identitas sebuah kota. Setelah Gang Situsaeur, muncul nama-nama legendaris lain seperti Batagor Burangrang, Kingsley, dan Riri yang tumbuh dari era 1970-an hingga 1980-an, masing-masing mempertahankan racikan batagor dengan karakter berbeda, dari ikan tenggiri yang kuat hingga bumbu kacang kental yang disajikan terpisah. Kini, kedai-kedai ini bukan hanya tempat makan, tetapi juga pusat oleh-oleh yang diburu wisatawan, membuktikan bahwa jajanan kaki lima legendaris bisa bermetamorfosis menjadi destinasi kuliner. "Perjalanan panjang sejarah batagor menunjukkan bahwa makanan sederhana pun bisa punya tempat istimewa dalam perkembangan kuliner sebuah kota," tulis salah satu ulasan sejarahnya. Saat batagor naik ke daftar kuliner Indonesia internasional versi TasteAtlas, yang sedang dirayakan bukan hanya kerenyahan gorengan, tetapi juga sejarah panjang pelapak yang menjadikannya kebanggaan kolektif.
TasteAtlas dan Momentum Pengakuan Global
Masuknya batagor Bandung dunia ke posisi kedua dalam daftar 50 Best Deep-fried Dishes bukan kebetulan, melainkan buah konsistensi rasa dan karakter yang khas. Dalam daftar tersebut, batagor mendapatkan rating 4,4 dari skala 5, menempel ketat di bawah chikin dari Korea dengan rating sama. Pengakuan ini datang bersama kehadiran beberapa kuliner Indonesia lain dalam daftar yang sama: ayam goreng di peringkat 13, pempek di 18, gorengan di 23, tempeh mendoan di 33, dan bebek goreng di 36. Menurut ulasan daftar tersebut, "Peringkat yang dirilis TasteAtlas ini menjadi bukti bahwa olahan gorengan tradisional khas Nusantara memiliki daya pikat tinggi dan mampu bersaing dengan ragam kuliner goreng kenamaan lainnya dari seluruh penjuru dunia." Artinya, batagor tidak berdiri sendiri; ia berada dalam gelombang kuliner Indonesia internasional yang semakin diakui, tetapi tetap berakar pada tradisi penggorengan di wajan-wajan jalanan.
Potensi Street Food Lokal: Pelajaran dari Kisah Batagor
Transformasi batagor dari dagangan di gerobak tradisional menjadi kuliner yang diakui dunia menunjukkan potensi besar street food lokal. Batagor mengajarkan bahwa standar "makanan kelas dunia" tidak harus lahir dari dapur mewah; ia bisa bermula dari tepung terigu, tepung tapioka, telur, dan ikan laut atau udang yang digoreng di pinggir jalan untuk pelanggan yang makan sambil berdiri. Kuncinya adalah konsistensi rasa, cerita yang terus dirawat, dan keberanian generasi penerus untuk mempertahankan resep sambil membuka diri pada kunjungan wisatawan yang membawa nama batagor ke luar kota. Pengakuan TasteAtlas makanan goreng hanya mempertegas bahwa dunia siap menghargai kejujuran rasa dan kehangatan jajanan kaki lima legendaris, selama kita sendiri tidak meremehkannya. Pada akhirnya, batagor bukan sekadar gorengan; ia adalah argumen kuat bahwa identitas kuliner sebuah kota bisa menjadi bahasa universal yang dipahami lewat satu gigitan renyah dan sambal kacang yang membuat orang ingin kembali.






