Kompetisi yang Menguji Olah Data dan Penalaran
SATRIA DATA adalah kompetisi nasional mahasiswa yang menguji kemampuan statistik dan sains data melalui tantangan mengolah data menjadi informasi serta gagasan untuk menjawab persoalan nyata. Edisi 2026 mempertemukan delegasi dari 19 perguruan tinggi, menjadikannya ajang yang lebih dari sekadar perebutan gelar: peserta juga beradu ketelitian analisis dan kemampuan menyampaikan temuan. UNDIP menjadi tuan rumah pembukaan kompetisi di Gedung Prof. Soedarto, S.H., Kampus Tembalang, Semarang, pada 26 Oktober. Besarnya minat terhadap bidang ini terlihat dari kenaikan jumlah pendaftar, dari 1.696 pada 2025 menjadi 2.905 pada 2026, atau sekitar 71 persen. Skala tersebut mempertegas bahwa kompetisi data mahasiswa makin relevan, tetapi juga menuntut peserta menggabungkan kecakapan teknis, pemahaman masalah, dan komunikasi yang jernih.

UNDIP Peringkat Dua dengan Lima Penghargaan
Hasil UNDIP menjadi capaian paling menonjol bagi tuan rumah: UNDIP peringkat dua nasional dengan tiga medali dan dua penghargaan Juara Harapan III. Lima penghargaan itu tersebar di empat kategori, sebuah bukti bahwa kekuatan kampus tidak berhenti pada satu jenis keahlian. Tim Muhammad Fikri Julian Nugroho, Kemal Maulana Malik Veda, dan Tegar Yoga Wicaksana meraih emas di Statistics Infographics Competition. Di Big Data Challenge, tim Ryan Sebastian, Arya Haris Prasetio Siahaan, dan Yudit Ginsa Kurnia Putri mendapat perak, sementara Mochamad Haikal Albeni, Fauzan Abdullah, dan Parlindungan Situmorang membawa pulang perunggu. Ulinnuha Zaidan Yahya memperoleh Juara Harapan III National Statistics Competition, sedangkan tim Tatia Ovitaning Mandani, Nisrina Bilqist Az-Zahra, dan Atika Surya Farisah meraihnya di Statistics Essay Competition. Hasil ini membuat peran UNDIP sebagai tuan rumah terasa lengkap: penyelenggaraan dan prestasi berjalan beriringan.

Dari Final Nasional hingga Pelajaran tentang Ketekunan
Persaingan nasional juga menghadirkan kisah ketekunan dari UNAIR. Theofilus Vebriano, mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi, melaju ke final nasional statistika melalui kategori National Statistics Competition, yang menuntut pemahaman teori serta analisis mendalam dalam waktu terbatas. Jalannya tidak mulus: ia sempat gagal selama dua tahun berturut-turut, lalu kembali mencoba sambil menyusun skripsi. Untuk mempersiapkan diri, Theo membagi waktu belajar dan pengerjaan skripsi secara disiplin, mengulang formulasi teori, serta berlatih simulasi perhitungan. Kisah ini memberi dimensi penting pada kompetisi: capaian bukan hanya soal medali, tetapi juga kemampuan bertahan dan memperbaiki persiapan. Bagi mahasiswa yang ingin ikut ajang serupa, final nasional adalah sasaran; konsistensi, penguasaan konsep, dan pengelolaan waktu menjadi bagian dari perjalanan untuk mencapainya.
Prestasi yang Menjadi Tolok Ukur Berikutnya
SATRIA DATA 2026 memperlihatkan dua sisi persaingan yang sama penting: mutu talenta dari berbagai kampus dan kemauan untuk terus belajar setelah hasil diumumkan. UNDIP boleh merayakan peringkat kedua dan lima penghargaannya, tetapi capaian itu juga menaikkan tolok ukur untuk kompetisi berikutnya. Sementara itu, perjalanan Theofilus Vebriano mengingatkan bahwa kegagalan sebelumnya tidak harus menjadi akhir, selama ada evaluasi dan usaha yang terarah. Nilai kompetisi ini terletak pada pertemuan antara analisis, komunikasi, sportivitas, dan ketekunan—bukan sekadar urutan pemenang. Kesimpulannya, UNDIP sukses sebagai tuan rumah sekaligus pesaing kuat, sedangkan keberhasilan peserta dari kampus lain menegaskan luasnya talenta yang berkembang. Ajang ini layak dipandang sebagai ruang belajar nasional yang hasilnya baru bermakna ketika kemampuan data digunakan untuk memahami persoalan dan merumuskan jawaban yang berguna.






