Pembangunan memasuki tahap penyelesaian
MCK Kampung Yamboi adalah fasilitas mandi, cuci, dan kakus yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan sanitasi dasar warga sekaligus mendukung lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Pembangunannya dikerjakan personel Satgas TMMD ke-130 Kodim 1808/Mansel bersama masyarakat di Distrik Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan. Pada 30 Oktober 2026, proyek tersebut dilaporkan mencapai progres sekitar 85 persen dan mulai memasuki tahap penyelesaian. Angka itu menandai kemajuan penting, tetapi belum menjadi alasan untuk menganggap pekerjaan selesai: mutu bangunan dan kelengkapan fasilitas tetap menentukan apakah warga dapat menggunakannya dengan aman dan nyaman. Karena itu, gotong royong dalam pekerjaan akhir perlu diikuti pemeriksaan yang cermat, bukan sekadar mengejar penyelesaian secepatnya.

Pemeriksaan menjadi penentu sebelum digunakan
Pada 1 November, Dansatgas TMMD Ke-130 meninjau bangunan dan mengevaluasi bagian yang masih memerlukan finishing. Ia menekankan bahwa kualitas harus tetap menjadi prioritas agar fasilitas layak, aman, dan nyaman digunakan dalam jangka panjang. Pemeriksaan itu kemudian berlanjut: pada 5 November, Wadan Satgas Kapten Inf Hendro turun langsung mengecek kondisi bangunan dan kelengkapan fasilitas untuk memastikan MCK siap dimanfaatkan warga. Urutan ini penting. Progres tinggi memberi gambaran bahwa pekerjaan mendekati akhir, sedangkan pengecekan lapangan membantu memastikan hasilnya benar-benar memenuhi kebutuhan pengguna. Bagi TMMD Manokwari Selatan, keberhasilan sasaran fisik semestinya dinilai bukan hanya dari bangunan yang tampak rampung, tetapi juga dari kesiapan fasilitas saat diserahkan kepada masyarakat.

Sumur resapan melengkapi fungsi sanitasi
Dukungan sanitasi di Yamboi tidak berhenti pada bangunan MCK. Pada 4 November, Wadansatgas mengawasi pembangunan sumur resapan, termasuk pemasangan batako dan penataan saluran pembuangan agar konstruksi kuat dan berfungsi baik. Bagian ini penting karena pengelolaan air buangan ikut menentukan dampak fasilitas terhadap lingkungan. Sumur resapan dirancang untuk membantu mengelola limbah air rumah tangga dan mencegah pencemaran; tanpa penanganan pembuangan yang memadai, manfaat MCK bagi sanitasi warga dapat berkurang. Dengan demikian, pemeriksaan terhadap MCK dan sumur resapan sebaiknya dipandang sebagai satu rangkaian pekerjaan, bukan dua sasaran yang terpisah. Keduanya perlu berfungsi bersama agar lingkungan lebih bersih dan fasilitas dapat memberi manfaat dalam jangka panjang.

Manfaat berkelanjutan bergantung pada perawatan
MCK yang layak berpotensi membantu warga memenuhi kebutuhan dasar, menjaga kebersihan lingkungan, dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Namun, pembangunan fisik saja tidak menjamin manfaat itu bertahan. Setelah pekerjaan selesai, warga diharapkan menggunakan serta merawat fasilitas bersama agar tetap bersih dan dapat dipakai dalam jangka panjang. Sementara itu, personel Satgas TMMD terus mengoptimalkan pekerjaan agar penyelesaian sesuai target. Tahap akhir ini perlu menghasilkan lebih dari sekadar bangunan yang tampak siap: sistem pembuangan harus berfungsi, fasilitas lengkap, dan tanggung jawab perawatan jelas di kalangan pengguna. Kesimpulannya, progres 85 persen merupakan langkah maju, sedangkan pemeriksaan Wadan Satgas dan dukungan sumur resapan menjadi pengingat bahwa keberhasilan MCK Kampung Yamboi ditentukan oleh kelayakan saat digunakan serta pemeliharaan setelah diserahkan.






