Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Pesan Terakhir Maestro: Komitmen Guruh Soekarnoputra pada Seni dan Perempuan

Pesan Terakhir Maestro: Komitmen Guruh Soekarnoputra pada Seni dan Perempuan
Minat|Maestro Klasik

Makna Pesan Terakhir Maestro di Ujung Napas

Pesan terakhir maestro adalah rangkaian kata, sikap, atau rencana yang diutarakan seorang tokoh menjelang akhir hidupnya, yang mencerminkan nilai terdalam, kegelisahan batin, dan komitmen yang masih ingin ia perjuangkan, sehingga menjadi penanda arah bagi orang-orang yang ditinggalkan untuk meneruskan perjuangan tersebut dalam bentuk karya, sikap, dan keputusan budaya yang konkret. Kepergian Guruh Soekarnoputra meninggal di usia 73 tahun di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi Jakarta bukan hanya berita duka, tetapi juga penutup sebuah bab penting dalam warisan seni Indonesia. Namun, bab itu tidak berakhir dengan keheningan; ia ditutup dengan sebuah bisikan kepada Soraya Haque yang mengandung aspirasi jelas: seni panggungnya boleh selesai, tetapi percakapan tentang perempuan dan identitas budaya tidak boleh berhenti.

Pertemuan Terakhir: Bisikan Tentang Perempuan dan Konde

Momen ketika Guruh Soekarnoputra meninggal membuat publik kembali menengok pertemuan fisik terakhirnya dengan Soraya Haque pada 27 Agustus. Di panggung peresmian paduan suara Swara Maharddhika, sang maestro memeluk Soraya dan menyampaikan rencana yang ingin diwujudkan: sebuah diskusi serius tentang perempuan Indonesia dan konde yang semakin ditinggalkan. Dalam unggahan Soraya, ia mengutip bisikan Guruh, “Terima kasih, Aya kalau sudah tidak sibuk saya mau diskusi sama kamu tentang perempuan Indonesia dan konde (yang mulai ditinggalkan). Kapan kita bisa seperti perempuan Jepang dengan kimononya?” Ini bukan keluhan nostalgia, melainkan ajakan untuk merumuskan kembali identitas perempuan lewat busana tradisional. Pesan terakhir maestro di sini jelas: modernitas tak boleh memutus akar, terutama bagi perempuan yang kerap dijadikan etalase budaya tanpa diberi ruang menentukan maknanya sendiri.

Soraya Haque: Murid, Rekan, dan Cermin Warisan Seni

Hubungan Soraya Haque mentor dan Guruh dibangun jauh sebelum kabar Guruh Soekarnoputra meninggal menyebar. Cerita dimulai dari pertemuan Fatmawati Soekarno dengan orang tua Soraya di pesawat menuju ibadah haji pada 1978, yang berujung pada ajakan agar Soraya dan Marissa bergabung dengan Swara Maharddhika. Dari sana, Guruh bukan sekadar koreografer atau pencipta lagu; ia menjadi penggempur karakter. Soraya mengenang bagaimana ia dan rekan-rekannya ditempa dalam disiplin, kecintaan pada warisan seni Indonesia, dan standar estetika panggung yang tinggi. Dalam refleksinya, Soraya menulis, “Ini kehebatan Guruh Soekarno sebagai pemimpin, pelatih sekaligus mentor para anak-anak muda.” Artinya, pesan terakhir maestro tidak datang tiba-tiba di ujung hayat, melainkan konsisten dengan puluhan tahun praktik pendidikan seni yang menekankan mental memimpin dan berani berbeda.

Warisan Seni Indonesia: Dari Panggung ke Cara Pandang

Jika kita membicarakan warisan seni Indonesia dari sosok Guruh, yang tampak bukan hanya tari, musik, dan pertunjukan megah, tetapi cara memandang budaya sebagai ruang pembentukan karakter. Di Swara Maharddhika, generasi muda dilatih mencintai Nusantara bukan lewat slogan, melainkan lewat kerja keras latihan, riset kostum, hingga detail koreografi. Nasihat Guruh yang diingat Soraya—bahwa suatu saat setiap orang bisa memimpin dan berbeda di bidangnya—sejalan dengan bisikan terakhir tentang perempuan dan konde: budaya tidak boleh berhenti pada simbol, ia harus menumbuhkan keberanian untuk memimpin tafsir baru. Warisan ini kini berpindah tangan ke para murid dan sesama seniman. Mereka memegang bukan hanya repertori tari, tetapi juga mandat etik: menghidupkan tradisi tanpa mengurung perempuan, menjadikan kostum tradisional bukan beban masa lalu, melainkan pilihan sadar yang dibanggakan.

Pesan Terakhir Maestro sebagai Agenda Kultural Masa Depan

Apa yang membuat pesan terakhir maestro Guruh begitu penting? Karena ia menjahit tiga benang besar: kegelisahan atas identitas perempuan, keprihatinan atas tradisi yang ditinggalkan, dan keyakinan bahwa seni adalah ruang pendidikan sosial. Bisikan kepada Soraya Haque mengandung pertanyaan tajam: mengapa perempuan di sini tidak punya relasi sekuat perempuan Jepang dengan kimononya terhadap busana tradisional mereka sendiri? Pertanyaan itu adalah ajakan kerja, bukan romantisasi. Kematian Guruh Soekarnoputra meninggal di rumah sakit di Semanggi menjadikan kita kehilangan sosok, tetapi agendanya tetap hidup. Tugas murid, sahabat, dan penikmat karya adalah mengubah pesan itu menjadi gerakan: diskusi nyata tentang busana dan identitas, program seni yang memberi ruang pada perempuan sebagai subjek budaya, dan pembacaan baru atas warisan seni Indonesia yang ia tinggalkan di panggung dan di ingatan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!