Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Sepuluh Tahun, 638 Foto, dan Jejak Budaya yang Terabadikan

Sepuluh Tahun, 638 Foto, dan Jejak Budaya yang Terabadikan
Minat|Gaya Fotografi

Satu Dekade dengan Antusiasme yang Melonjak

Lomba Foto Cirebon Power adalah kompetisi fotografi tahunan yang memberi ruang bagi fotografer untuk merekam budaya, destinasi wisata, dan potensi daerah melalui karya visual sekaligus menghadirkan sudut pandang lokal. Memasuki penyelenggaraan ke-10 pada 2026, ajang ini menerima 638 karya dari peserta Cirebon dan luar daerah. Angka itu meningkat hampir 100 persen dibanding tahun sebelumnya, tanda bahwa minat untuk mengabadikan keunikan daerah terus tumbuh. Tema “Dari Cirebon untuk Indonesia” terasa tepat untuk perayaan satu dekade: karya lokal tidak berhenti menjadi dokumentasi komunitas, tetapi berpeluang memperkenalkan warisan dan daya tarik daerah kepada khalayak lebih luas. Menurut Petrus Sihono, Stakeholder Relation Manager Cirebon Power, jumlah karya yang masuk menunjukkan besarnya antusiasme masyarakat terhadap kompetisi ini. Pencapaian tersebut layak dirayakan, bukan semata karena jumlahnya, melainkan karena ratusan fotografer memilih menjadikan daerah sebagai cerita visual.

Sepuluh Tahun, 638 Foto, dan Jejak Budaya yang Terabadikan

Ruang Belajar bagi Fotografer Jurnalis

Nilai kompetisi ini tidak hanya ditentukan oleh pemenang. Bagi fotografer jurnalis, lomba yang digelar rutin memberi tenggat, tema, dan alasan untuk terus mengasah cara melihat serta menyusun cerita lewat gambar. Imam Baehaqi, peserta dari kalangan jurnalis, telah mengikuti lomba ini lima kali dan meraih penghargaan sebanyak empat kali; pada penyelenggaraan 2026, ia memperoleh juara kedua. Pengalamannya menunjukkan bagaimana kompetisi fotografi regional dapat menjadi ruang latihan yang berulang, bukan sekadar kesempatan sesaat untuk mengirim karya. Konsistensi tahunan memberi komunitas fotografi kesempatan untuk belajar, mengevaluasi hasil, dan meningkatkan kualitas dokumentasi budaya dari waktu ke waktu. Inilah ekosistem pembelajaran yang patut dijaga: fotografer berlatih menangkap momen dengan lebih terarah, sementara publik mendapat rekaman warisan lokal dari beragam sudut pandang. Bagi insan pers, fotografi jurnalistik juga menjadi sarana memacu kreativitas sekaligus memperkuat kemampuan bercerita secara visual.

Dari Dokumentasi Lokal ke Cerita yang Lebih Luas

Lomba fotografi budaya ini penting karena membuat dokumentasi warisan lokal hadir dalam bentuk yang mudah dilihat dan dibagikan. Peserta mengangkat kekayaan budaya, potensi wisata, dan ciri khas daerah, sehingga foto berperan sebagai lebih dari sekadar rekaman: ia mengundang orang lain untuk memperhatikan dan mengenal tempat tersebut. Tema “Dari Cirebon untuk Indonesia” menegaskan aspirasi agar pesona lokal menjangkau khalayak nasional. Namun, banyaknya karya menarik juga membuat proses seleksi menjadi tantangan bagi juri. Fotografer profesional sekaligus juri Barry Kusuma menjelaskan bahwa penilaian mempertimbangkan kesesuaian tema, kekuatan cerita, kualitas teknis, dan kemampuan menangkap momen. Standar seperti ini penting: dokumentasi yang kuat bukan hanya indah, tetapi juga menyampaikan cerita dengan jelas. Setelah sepuluh tahun, keberhasilan terbesar lomba ini adalah kesinambungannya—mendorong fotografer untuk terus merekam budaya dan membantu pesona daerah mendapat ruang dalam percakapan yang lebih luas.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!