AI untuk guru: dari wacana jadi alat kerja sehari-hari
AI untuk guru adalah pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan, seperti Gemini Academy dan ChatGPT, untuk merancang, menjalankan, dan mengevaluasi proses belajar-mengajar secara lebih interaktif, terukur, dan personal tanpa selalu bergantung pada kemampuan coding atau dukungan teknis khusus. Dalam beberapa tahun terakhir, AI untuk guru sering dibicarakan sebagai tren, tetapi dua contoh terbaru menunjukkan bahwa tren ini sudah berubah menjadi praktik nyata: guru dan dosen mulai menciptakan aplikasi pembelajaran digital mereka sendiri, bukan sekadar menjadi pengguna pasif. Di satu sisi, ada Gemini Academy pendidikan yang membekali pendidik dengan keterampilan membuat aplikasi evaluasi; di sisi lain, ada workshop AI yang menyasar komunitas non-IT. Pesannya jelas: AI bukan lagi milik programmer, melainkan alat kerja baru bagi siapa pun yang mau belajar.
UTS digital SMKN 1 Bulukumba: inovasi lahir dari dilema aturan
Kasus SMK Negeri 1 Bulukumba menunjukkan bagaimana kebijakan ketat bisa menjadi pemicu inovasi, bukan alasan untuk menolak teknologi. Sekolah melarang siswa membawa gawai ke kelas, sementara Ujian Tengah Semester harus berbasis aplikasi digital. Alih-alih mundur ke kertas, guru PAI dan Budi Pekerti, Dr. Ramliati, menciptakan aplikasi pembelajaran digital berupa web interaktif untuk UTS Ganjil Tahun Pelajaran 2026/2027. Berbekal pelatihan Gemini Academy pendidikan, ia menyusun sistem evaluasi modern dengan 50 soal pilihan ganda yang mencakup Al-Qur'an dan Hadis, Akidah, hingga Akhlak Digital. Ujian dipindah ke rumah, pukul 20.00 WITA, dengan presensi digital dan pengawasan orang tua, sehingga disiplin tetap terjaga sekaligus memberi ruang bagi transformasi digital yang lebih jujur dan terkontrol.
Gemini Academy: bukti AI bisa dikuasai guru tanpa latar IT
Kisah Dr. Ramliati mematahkan anggapan bahwa AI untuk guru hanya bisa diakses mereka yang mahir teknologi. Aplikasi UTS yang ia buat adalah karya mandiri, lahir dari pelatihan Gemini Academy, sebuah program intensif yang membekali pendidik dengan pemanfaatan teknologi AI dan perangkat digital untuk transformasi pembelajaran. Tanpa perlu menjadi programmer, ia merancang platform canggih yang mengintegrasikan daftar kelas, jurusan, dan nama siswa, lengkap dengan presensi digital dan bank soal terstruktur. Pilihan waktu malam hari bukan sekadar teknis; itu strategi pedagogis: siswa punya waktu istirahat, orang tua bisa mendampingi, dan sekolah tetap menjaga aturan tanpa mengorbankan digitalisasi. Ini contoh konkret bagaimana pelatihan AI memungkinkan pendidik menciptakan solusi pembelajaran sendiri dengan teknologi generatif, bukan hanya mengandalkan produk jadi dari luar.
Workshop ChatGPT UBSI: AI keluar dari kampus IT ke komunitas olahraga
Jika di Bulukumba AI dipakai untuk ujian, di Yogyakarta AI dipakai untuk menguatkan komunikasi organisasi olahraga. Universitas Bina Sarana Informatika Kampus Yogyakarta menyelenggarakan workshop media sosial berbasis ChatGPT dan AI bagi pengurus daerah Taekwondo Daerah Istimewa Yogyakarta pada 17 Oktober 2026. Pesertanya bukan mahasiswa IT, melainkan divisi humas pengurus kabupaten dan kota, yang sehari-hari mengurus publikasi kegiatan Taekwondo. Tujuannya jelas: meningkatkan kapasitas mereka dalam memanfaatkan teknologi digital, khususnya ChatGPT, untuk pengelolaan media sosial, pembuatan konten kreatif, dan penyebaran informasi organisasi secara efektif dan menarik. Materi disusun praktis: teknik prompting, pencarian ide konten, penyusunan caption, penggunaan hashtag, hingga pembuatan poster dan video dengan bantuan AI dan Canva Pro. AI di sini bukan teori, melainkan alat kerja humas.

Demokratisasi AI: dari kelas ke komunitas, apa langkah berikutnya?
Dua inisiatif ini menunjukkan pola yang sama: AI tools seperti Gemini dan ChatGPT mulai terdistrubusi ke tangan guru, dosen, dan pengurus komunitas. Di SMKN 1 Bulukumba, kreativitas guru lulusan Gemini Academy melahirkan ekosistem ujian yang jujur, efektif, dan melek teknologi. Di Yogyakarta, workshop AI di UBSI diharapkan membuat pengurus humas Taekwondo mampu menghasilkan konten media sosial yang lebih kreatif, informatif, konsisten, dan menarik. Kerja sama antara kampus dan organisasi olahraga dirancang sebagai kolaborasi berkelanjutan di bidang edukasi, teknologi informasi, peningkatan kompetensi SDM, dan penguatan publikasi digital. Kolaborasi ini disebut sebagai langkah awal untuk berbagai program bersama yang memberi manfaat nyata bagi organisasi, masyarakat, dan pengembangan olahraga Taekwondo. Pertanyaannya bukan lagi apakah pendidik perlu AI, tetapi apakah mereka siap memimpin desain solusi digital mereka sendiri.






