Armada tambahan menjawab keluhan yang nyata
Armada sampah Medan adalah kendaraan operasional yang digunakan pemerintah kota untuk mengumpulkan dan mengangkut sampah dari lingkungan warga ke tahap pengelolaan berikutnya. Pemko Medan merencanakan penambahan 26 truk dan 151 becak motor pengangkut sampah pada 2027, atau 177 unit secara keseluruhan. Rencana ini disampaikan Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas dalam kegiatan Gotong Royong dan Sapa Warga di Jalan Mistar, Kelurahan Sei Putih Barat, Medan Petisah, pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Penambahan tersebut diarahkan untuk meningkatkan intensitas pengangkutan dan mengurangi penumpukan di lingkungan. Langkah ini patut dinilai dari dampaknya bagi warga, bukan semata dari jumlah kendaraan: keluhan yang memicu rencana itu menunjukkan bahwa layanan yang terjadwal belum selalu terlaksana.
Seorang warga, Susi, mengatakan sampah di lingkungannya kadang tidak terangkut hingga satu atau dua minggu, meskipun jadwal pengangkutan biasanya tiga kali sepekan. Keterlambatan itu, menurut informasi yang diterima warga dari petugas, berkaitan dengan armada yang rusak dan jumlah kendaraan operasional yang belum mencukupi. Kondisi tersebut menjelaskan mengapa tambahan armada bisa membantu, sekaligus mengapa pembelian kendaraan saja belum cukup.

Truk dan betor perlu mendukung rute yang berbeda
Kombinasi truk pengangkut sampah dan becak motor sampah berpotensi memperkuat layanan di dua kebutuhan yang saling melengkapi. Truk dapat menopang pengangkutan dalam skala lebih besar, sementara becak motor memungkinkan petugas menjangkau jalan lingkungan yang lebih sempit. Ini merupakan fungsi yang masuk akal dari komposisi armada tersebut, meski sumber tidak merinci rute maupun pembagian operasionalnya. Jika ditempatkan sesuai kebutuhan wilayah dan disertai jadwal yang konsisten, kendaraan tambahan dapat membantu mencegah sampah menunggu terlalu lama di lingkungan warga.
Namun, masalah yang dilaporkan bukan hanya kekurangan kendaraan: sejumlah armada yang ada juga mengalami kerusakan. Karena itu, pengangkutan sampah kota akan lebih terbantu jika penambahan unit berjalan bersama pemeliharaan, kesiapan pengemudi dan petugas, serta pengaturan rute yang jelas. Tanpa langkah tersebut, kendaraan baru berisiko tidak menghasilkan peningkatan layanan yang sebanding dengan jumlahnya. Ukuran keberhasilan yang paling berarti bagi warga adalah apakah sampah benar-benar diangkut sesuai jadwal, bukan sekadar apakah armada bertambah.

Janji harus diikuti pemantauan layanan
Rencana untuk 2027 memberi Pemko Medan waktu untuk memastikan armada yang disiapkan benar-benar menjawab kebutuhan lapangan. Pemerintah perlu memantau apakah frekuensi pengangkutan meningkat dan apakah keluhan soal sampah yang tertahan berminggu-minggu berkurang. Dialog warga dalam agenda Gotong Royong dan Sapa Warga, yang digelar rutin setiap Sabtu secara bergilir di sejumlah kecamatan, dapat menjadi jalur untuk mencatat masalah dan menilai tindak lanjutnya. Aduan warga semestinya dipakai bukan hanya untuk merespons insiden, tetapi juga untuk mengenali kawasan yang berulang kali tertinggal.
Penambahan 26 truk dan 151 becak motor merupakan langkah yang relevan terhadap kekurangan armada dan keterlambatan pengangkutan yang dikeluhkan warga. Tetapi kendaraan bukan solusi tunggal: perawatan, rute, jadwal, dan pengawasan menentukan apakah sampah benar-benar terangkat lebih cepat. Kesimpulannya, rencana ini layak disambut sebagai awal perbaikan, sementara keberhasilannya harus diukur dari layanan kebersihan yang terasa konsisten di setiap lingkungan.






