Lumare: Definisi Baru Lulur Garam Laut Berbasis Riset
Lulur garam laut Lumare adalah produk skincare berbasis sains yang menggabungkan garam pantai selatan berkualitas dengan bahan alami lain dalam formulasi kosmetik modern untuk eksfoliasi kulit, sekaligus dirancang sebagai solusi perawatan kulit alami yang ramah lingkungan dan memberi nilai tambah bagi petani garam lokal. Tim dari Pusat Studi Sumberdaya dan Teknologi Kelautan Universitas Gadjah Mada mengembangkan inovasi lulur mandi ini berbasis garam laut dan bahan alami. Inisiatif ini bukan sekadar proyek akademis; ini adalah pernyataan bahwa produk kosmetik lokal mampu berdiri di atas fondasi data, uji dermatologi, dan strategi hilirisasi yang serius. Dengan menamainya Lumare, Cahaya dari Laut, tim peneliti secara simbolik menggeser citra garam rakyat: dari komoditas murah menjadi bahan kunci skincare premium yang terukur manfaatnya.

Dari Komoditas Garam Rakyat ke Skincare Berbasis Sains
Inti inovasi Lumare adalah keberanian mengangkat garam rakyat pantai selatan ke ranah skincare berbasis sains, bukan sekadar memolesnya dengan label “alami”. Bahan utama lulur garam laut ini berasal dari garam pantai selatan yang dinilai bersih, alami, dan berpotensi menjadi bahan baku kosmetik premium. Garam berperan sebagai eksfolian untuk membantu mengangkat sel kulit mati dan kotoran dari permukaan kulit, menjadikan Lumare Salt Body Scrub sebagai produk perawatan kulit alami yang fungsinya jelas dan terukur. Produk ini telah melalui uji iritasi kulit (dermatologically tested) untuk memastikan keamanan penggunaan, sehingga istilah “ramah kulit” bukan sekadar jargon pemasaran. Di sinilah letak pembeda Lumare: sebuah lulur garam laut yang mengandalkan formulasi ilmiah, bukan mitos kecantikan.

Tradisi Lulur, Varian Kopi–Matcha, dan Klaim Manfaat
Lulur sudah lama menjadi bagian tradisi perawatan tubuh, tetapi Lumare mencoba menafsirkannya ulang dengan bahasa kosmetik kontemporer. Produk kosmetik lokal ini hadir dengan dua varian: Kopi yang diklaim untuk mengembalikan energi tubuh dan kesegaran kulit, serta Matcha yang ditawarkan untuk detoksifikasi total dan ketenangan jiwa. Klaim “dua kebaikan alam, satu solusi kulit berkilau khas Jogja” boleh jadi terdengar puitis, namun di baliknya ada riset pasar dan validasi produk melalui Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di lingkungan kampus. Di titik ini, tradisi lulur digandeng dengan ekspektasi konsumen modern: tekstur scrub yang pas, aroma yang menyenangkan, dan bukti ilmiah bahwa produk tidak mengiritasi kulit. Ini bukan romantisasi alam, tetapi upaya nyata mengemas warisan lokal menjadi inovasi kosmetik yang relevan.
Keberlanjutan: Bukan Sekadar Label Hijau di Kemasan
Lumare menyasar konsumen yang semakin peduli pada perawatan tubuh alami, aman, dan ramah lingkungan, tetapi tim penelitinya tidak berhenti pada klaim hijau di brosur. Inovasi ini dirancang untuk meningkatkan nilai tambah garam rakyat melalui produk kosmetik alami yang aman dan ramah lingkungan, sekaligus menjawab kebijakan hilirisasi garam nasional menjadi produk bernilai ekonomi tinggi melalui Perpres No. 17 Tahun 2025. Artinya, keberlanjutan di sini berarti dua hal: pemanfaatan sumber daya laut secara lebih bertanggung jawab dan peluang ekonomi yang lebih baik bagi petani garam pantai selatan. Apresiasi dari Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan yang menekankan pentingnya kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, pelaku usaha, dan petani garam menunjukkan bahwa Lumare diposisikan sebagai model ekosistem, bukan produk tunggal.
Penelitian Akademis sebagai Mesin Inovasi Kosmetik Lokal
Pengembangan Lumare memperlihatkan bahwa penelitian akademis mampu menjadi jembatan kuat antara tradisi perawatan lokal dan teknologi kosmetik kontemporer. FGD riset pasar dan validasi produk yang diselenggarakan tim peneliti menjadi bagian dari rangkaian penelitian inovasi berbasis garam lokal, untuk menggali potensi pasar, strategi pengembangan, serta validasi sebelum tahap hilirisasi dan komersialisasi. Diskusi itu menemukan bahwa produk perawatan tubuh, terutama lulur, masih memiliki peluang pasar besar, namun kesadaran masyarakat terhadap lulur garam laut masih terbatas sehingga perlu edukasi dan penguatan identitas produk. Di sinilah posisi Lumare sebagai inovasi kosmetik Indonesia: ia mengajarkan bahwa produk kosmetik lokal tidak cukup “unik”; ia harus teruji, relevan, dan lahir dari percakapan serius antara laboratorium, pasar, dan komunitas. Jika pola seperti ini konsisten, Lumare bisa menjadi preseden penting bagi generasi baru skincare berbasis sains dari laut.






