MYP Sulsel: Saat Konektivitas Regional Naik Kelas
Program Multi Years Contract (MYP) infrastruktur jalan Sulsel adalah skema pembangunan jangka menengah yang membagi penanganan 1.400 kilometer jalan provinsi ke dalam enam paket kerja selama 2025–2027, mencakup 85 ruas yang ditangani secara bertahap demi mempercepat perbaikan, meningkatkan kualitas jaringan transportasi, dan memperkuat konektivitas regional Sulsel. Dari awalnya sebatas komitmen politik, program MYP Sulawesi kini masuk fase paling menentukan: 49 ruas jalan sudah berada di tahap pengerjaan fisik, sementara 36 ruas lainnya masih disiapkan di meja perencanaan. Lonjakan aktivitas konstruksi di banyak titik sekaligus bukan sekadar indikator progres administratif, tetapi sinyal bahwa prioritas Gubernur Andi Sudirman Sulaiman dan Wakil Gubernur Fatmawati Rusdi pada infrastruktur jalan Sulsel benar-benar diterjemahkan menjadi proyek nyata di lapangan.
Skala Proyek: 1.400 Kilometer Bukan Sekadar Angka
Yang membedakan program MYP Sulawesi dari pola pembangunan jalan biasa adalah keberanian bermain di skala besar, dengan horizon waktu jelas dan paket kerja terstruktur. Total ada 85 ruas yang masuk daftar, dengan panjang penanganan mencapai 1.400 kilometer jalan provinsi dan dibagi ke dalam Paket I hingga VI: 300,24 km, 209,38 km, 254,85 km, 286,80 km, 218,75 km, dan 157,49 km. Hingga awal Agustus, progres fisik menunjukkan gambar yang campur: Paket I dan III mendekati 29 persen, Paket II dan V di kisaran 17–21 persen, Paket IV masih 12,03 persen, dan Paket VI baru 0,96 persen. Angka-angka ini memicu pertanyaan kritis: apakah kecepatan pengerjaan sudah sejalan dengan ekspektasi publik terhadap percepatan konektivitas regional Sulsel, atau justru masih banyak ruang untuk pengetatan manajemen proyek?
Makassar Sebagai Etalase: Hertasning, Aroepala, dan Tamalanrea Raya
Pembangunan jalan Makassar menjadi etalase paling terlihat dari program ini. Jalan Hertasning disebut sudah mendekati 90 persen, tinggal menyelesaikan pekerjaan pelengkap seperti marka jalan. Ruas Aroepala dan Burung-Burung bahkan sudah masuk tahap pengecoran beton, menandakan pilihan konstruksi yang disesuaikan dengan beban lalu lintas dan kondisi teknis di lapangan. Di sisi lain, Jalan Tamalanrea Raya baru memasuki tahap pengaspalan, sebagai bagian dari Paket VI Parang Loe – Tamalanrea Raya – batas Kabupaten Maros sepanjang 6,27 kilometer. Di sini, wajah program MYP tampak jelas: kawasan dengan mobilitas tinggi di Makassar ditangani dengan kombinasi aspal dan beton kaku, sembari mengganti bagian yang sebelumnya hanya memakai paving block. Jika ruas-ruas ini selesai tepat waktu, mereka akan menjadi demonstrasi nyata bahwa pembangunan jalan Makassar adalah pusat strategi konektivitas regional Sulsel, bukan proyek kosmetik kota.
Dampak Nyata bagi Mobilitas dan Ekonomi Warga
Prioritas yang ditekankan gubernur dan wakil gubernur bukan hanya soal angka kilometer, tetapi efek langsung bagi warga: kualitas infrastruktur membaik, konektivitas antarwilayah menguat, dan aktivitas ekonomi lebih leluasa bergerak. Jalan Tamalanrea Raya, misalnya, ditangani dengan konstruksi aspal agar kualitas dan kenyamanan pengguna meningkat, sekaligus mendukung kelancaran mobilitas di kawasan padat aktivitas itu. Di tingkat provinsi, 49 lokasi kerja sekaligus berarti distribusi barang antar wilayah tidak lagi bergantung pada segelintir ruas yang rawan macet dan rusak. Namun efek transformatif ini bergantung pada satu hal: konsistensi pengerjaan hingga tuntas. Gangguan lalu lintas sementara tidak terhindarkan, tetapi jika proyek mangkrak atau molor, kepercayaan publik terhadap program MYP Sulsel akan tergerus lebih cepat dari beton yang baru mengering.
Metode Konstruksi Fleksibel dan Tantangan Tahap Berikutnya
Salah satu keputusan yang patut diapresiasi adalah penolakan terhadap pendekatan satu resep untuk semua. Kepala dinas menegaskan bahwa penanganan tiap ruas dalam program MYP tidak menggunakan satu metode konstruksi yang sama; semuanya disesuaikan dengan tingkat kerusakan dan kondisi teknis. Dalam Paket VI, pekerjaan mencakup pengaspalan, beton kaku, hingga rekonstruksi lapisan perkerasan, dengan prinsip: beton untuk ruas yang butuh penanganan khusus, aspal atau beton di bagian yang masih bisa dipertahankan. Secara teknis, ini langkah sehat. Tantangannya kini berada di manajemen waktu: program resmi berjalan 2025–2027, sedangkan sebagian paket baru menyentuh progres belasan persen. Seruan gubernur agar masyarakat mendukung seluruh tahapan pekerjaan dan bersabar karena perbaikan dilakukan bertahap adalah pengakuan bahwa tahap berikutnya akan menentukan apakah percepatan konektivitas regional Sulsel menjadi kenyataan atau tinggal slogan.






