Lumare: Lulur Mandi Inovatif yang Mengangkat Potensi Garam Pantai
Body scrub alami berbasis garam pantai adalah produk lulur mandi inovatif yang memanfaatkan garam laut berkualitas dan bahan alam lain sebagai eksfoliator lembut, dengan tujuan mengangkat sel kulit mati, membersihkan kotoran, dan sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas garam rakyat melalui formulasi kosmetik yang aman, ramah lingkungan, dan berpotensi menjadi skincare lokal bernilai ekonomi tinggi. Inilah inti dari Lumare, lulur mandi inovatif yang dikembangkan tim Pusat Studi Sumberdaya dan Teknologi Kelautan Universitas Gadjah Mada. Produk ini tidak netral; ia merupakan pernyataan jelas bahwa garam pantai selatan tak lagi sekadar bahan dapur, melainkan bahan penting garam pantai kosmetik yang siap bersaing di segmen premium. Kita sedang menyaksikan perubahan cara pandang terhadap sumber daya pesisir: dari komoditas murah menjadi basis teknologi kosmetik natural.
Dari Pantai ke Kamar Mandi: Eksfoliasi Bahan Alam sebagai Strategi Nilai Tambah
Keberanian UGM menjadikan garam pantai selatan sebagai bahan utama Lumare bukan sekadar eksperimen kosmetik, melainkan strategi hilirisasi yang sangat politis. Garam yang selama ini dipersepsikan sebagai komoditas rendah nilai kini diangkat menjadi pusat teknologi eksfoliasi bahan alam. Dalam formulasi ini, kristal garam berperan langsung mengangkat sel kulit mati dan kotoran dari permukaan kulit, menawarkan pengalaman lulur mandi inovatif yang terasa tak kalah mewah dari scrub impor. Varian Kopi dan Matcha menambah lapis fungsi: kopi untuk mengembalikan energi dan kesegaran kulit, matcha untuk efek detoksifikasi dan ketenangan. Kombinasi ini menunjukkan bahwa skincare lokal tidak harus meniru tren global secara pasif; ia bisa memadukan garam pantai kosmetik dengan komoditas pangan populer dan membangun identitas perawatan tubuh khas pesisir.
Mengikuti Regulasi dan Tren Konsumen: Mengapa Momen Lumare Tepat Sekarang
Pengembangan Lumare jelas bukan kerja laboratorium yang berdiri sendiri; ia lahir dari tekanan regulasi dan perubahan selera pasar. Peraturan Presiden No. 17 Tahun 2025 mendorong hilirisasi garam nasional menjadi produk bernilai tambah, termasuk kosmetik. Artinya, riset garam yang tidak menyentuh pasar kini ketinggalan zaman. Di saat yang sama, tren konsumen bergeser ke produk perawatan tubuh yang alami, aman, dan ramah lingkungan. Di titik inilah body scrub alami dari garam pantai menjadi jawaban yang tepat: ia menghubungkan agenda negara dengan aspirasi pengguna. Menariknya, Lumare sudah melalui uji iritasi kulit (dermatologically tested), sebuah sinyal bahwa tim peneliti tidak puas dengan label "natural" semata, tetapi menuntut standar ilmiah. Ketika banyak merek hanya menjual narasi hijau, Lumare mencoba menyeimbangkan klaim alam dengan bukti uji.
Skincare Lokal sebagai Gerakan Ekonomi: Dari UGM ke Ruang Kelas Vokasi
Dampak inovasi garam pantai pada skincare lokal terasa lebih kuat jika dilihat bersama gerakan akademik lain di ranah body scrub alami. Di Bandar Lampung, tim dosen rekayasa kosmetik Institut Teknologi Sumatera mendampingi 30 siswa kelas XI Farmasi SMK Negeri 7 dalam pelatihan pembuatan body scrub herbal berbahan alam. Bahan utamanya kopi dan gula sebagai eksfoliator alami, diracik melalui proses lengkap dari penimbangan hingga pengemasan. Kegiatan ini secara terang bertujuan meningkatkan keterampilan produktif dan jiwa wirausaha siswa lewat produk perawatan tubuh sederhana namun bernilai jual. Di sini, eksfoliasi bahan alam bukan hanya isu estetika kulit, melainkan pintu masuk pendidikan vokasi yang kreatif dan berorientasi pada kemandirian siswa. Jika Lumare mewakili hilirisasi di level riset universitas, pelatihan ini menunjukkan bagaimana gagasan body scrub berbahan alam dapat diterjemahkan menjadi usaha kecil di tingkat sekolah.

Dari Riset ke Komersialisasi: Masa Depan Lulur Garam Pantai di Pasar Kecantikan
Pertanyaan pentingnya: apakah lulur mandi inovatif berbasis garam pantai bisa menembus pasar kecantikan yang sudah sesak? Tim UGM tampak menyadari tantangan itu dengan menggelar FGD riset pasar dan validasi produk, untuk mengkaji potensi pasar, strategi pengembangan, dan kesiapan sebelum hilirisasi serta komersialisasi. Di balik forum ini ada ambisi nyata: meningkatkan nilai tambah garam rakyat melalui diversifikasi produk bernilai ekonomi tinggi. Ini menempatkan Lumare bukan sebagai produk lucu-lucuan, melainkan prototipe model bisnis pesisir baru. Sementara itu, di Lampung, kegiatan pengabdian masyarakat didanai penuh oleh institusi teknologi dan diharapkan berlanjut untuk memperkuat pendidikan vokasi yang berorientasi kemandirian. Jika kedua arus ini bertemu—riset garam pantai kosmetik dan pelatihan wirausaha body scrub alami—pasar eksfoliasi bahan alam lokal berpeluang tumbuh bukan sebagai tren sesaat, tetapi sebagai ekosistem skincare lokal yang berkelanjutan.





