Pertahanan maritim modern: lebih dari sekadar menambah kapal selam
Pertahanan maritim modern adalah kemampuan menyusun, mengoperasikan, dan mengintegrasikan seluruh aset laut—dari kapal selam, kapal permukaan, pesawat patroli, hingga jaringan sensor dan data—ke dalam sebuah sistem komando yang mampu mendeteksi, mengawasi, dan merespons ancaman di permukaan dan bawah laut secara terukur dan berkelanjutan. Dalam konteks ini, perdebatan tentang kapal selam modernisasi seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan berapa unit yang dibeli, tetapi apa yang ingin dicapai dan bagaimana ekosistem pendukungnya disiapkan. Kapal selam baru memang menambah daya gigit armada, tetapi tanpa kemampuan deteksi bawah laut yang menyeluruh, pertahanan maritim Indonesia tetap menyisakan celah strategis yang berbahaya.
Seminar Hiu Kencana: sinyal bahwa lautan dalam jadi prioritas
Pergeseran orientasi pertahanan maritim Indonesia ke dimensi bawah laut tampak jelas dalam Seminar Nasional Hiu Kencana yang digelar oleh lembaga pendidikan staf Angkatan Laut bersama komunitas Hiu Kencana di Jakarta Selatan pada 9 September 2026. Di forum ini, Kepala Staf Angkatan Laut menegaskan bahwa pembangunan kekuatan bawah air adalah pilar utama maritime deterrence untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. Ini bukan sekadar proyek pengadaan kapal selam, melainkan investasi strategis jangka panjang yang harus terintegrasi dengan operasi multidomain dan sistem pengawasan maritim dari permukaan hingga dasar laut. Artinya, Angkatan Laut strategi yang diusung bukan lagi pendekatan parsial, tetapi desain menyeluruh: kapal, sensor, jaringan komunikasi, hingga pusat komando yang mampu membaca dan mengendalikan ruang maritim secara real time.
Kapal selam tanpa mata: kritik terhadap modernisasi yang timpang
Diskusi publik tentang rencana akuisisi kapal selam dan sistem deteksi bawah air yang diselenggarakan oleh sebuah lembaga konsultasi pada 7 September 2026 menegaskan satu pesan tegas: kapal selam saja tidak cukup. Kapal selam baru memang menambah kekuatan armada, tetapi tanpa kemampuan mendeteksi aktivitas di bawah laut, modernisasi pertahanan maritim Indonesia masih menyisakan pekerjaan besar. Dalam pengawasan bawah laut, salah satu narasumber mengusulkan pemasangan perangkat deteksi tetap di empat chokepoint pelayaran strategis dan tiga Alur Laut Kepulauan Indonesia, agar pengawasan tidak hanya bertumpu pada sonar di kapal yang bergerak. Saat ini, kemampuan deteksi bawah laut masih didominasi oleh sonar di kapal fregat, sementara jaringan sensor tetap belum tersedia. Hasilnya, maritime deterrence kita tampak tajam di brosur, tetapi tumpul di medan operasi.
Deteksi bawah laut: jantung pertahanan dan basis maritime deterrence
Jika kapal selam adalah pedang, maka deteksi bawah laut adalah mata yang menentukan ke mana pedang itu diayunkan. Tanpa pemahaman rinci tentang lingkungan laut—mulai dari kedalaman, suhu, salinitas, hingga kepadatan air—operasi kapal selam dan peperangan antikapal selam akan selalu meraba-raba. Salah satu ahli pertahanan dalam diskusi itu mengingatkan, perairan di bagian barat cenderung dangkal, sedangkan bagian timur lebih dalam dengan karakteristik fisik yang berbeda, sehingga pembaruan data lingkungan laut melalui survei membutuhkan dukungan anggaran yang serius. Ia juga menyoroti tawaran asistensi industri asing untuk pembangunan sistem deteksi bawah air yang mencakup wahana bawah air tanpa awak, hidrofon, sonar pasif, dan pusat komando. Ini membuka peluang, tetapi juga menjadi ujian: apakah kita hanya menjadi pengguna, atau menjadikan proyek ini batu loncatan bagi kemandirian teknologi pertahanan maritim Indonesia.
Ekosistem riset dan SDM: syarat utama pertahanan maritim yang matang
Kepala Staf Angkatan Laut menegaskan bahwa pembangunan kekuatan bawah air tidak bisa dilakukan secara parsial; ia membutuhkan ekosistem yang solid dan kolaborasi erat antara Angkatan Laut, industri pertahanan, dan akademisi untuk menghasilkan roadmap konkret serta rekomendasi kebijakan yang dapat dijalankan. Komandan lembaga pendidikan staf Angkatan Laut menambahkan, pengembangan kapal selam dan teknologi bawah air harus berbasis pada kebutuhan pertahanan yang nyata dan didukung inovasi sumber daya manusia unggul. Fokus seminar Hiu Kencana adalah membangun ekosistem riset, inovasi teknologi, serta penguatan SDM untuk mendukung pertahanan maritim nasional di tengah dinamika geopolitik kawasan. Kesimpulannya, strategi Angkatan Laut yang hanya berorientasi pada pengadaan platform besar tanpa konsolidasi riset, teknologi, dan SDM akan menghasilkan kekuatan yang mahal tetapi tidak efektif. Yang dibutuhkan kini adalah keberanian politik dan konsistensi kebijakan untuk menjadikan laut bukan sekadar halaman belakang, melainkan pusat desain pertahanan.





