Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

28 Jurnalis Kompeten Usai UKW dengan Pembekalan AI

28 Jurnalis Kompeten Usai UKW dengan Pembekalan AI
Minat|Tips Praktis AI

UKW mengukur kemampuan, bukan sekadar kelulusan

Uji Kompetensi Wartawan (UKW) adalah penilaian terstruktur untuk memastikan jurnalis memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran tanggung jawab yang dibutuhkan dalam menjalankan profesinya secara profesional di tengah perubahan kerja media. Pada 23–24 Oktober 2026, sebanyak 28 jurnalis dari media siber dan televisi mengikuti UKW di Bandung, yang diselenggarakan Lembaga Uji Kompetensi Wartawan Kompas, KG Media, dan Google News Initiative. Peserta terdiri atas 11 jurnalis jenjang Muda, 12 Madya, dan 5 Utama; seluruhnya dinyatakan kompeten sesuai jenjang masing-masing. Capaian ini penting, tetapi maknanya bukan sekadar angka kelulusan. Uji kompetensi wartawan memberi tolok ukur atas kemampuan menjalankan profesi, sementara pembekalan teknologi menunjukkan bahwa standar itu harus berkembang mengikuti cara kerja redaksi. Jurnalis modern perlu cakap menggunakan alat baru tanpa kehilangan penilaian editorialnya.

AI membantu proses, tetapi tak boleh menggantikan verifikasi

Pelatihan AI jurnalis dalam rangkaian UKW ini memberi peserta pembekalan pemanfaatan kecerdasan buatan sebagai alat bantu produksi karya jurnalistik, sebelum dan selama ujian berlangsung. Kegunaan yang disebut mencakup riset, perencanaan liputan, pengolahan informasi, dan produksi konten. Itu adalah ruang kerja yang tepat untuk menguji manfaat teknologi jurnalistik modern: mengurangi pekerjaan berulang dan membantu reporter menata bahan, bukan menetapkan sendiri apa yang benar. Peserta Raymond Suryadi mengatakan bahwa AI dapat membantu wartawan mulai dari riset dan perencanaan liputan hingga pembuatan konten. Namun, kecepatan bukan ukuran mutu berita. Jurnalis tetap harus memeriksa informasi, menguji sumber, menjaga independensi, dan bertanggung jawab atas hasil akhir. Jika keluaran AI dianggap sebagai fakta tanpa pemeriksaan, alat yang seharusnya membantu justru memperbesar risiko kesalahan. Prinsip editorial harus mengarahkan penggunaan teknologi, bukan sebaliknya.

Kompetensi harus terus diperbarui

Kolaborasi penyelenggara dan keterlibatan penguji dari LUKW Kompas, Pikiran Rakyat, serta Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi dapat menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya urusan satu perusahaan media. Pendekatan itu patut dipertahankan karena pembaca membutuhkan berita yang berkualitas dan dapat dipercaya, terutama saat pola konsumsi informasi dan teknologi terus berubah. Namun, pelatihan singkat tidak otomatis menjamin penggunaan AI yang aman di setiap ruang redaksi; perusahaan media perlu memastikan ada aturan jelas tentang pemeriksaan fakta dan tanggung jawab atas konten. Koordinator penguji Laksono Hari Wiwoho mengingatkan bahwa kelulusan bukan akhir perjalanan, dan peserta dapat meningkatkan kemampuan serta mengikuti uji pada jenjang berikutnya. Itulah kesimpulan yang paling berguna: kompetensi bukan gelar yang selesai diraih, melainkan kebiasaan belajar. AI layak menjadi bagian dari bekal jurnalis selama akurasi, verifikasi, dan tanggung jawab manusia tetap menjadi batasnya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!