Zonasi Wisata Vulkanik: Bukan Sekadar Garis di Peta
Zona wisata vulkanik adalah penataan ruang di kawasan gunung api aktif yang membagi tegas area aman bagi wisatawan, area kerja masyarakat lokal, dan area lindung ekosistem, agar aktivitas kunjungan, pemanfaatan sumber daya, dan keselamatan berlangsung seimbang tanpa saling merusak satu sama lain. Di Kawah Ijen, keputusan menata ulang kawasan blue fire adalah pengakuan bahwa pariwisata yang dibiarkan liar akan menggerus urat nadi ekonomi penambang belerang dan merusak tatanan alam yang membuat kawasan ini begitu memesona. Pemerintah provinsi melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bersama BKSDA kini menyiapkan tata kelola baru berbasis ecotourism belerang sebagai langkah koreksi arah yang terlambat, tetapi sangat penting.
Zona Khusus Blue Fire: Menyelamatkan Belerang dan Pekerja
Inti kebijakan terbaru di Ijen adalah penetapan zona khusus wisatawan yang dipisahkan tegas dari kawasan kerja penambang tradisional. Skema ini tidak sekadar mengatur arus pengunjung, tetapi melindungi deposit belerang yang menjadi sumber penghasilan harian penambang sekaligus menjaga keselamatan Ijen sebagai destinasi vulkanik aman. Selama ini, fenomena blue fire tumbuh tanpa kendali, mendorong perilaku eksploitatif demi foto dramatis di media sosial. Kepala dinas pariwisata menegaskan bahwa bila api biru terus dinyalakan sembarangan, belerang bisa habis sementara kedua ikon—blue fire dan penambang—sama-sama penting bagi citra kawasan. Di sinilah zonasi wisata vulkanik menunjukkan fungsinya: memberi ruang aman menikmati keajaiban alam tanpa mengorbankan sumber nafkah dan keberlanjutan ekosistem.
Mengendalikan Api: Ecotourism Belerang vs Biro Perjalanan Nakal
Masalah utama di Kawah Ijen bukan hanya kerumunan wisatawan, tetapi praktik sejumlah oknum biro perjalanan yang menyalakan api sembarangan untuk menghasilkan blue fire instan bagi klien mereka. Tindakan ini mempercepat penggerusan belerang, mengancam keselamatan pengunjung dan penambang, sekaligus mengganggu ekosistem kawah aktif. Konsep ecotourism belerang yang disiapkan pemerintah membalik kendali ini: fenomena blue fire hanya boleh dinyalakan di spot khusus wisatawan, dikelola warga lokal yang diberi tugas menyalakan api secara aman dan teratur. Oknum biro perjalanan tidak lagi bebas menyalakan api di sembarang titik demi permintaan wisatawan. Regulasi semacam ini—larangan menyalakan api sembarangan dan penegasan protokol keamanan—bukan penghalang wisata, melainkan syarat agar destinasi vulkanik aman bisa bertahan lebih lama.
Dampak Nyata bagi Wisatawan dan Warga Lokal
Bagi wisatawan, zonasi baru mungkin terasa sebagai pembatasan ruang gerak. Namun secara praktis, mereka tetap dapat menikmati fenomena blue fire dari spot khusus tanpa mengganggu aktivitas penambangan maupun merusak ekosistem kawasan. Jalur yang lebih jelas dan pengelolaan api yang teratur justru meningkatkan keselamatan Ijen sebagai tujuan pendakian malam hari. Bagi warga lokal, keterlibatan mereka dalam pengelolaan spot blue fire adalah pintu menuju sumber manfaat ekonomi baru di luar pekerjaan tambang yang berat. Penataan ini juga menjadi alat menertibkan praktik perjalanan wisata yang selama ini merusak tata ruang dan menciptakan ketegangan di lapangan. Jika dijalankan konsisten, ecotourism belerang bisa mengubah relasi kuasa: dari wisata yang didikte agen, menjadi wisata yang dikendalikan komunitas.
Ke Depan: Ujian Konsistensi Regulasi Kawasan Vulkanik
Rencana zonasi Ijen saat ini masih berada dalam tahap kajian BKSDA sebelum diajukan ke pemerintah pusat untuk memperoleh persetujuan dan perizinan resmi. Setelah dokumen kajian dan izin pusat dinyatakan tuntas, pemerintah provinsi berencana mulai masuk pada intervensi pembangunan infrastruktur pendukung. Di atas kertas, arah kebijakan ini sudah tepat: menjadikan Ijen sebagai model destinasi vulkanik aman yang tidak mengorbankan ekosistem maupun mata pencaharian penambang. Tantangannya ada pada tiga hal: ketegasan penegakan larangan menyalakan api di luar zona, konsistensi edukasi wisatawan, dan keberanian menindak biro perjalanan yang melanggar. Zonasi wisata vulkanik hanya akan bermakna jika garis di peta berubah menjadi disiplin bersama di lapangan. Kalau tidak, kita sekadar menamai ulang risiko, bukan menguranginya.






