Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Perceraian dan Pasangan Baru: Menjaga Anak Tetap Merasa Aman

Perceraian dan Pasangan Baru: Menjaga Anak Tetap Merasa Aman
Minat|Pengetahuan Parenting

Jelaskan perubahan keluarga dengan jujur dan sesuai usia

Anak menghadapi perceraian ketika perubahan hubungan orangtuanya mengubah keseharian, rutinitas, atau tempat tinggalnya; dukungan dan penjelasan yang sesuai usia membantunya memahami bahwa ia tetap dicintai dan tidak sendirian. Bagi anak, orangtua bercerai bisa berarti banyak pertanyaan, terutama saat ia membandingkan keluarganya dengan teman-teman yang masih mendapat perhatian dari kedua orangtua. Jangan menganggap diam sebagai tanda bahwa ia sudah mengerti. Tanyakan apa yang ia pikirkan, dengarkan tanpa buru-buru membantah, lalu jelaskan dengan bahasa sederhana bahwa perpisahan bukan kesalahannya. Dr. Heru Mugiarso, Kons., konselor sekaligus purnabakti dosen PPK dan BK Universitas Negeri Semarang, menekankan pentingnya memberi tahu anak bahwa ada orang lain yang mengalami keadaan serupa; penjelasan tetap perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuannya memahami situasi. Ini bukan alasan untuk mengecilkan kesedihannya, melainkan cara agar ia tidak merasa sendirian.

Jangan menjanjikan bahwa semua akan kembali seperti semula. Lebih membantu jika orangtua menjelaskan hal yang pasti—misalnya siapa yang menjemput atau kapan ia bertemu ayah dan ibu—dan memberi ruang bagi perasaan yang belum terjawab.

Sepakati batasan sebelum pasangan baru terlibat

Kehadiran pasangan baru mantan dapat memunculkan kekhawatiran, terutama ketika orang itu mulai ikut mengasuh anak atau tinggal serumah. Menghindari pembicaraan bukan perlindungan; batasan yang disepakati lebih dulu membuat kebutuhan anak menjadi pusat keputusan. Ada tujuh hal yang patut dibicarakan: kapan dan bagaimana perkenalan dilakukan, penegasan bahwa pasangan baru bukan pengganti ayah atau ibu, peran dalam disiplin dan pengasuhan, waktu berkualitas bersama orangtua kandung, larangan menjadikan anak perantara, privasi serta kenyamanan fisik, dan cara menangani konflik maupun perubahan keluarga. Perkenalkan pasangan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan anak. Jangan menuntutnya langsung akrab atau memakai panggilan ayah maupun ibu. Anak tidak seharusnya merasa harus memilih antara orangtua kandung dan pasangan mereka.

Bicarakan aturan sehari-hari, termasuk pendidikan, kesehatan, disiplin, dan penggunaan gawai. Pasangan baru mungkin membantu dalam rutinitas, tetapi orangtua kandung perlu menentukan keputusan penting bersama. Jaga pula jadwal kunjungan dan waktu khusus anak dengan masing-masing orangtua; perubahan mendadak dapat membuatnya merasa tersisih. Batasan bukan tuduhan terhadap pasangan baru, melainkan kesepakatan agar peran dan harapan setiap orang jelas.

Perceraian dan Pasangan Baru: Menjaga Anak Tetap Merasa Aman

Jangan jadikan anak pembawa pesan atau penengah

Konflik lama dan urusan pribadi mantan harus dibicarakan langsung antardewasa, bukan melalui anak. Jangan memintanya menyampaikan pesan, mencari tahu kehidupan mantan, atau merahasiakan informasi. Cara itu menempatkan anak dalam kesetiaan yang terbagi dan merusak rasa aman anak. Jika ia bercerita tentang pasangan baru, dengarkan dengan tenang. Hindari menjelek-jelekkan orang tersebut atau membuat anak merasa bersalah karena menikmati waktu bersama mereka. Anak juga berhak memiliki ruang pribadi, tidak dipaksa menerima sentuhan yang tidak diinginkan, dan didengar ketika menyatakan tidak nyaman. Sepakati pula batasan tentang foto anak di media sosial. Bila ia mengungkapkan ketakutan atau pengalaman yang membuatnya merasa tidak aman, tanggapi dengan serius dan utamakan perlindungannya.

Tidak semua mantan mudah diajak berkomunikasi. Jika percakapan langsung sulit, gunakan pesan tertulis yang singkat dan berfokus pada kebutuhan anak, seperti jadwal kunjungan, kesehatan, atau sekolah. Hindari membawa pertengkaran hubungan lama ke dalam komunikasi pengasuhan. Bila tekanan emosional terus mengganggu kesehariannya, pertimbangkan meminta bantuan psikolog anak.

Perceraian dan Pasangan Baru: Menjaga Anak Tetap Merasa Aman

Utamakan kepastian bahwa anak tetap dicintai

Perpisahan mengubah bentuk keluarga, tetapi tidak menghapus tanggung jawab orangtua. Anak tidak perlu menyukai pasangan baru mantan seketika, dan tidak boleh dipaksa memilih pihak. Katakan dengan konsisten bahwa kasih sayang serta tempatnya dalam kehidupan ayah dan ibu tidak bergantung pada hubungan baru mereka. Saat perubahan besar terjadi, beri anak waktu untuk bertanya, bereaksi, dan menyesuaikan diri; jangan menuntut penerimaan cepat hanya agar orang dewasa merasa nyaman. Orangtua mungkin tidak selalu sepakat, tetapi mereka tetap dapat memilih untuk tidak menjadikan anak saksi atau alat dalam konflik. Pada akhirnya, penjelasan yang jujur, rutinitas yang dapat diandalkan, batasan yang dihormati, dan komunikasi antardewasa yang bertanggung jawab adalah bentuk perlindungan yang paling nyata. Anak akan lebih mudah menghadapi perubahan ketika ia tahu bahwa orangtuanya tetap hadir.

Perceraian dan Pasangan Baru: Menjaga Anak Tetap Merasa Aman

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!